Lelaki Ambang Batas

“Sejak awal bukankah aku sudah berkata bahwa aku akan solo?”

“Tapi bukankah aku sudah memohon padamu untuk menemaniku? Kau kira ada orang lain lagi yang aku inginkan untuk menemani perjalanan perdanaku di Semeru?”

“Iya tapi..” untaian kalimatnya terhenti seketika olehku.

“Kau lebih mengutamakan amarahmu. Kau sudah berkali-kali melenakan diri di Arcopodo. Sedangkan aku, aku bahkan tak pernah melihat Ranukumbolo dan kabut tipisnya. Tak pernah sekalipun.”

“Kemudian apa? Apa kau ingin ikut denganku ke Pulau Jawa, hah? Aku ingin sampai di Arcopodo paling lambat pada tanggal 2 Maret. Mungkin akan turun lagi pada 3 Maretnya. Kalau kau ingin mengekor, cepatlah. Aku akan membelikan tiket yang sama denganku. Kemasi barangmu. Aku hanya akan menunggu hingga pukul 7 esok petang. Kalau kau tak datang, aku akan merobek tiketmu saat itu juga.” Aku dapat merasakan banyak hal yang mondar mandir atau bahkan meledak-ledak di kepalanya. Ia tak pernah memerintah dengan seketika dan memaksa seperti ini.

Aku hanya bisa diam. Tanganku berpegangan pada pagar rumah. Syukurlah Ibu membuatnya tidak tajam di bagian atas. Kalau tidak, mungkin tanganku sudah terluka karena terlalu kuat berpegangan di ujungnya. Pertanyaan yang berderet-deret muncul difikiranku untuk menyanggah Rama menjadi buram tak terbaca. Aku masih ingat, ia mengatakan itu ketika matahari tepat berada di ubun-ubun. Ia seperti lepas kontrol. Ia baru saja usai melakukan percakapan pertamanya dengan orangtuaku. Aku kan mengingat jelas hari ini. 24 Februari 2009.

~~~

23 April 2004, 20.09 WIB, Cibodas

Angin dingin menelusup perlahan ke dalam kulit. Menusuk begitu dalam hingga sum-sum. Begitu dingin. Bulu kuduk di punggung seperti berdiri. Suhu ekstrim ini belum pernah mengelus kulitku sebelumnya. Gunung Gede. Ini kali pertamaku bermalam di triangulasi tertinggi pasak bumi. Ya. Ini malam pertamaku di atas puncak Gunung Gede.

Masih terekam jelas di sel dendrite otakku kejadian beberapa saat lalu. Petir tak henti menyambar. Ia berteriak senyaring mungkin. Menggelegar ke seluruh penjuru Kabupaten Cianjur. Kabut semakin pekat. Tak puas hanya menutupi pandangan kami, masing-masing orang juga ia selimuti dengan kabutnya yang tebal tak tersentuh. Bahkan kacamataku tak ada artinya di sini.

Sambutan apakah gerangan ini? Tubuh kawan-kawan yang di depan dan di belakang hanya nampak samar. Satu-satunya cara adalah berpegangan tangan satu sama lain dan bedoa tiada henti. Kami yang kesemuanya berjumlah delapan orang tetap seperti itu beberapa waktu hingga kabut tebal dan guyuran hujan mulai mereda. Ketika hujan sudah mereda, kabut memang masih berkejaran. Namun, begitu tipis. Fiuhh..syukurlah itu semua sudah berhasil dilewati. Subhanallah..betapa mengerikannya terjangan angin dan kabuut pekat itu!

Kami mendirikan tenda beberapa meter dari tiang triangulasi 3019 mdpl milik Gunung Gede. Kumandang adzan menyambut kami beberapa saat kemudian. Aku sudah membayangkan pagi besok cuaca akan cerah. Sehingga aku dapat melihat langit biru dan guratan garis tipis yang memanjang di atas Pantai Selatan yang hanya kudengar ceritanya. Juga padang bunga edelweiss terluas di Indonesia, Surya Kencana. Itu dapat kulihat sekaligus hanya dengan memutar tubuh ke arah selatan dari Puncak Gunung Gede. Gunung yang berseberangan dengan Gunung Pangrango. Tempat dimana Soe Hok Gie banyak menghabiskan waktunya. Aku, juga sudah menginjakkan kaki di tempat yang sama dengan Gie beberapa jam yang lalu. Pangrango. Untuk pertama kalinya. Dan tanpa restu kedua orang tua.

Uap kopi tak dapat bebas menari karena cepat di sapu oleh angin dingin. Sekarang sudah tidak hujan lagi. Tenda ini terlihat penuh oleh barang-barang. Terasa begitu beku dan kaku. Kini di luar tinggal gerimis dan sketsa samar rembulan yang masih malu-malu untuk menampakkan diri. Kawan-kawan yang lain sibuk dengan urusannya. Kami baru saja selesai makan malam. Ada yang bersiap tidur, ada yang bercakap-cakap, ada yang membereskan barang ke dalam carriel, ada yang membuat kopi, dan aku sendiri, sedang mengutak-atik kamera. Tim dalam perjalanan itu adalah 4 orang remaja putri dari Kalimantan, seorang mahasiswi dari Padang, seorang penggiat alam putri dari Surabaya, dan 2 orang ranger. Yang terakhir disebutkan adalah lelaki. Leader kami.

“Hei, kacamata.. Apa kau tidak ingin melihat Bandung dan Jakarta saat terlihat elok, eksotik, dan cantik?” seseorang dengan suara tenor yang berjongkok di luar tenda melongok ke dalam.

“Kau memujiku?” segera aku mendengar ia tertawa dan dengan konyolnya menjawab dengan samar, “as you wish..”

Oh.. Inikah kesempatan untukku melihat panorama Ibukota dengan cara dan ketinggian berbeda? Kau masih dicintai banyak orang dengan kemilaumu. Namun, dibalik itu, kau juga memiliki musuh yang begitu membencimu..” gumamku setelah mendengar ajakan itu. Leher jaket lebih kunaikkan. Dinginnya udara puncak Gunung Gede membuatku mengusap-usap lengan berkali-kali. Dingin. Aku menatap Rama yang menjulurkan tangannya padaku. Setelah berpandangan dan mengerjapkan mata beberapa kali, tanganku terulur padanya yang kemudian membawaku keluar dari tenda.

Pemilik suara tenor itu adalah salah seorang dari ranger kami dalam perjalanan ini. Pendakian kami ini di back up oleh dua orang ranger yang sebelumnya adalah pelatih pada kegiatan pertahanan hidup alam  bebas tingkat nasional yang di adakan oleh salah satu yayasan survival sebelum hingga bertepatan dengan hari Kartini. Ya. Acara ini dihelat dan diperuntukkan pada kawan-kawan putri yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan kepecintaalaman. Mengenai aku dan Rama, nama lelaki itu, entah kau sebut apa hubungan kami yang baru saja dimulai ini. Karena bahkan tidak ada sesuatupun yang mengikat.

~~~

Cianjur – Banjarmasin, Oktober 2008

Aku akan berdoa di puncak Semeru sebelum menemui orang tuamu tahun depan..

“Semeru? Mengapa harus Semeru?”

Rasanya, aku lebih khusyu berdoa di tempat itu. Bahkan nanti,  sepulang aku dari pulaumu nun jauh di sana, aku akan kembali ke tempat itu lagi. Aku tidak tahu apakah di masa yang akan datang kita bisa bersama atau bahkan tidak akan pernah bertemu sama sekali.

“Hei! Apa yang kau bicarakan?!!” kataku gusar.

Hhahaha.. Jangan berteriak. Telingaku sakit mendengarmu berteriak di telepon seperti itu. Toh, itu mungkin saja terjadi kan?”

“Jangan mengatakan hal mengerikan itu lagi!”

“…” tidak ada percakapan selama beberapa detik. Orang yang di seberang sana diam. Aku juga tidak tahu apa lagi yang ingin kukatakan.

“Umm..bolehkah aku ikut pendakianmu ke Semeru? Umm..setelah kau melamarku nanti tentunya. Itu akan menjadi pendakian Semeru pertamaku denganmu. Meratus, Kerinci, dan Latimojong yang sudah kujajal, kurasa akan berbeda. Kau tahu kenapa? Karena ada kamu..hhahaha,” aku tertawa datar.

Kau ingin aku membawamu dan menjadikan pendakian pertama Semerumu?

“Iya. Harus.”

~~~

Desa Rampa, 24 Februari 2009

Orangtuaku memang tidak mendelik mendengar penjelasan Rama. Mereka hanya memberikan reaksi biasa. Sama seperti saat aku melakukan kesalahan-kesalahan di masa mudaku. Sepanjang perjalanan keluarga kami, belum ada yang pernah mengajukan ini. Aku dengan kepercayaanku. Rama dengan kepercayaannya. Keinginan untuk menyatukan dua keyakinan hidup yang berbeda.

Ayahku yang phlegmatis itu tak bergeming dari tempat duduknya. Nafasnya sesekali terasa berat. Entah apa yang berkecamuk dalam tiap degup jantungnya. Ibuku sudah di kamar sejak beberapa menit yang lalu. Ia mendadak berdiri dan melangkah ke kamar setelah mendengar kalimat terakhir Rama, “… Karena itu, walaupun keyakinan kami berbeda, saya berjanji bahwa itu tidak akan menjadi halangan di antara kami.” Pintu ulin yang dihempaskannya dengan kencang, menggetarkan dinding-dinding rumah kami.

Kini hanya ada Ayah, Rama, dan aku di ruang tamu. Percakapan mulai terhenti setelah masalah keyakinan menjadi tema dalam pembicaraan ini. Untuk Rama, ini adalah kali ketiganya menginjakan kaki di Kotabaru dan kali pertama berhadapan dengan orangtuaku.

~~~

Aku akan datang dalam waktu dekat. Tunggu saja aku di tempat yang kau sebut dengan siring laut. Yang sering kau ceritakan padaku. Bukankah kau ingin barang sekali berdua denganku di tempat itu? Seseorang akan mengantarku ke sana,” katanya mantap pada wanita yang diajaknya bicara di seberang sana.

“Senin ini? 5 Maret 2012 ini?”

Ada masalah dengan waktu yang kusebutkan?

“Eh..ee..eumm Mungkin tidak. Hanya saja, aku..” wanita yang berbicara dengan tergagap itu terdiam sejenak.

Kau terkejut, Shin? Aku hanya mempercepat proses dari hidupku yang sentimentil dan tragis,” tenor yang dikenali sebagai Rama itu terdengar sinis dari telinga wanita yang rupanya itu aku.

“Aku.. Aku.. Mmm.. Aku hanya merasa sangat jauh. Juga seperti tak mengenali nada bicaramu ini.”

Kau tidak salah bicara?

“Aku juga tidak tahu,” ucapku datar sambil sesekali menengadahkan kepala agar air mataku tidak tumpah.

Baiklah. Aku hanya ingin menyampaikan itu. Kau ingin mengatakan hal lain?” Rama menyambung pembicaraan.

“…” tidak ada suara dariku. Berita yang begitu mendadak ini membatasi kata-kataku.

Hei, kacamata.. Apa kau tidak ingin aku datang? Kau tidak ingin bertemu denganku? Tidakkah kau mulai merencanakan untuk memberikan satu pelukan hangat untukku? Yah..setidaknya untuk menyambut tibanya aku.

“Kau benar-benar…?” pertanyaanku menggantung.

Ya! Tentu.” dengan cepat pertanyaanku disambarnya. “Jaga kesehatan hingga aku datang. Aku tidak ingin menemuimu di rumah sakit dengan kondisimu yang yah..mungkin saja terpuruk,”

“…” Apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan dengan gaya bicaranya yang seperti ini? Lelaki inikah yang sudah kukenal selama tujuh tahun? Ia bisa-bisanya berbicara seperti itu setelah menghilang selama hampir dua tahun setelah melamarku.

Hei… Apa yang kau fikirkan? Apa yang membuatmu terdiam? Aku tidak ingin seperti orang bodoh menunggu dalam diamnya seseorang yang kuajak bicara. Kau hanya perlu mengingat hari dan waktu kedatanganku saja. Selebihnya, lakukan kegiatanmu seperti hari-hari sebelumnya. Baiklah. Sampai jumpa di hari yang dijanjikan. Aku pasti akan sangat menunggu hari itu.

Terdengar bunyi klik ditelingaku. Di seberang sana, Rama yang menutup telepon menunduk dan mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangan. Sementara itu dihadapannya, gelas kaca yang tidak begitu besar dan terisi beberapa balok kecil es dan wine yang hampir mencapai dasar, digenggam kuat. Erat. Tak lama, terdengar bunyi traakk yang teredam. Rupanya gelas tak cukup kuat menampung segala yang ada dalam fikirannya. Tetes demi tetes darah mengalir dari telapak tangan lelaki kekar itu.

Sementara aku sendiri di sini, tidak mendengar lagi suara dari telepon genggam di seberang sana. Aku yakin sudah dimatikan sebelum aku sempat mengatakan kalimat penutup. Rumah yang saat itu kosong, tidak memantulkan tangisku yang tertahan. Aku berlari menuju ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Tangisku pecah di antara guyuran air keran yang cukup deras. Sayup-sayup kudengar pula satu-dua petir menyambar diikuti dengan rinai yang turut mengekor dibelakangnya. Hatiku membeku seiring dengan cuaca yang semakin dingin. Namun, kehidupan akan terus melaju. Selalu.

~~~

18.29 WIB, Ranukumbolo 1 Maret 2009

“Tolong. Jangan menahanku. Ketika masa itu datang, pergilah. Aku tidak akan apa-apa. Aku juga tidak akan menahanmu. Aku akan tetap begini.. dan akan tetap disini..seperti ini. Kau harus percaya dengan semua yang telah digariskan untuk terjadi. Orang-orang itu bukan hakim kita. Kitalah hakim atas semua. Kitalah penentu segala keputusan.” Kedua tangannya bertumpu di bahuku. Dengus nafasnya yang amat dekat kurasakan terasa begitu berat. Arcopodo, dan tentunya puncak Semeru, menantinya di 3676 mdpl.

Aku tak akan menghalangimu melangkah.. Jangan kau lupa untuk menyampaikan salamku pada kawah Semeru. Berhati-hatilah dalam setiap langkah. Semoga Tuhan selalu menyertai setiap perjalanan dan keinginanmu.

Aku kehabisan kata untuk mengungkapkan semuanya. Hanya beberapa kalimat pendek itu yang ingin kuutarakan padanya. Tapi tak kuungkapkan. Mulut hanya diam dan pemiliknnya hanya mampu menggigit bibir. Getir. Ia membalikan tubuh dan berjalan meyusuri jalan setapak, mengarah pada tubuh puncak tertinggi di Pulau Jawa itu. Ia perlahan hilang di balik senja yang baru saja tiba. Ia bergegas. Berjalan seolah tak ada aku. Seolah tak ada siapapun. Tak ada satupun jawaban keluar dari mulutku untuk menimpalinya. Bayangannya telah hilang. Aku tidak mengikutinya. Aku membiarkannya melanjutkan pendakian itu sendiri. Mahameru menantinya. Arcopodo menunggu doanya untuk usia 28.

Aku tak kuasa mengangkat kakiku untuk mengikutinya. Aku tidak ingin melanjutkan perjalanan ini. Biarlah Ia menjernihkan fikirannya tanpa aku. Aku hanya bisa diam. Tertunduk lemas di bibir Ranukumbolo yang terhampar dibelakang punggungku. Semeru dengan sejuta mistis cinta dan syukurnya. Tanjakan Cinta. Savana. Kalimati. Arcopodo. Arcopodo. Arcopodo. Mahaa..meru. Aku kehabisan kata untuk mengungkapkan semuanya.

~~~

“Sudah lebih lima menit kau diam. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Andi menoleh ke arahku. Cahaya matahari semakin berkurang menjelang sore. Kami ada di sana karena aku yang menelponnya. Aku meminta untuk bertemu di depan patung ikan todak. Kami di tempat itu sekarang.

“Ada yang ingin aku bagi denganmu,” ujarku padanya. Bukannya menceritakan apa yang terjadi, aku malah berdiri dan berjalan gontai menuju kota. Kotabaru pada pukul lima sore lumayan lengang.

“Hei!” Andi menjajari langkahku. Sepanjang jalan aku hanya diam. Seolah ingin mencocokkan fikiranku dengan apa yang sudah ia perkirakan, Ia bertanya, “Apakah ini ada hubungannya dengan Rama? Bagaimana perkembangannya? Apakah Ia sudah mengganti keyakinannya?” katanya kemudian. Seketika aku menoleh padanya.

“Hubungan kalian sudah hampir tujuh tahun. Dan perkembangannya hanya seperti ini?”

fuhhhh…………” aku mengeluarkan nafas panjang. Kami berjalan cukup jauh. Dari kejauhan sudah nampak rumah Wakil Walikota Kotabaru.

“Apakah kau ingin ditemani menangis?” katanya lagi. “Kau selalu seperti itu jika ada masalah,” katanya santai sambil mengutak-atik ponselnya. Tak lama dua Fortuner hitam berhenti di depan kami. Seseorang yang kukenal sebagai salah seorang pekerja di rumah Andi mendekati kami dan menyerahkan kunci padanya. Ia segera berpamitan dan masuk ke dalam mobil yang ada di belakangnya. Tanpa dikomando, kami berdua melakukan hal sama. Sementara Andi sedang menyalakan mesin, aku menguatkan diri untuk bicara. Perlahan pedal gas Ia injak.

“Kau mau menikah denganku?”

Mobil itu berhenti seketika. Hari itu, 3 Januari 2010, aku memberanikan diri mengatakan itu pada teman kecilku. Ia tidak tahu bahwa setelah pendakian Rama ke Semeru denganku tahun lalu, aku tidak pernah mendapatkan kabarnya sedikitpun hingga saat ini. Andi yang baru saja pulang dari Malang tidak pernah kuberitahu tentang hal ini. 2 tahun yang lalu Ia melanjutkan studi S2nya di Malang. Jelas, Ia tidak kuceritakan tentang apa yang terjadi antara aku, Rama, dan orangtuaku.

“Apa?!” katanya dengan tatapan tak percaya.

~~~

5 Maret 2012, 18.33 WITA, Siring Laut Kotabaru

Ia meletakkan kedua tangannya di pipiku. Dihapusnya dengan lembut air mataku yang menetes perlahan karena sesak kutahan sejak tadi. Sejak lama. Sejak sajaknya mengulas sembab di wajahku kala senja. Senja ini. Senja tahun yang lalu. Senja yang akan datang. Akankah?

“Terima kasih sudah tidak menahanku di Semeru. Juga, untuk kedatanganku kemari. Terima kasih.. Kau sudah ada di jalanmu. Kita juga sudah berada di masa yang akan datang. Masa datang yang pernah kita impikan dahulu. Ingat? Aku tidak menahanmu. Pernikahanmu. Dan lihat…. Aku tidak apa-apa. Aku tetap begini.. tetap seperti ini. Semua yang telah digariskan sudah terjadi. Kita sudah menjadi hakim atas semua. Atas kebahagiaan ini. Kebahagiaanmu.” Ia menyentuh wajahku, merapikan poni yang tertiup derasnya angin di tepian siring, dan mengusap alis kananku perlahan. “Kabut telah mendewasakan dan mencerahkan langkahmu. Telah tiba masanya kau menikmati hidupmu. Semoga,…” Ia berhenti sesaat. “Semoga..kau Selalu bahagia.” Ia merengkuhku, membiarkanku ada di dekapannya. Mataku hangat dan bulir itu berjatuhan lagi. Kemejanya mulai basah.

“Maafkan atas segala hal yang sudah kulakukan padamu…”Darahku mendidih mendengarnya.

Dekapannya melonggar. Aku mundur sedikit. Ditatapnya aku lekat-lekat. Aku menatap dua garis alisnya yang tebal. Kuusap alis kirinya perlahan. Ketika tanganku berhenti di pipinya, Ia memejamkan mata sesaat. Ia menatapku lekat sekali lagi. Kutarik tanganku dari pipinnya. Kemudian aku hanya menunduk setelah itu. Buliran hangat itu keluar tak berjeda. Hidungku kembang kempis dan becek ingus menjadi-jadi.

Ia diam, aku diam. Ia balik kanan, aku masih saja diam. Aku tidak bisa membalas ucapannya. Ia berjalan menuju trotoar dan begegas masuk ke dalam mobil hitam di ujung jalan. Berlalu seolah tak ada aku. Seolah tak ada siapapun. Jua, tak ada satupun jawaban keluar dari mulutku. Aku kini, benar-benar kehabisan kata untuk menjawabnya. Tak ubahnya dulu.

Ia melihat sendiri bagaimana matanya menjahit bibirku yang tak dapat berucap banyak, yang tak lagi dapat mengatakan apapun bahkan sebuah kata terimakasih. Terimakasih atas rasa sakit dan bahagia selama rentang hubungan ini. Sambil sesengukan aku memasukkan serpihan kekuatan dan rasa sayang ini ke dalam peti kecil. Kukunci dengan rapat kemudian. Dengan pertimbangan yang terus tarik ulur, kuletakkan kunci itu di pojokan bilik perasaan dan berdekatan dengan peti kecil yang berisi siluet wajahnya. Senja di tepi laut Kotabaru mulai dipoles jingga kemerahan.

Telepon genggamku berdering. Andi, temanku, memanggil. Ya. Teman seumur hidup untuk aku dan putri kami. Teman di atas kertas.

“Mah.. Magrib begini Mamah dimana?” aku dapat merasakan suara di seberang sana demikian khawatir.

~~~

Bagaimana aku bisa tega membiarkan orang yang paling kucintai terluka, menderita, dan sengsara karena berpisah dengan orang yang paling dicintainya, dan sialnya itu adalah kamu. Tapi, dengan cepat pula berkelebat bayangan seorang putri kecil terekam jelas ada di pelukan suamiku yang melambai-lambaikan akta nikah. Kepercayaan masing-masing kita, adalah satu yang harus benar-benar dipegang. Agama.

Samar-samar aku merasa tirai pentas diturunkan.

~~~

                Kuelus rambutnya yang lembut sebahu. Selimutnya sesekali melorot ke bawah. Aku sudah hampir setengah jam menunggu putri ini terlelap. Ia baru saja memejamkan mata saat matahari sudah hampir tiga perempat berjalan. Ayahnya belum kembali dari rutinitas. Sambil mengusap-usap punggung putriku yang begitu jelita ini, mataku mengikuti jarum pendek dari jam kecil yang kuletakkan di samping kanan ranjang. Terlalu asik dengan hipnotis putaran jam, membuatku begitu terkejut ketika tiba-tiba Narsha menangis.

“Cup..cup..cup.. Saaayang……” kataku dengan aksen banjarku yang kental. Kutepuk-tepuk pelan pangkal kakinya. Kuelus perlahan rambutnya yang sedikit panjang menjuntai menutupi mata. “Kenapa sayang, kenapa? Cup cup cup.. Mamah di sini. Kenapa, kenapa, kenapa?” kataku dengan celotehan tidak jelas. Narsha yang baru mampu mengucap papa, mama, mamam, dan num itu merengek-rengek dengan tangisannya yang pelan.

“Sini, sini, sini..” kutarik ia ke pelukanku. Aku yang tadi hanya berbaring dan menghayal tak jelas di sampingnya, mulai mengembalikan kesadaranku ke alam nyata. “Mamah mau cerita sesuatu sama Narsha,” kataku sambil menepuk-nepuknya lagi dengan pelan. Dengan ritme yang teratur. Aku tahu Narsha ketika merengek saat sedang tertidur tidak akan lama. Namun, kali ini aku seolah tidak mengindahkan hal itu. Aku mulai mengoceh. Membual pada diri sendiri bahwa Narsha perlu di tenangkan dengan sedikit cerita. Narsha sendiri sudah kembali ke mimpi yang sejenak Ia tinggalkan.

“Sha.. Kamu tahu? Seminggu yang lalu, Mamah bertemu dengan Om Rama yang sering mamah ceritakan padamu saat tidur,” kataku sambil membenarkan selimutnya. “Kemarin Mamah melihat guratan wajahnya tidak banyak bertambah. Ia seperti awet muda di usia ke 31nya tahun ini. Masih begitu tegap seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemarin Om itu memeluk Mamahmu ini, Sha. Sssssttt…. Jangan sekali-kali kau katakan ini pada Papahmu! Orang yang terlalu sabar seperti dia juga bisa marah. Apalagi kalau menyangkut Om Rama,” kataku sambil tertawa dan membuat ekspresi marah. “Ia sudah tahu semua tentang laki-laki itu. Pertama kali Mamah bertemu di Cibodas, hubungan jarak jauh kami, bahkan, lamarannya yang tidak digubris nenek dan kakekmu, Papah juga tahu semuanya,” kataku. “Tapi kedatangan Om Rama seminggu yang lalu, jika Ia tahu, Mamah yakin akan ada perang besar di antara kami,” kataku sambil terkikik pelan.

“Rasanya sudah tidak sabar menunggumu tumbuh besar, sayang. Nanti, saat kamu sudah bisa memilih, pilihlah. Mamah hanya akan mengarahkan keinginanmu dengan baik. Urusan Papah, biar Mamah yang urus. Juga, ketika kau sudah bisa berjalan dan berlari, Mamah akan membawamu berkenalan dengan dunia yang keras dan menakjubkan. Kita akan sering melihat laut, sungai, dan gunung. Aku akan membiarkanmu mendapat didikan alam. Sehingga kelak, kau akan mampu bersyukur padanya. Kau harus menjadi putri Mamah yang tegas dan berpendirian,” ujarku lagi. Masih dengan suara pelan aku bercerita, “Mamahmu ini tidak ingin kau menjadi gadis yang tidak tegas”.

Jam di dinding menunjukkan pukul 15.47. Kumandang adzan menghentikan ceritaku. “Dengarkan baik-baik saat lantunan seruan Tuhan itu dikumandangkan, Nak”. Aku terdiam dan terhanyut oleh fikiranku sendiri. Kumandang itu terdengar nyaring dan jelas dari rumahku. Namun, itu tidak mengganggu tidur Narsha yang pulas. Setelah beberapa menit adzan dikumandangkan, aku berkata, “Nak.. Jalanilah jalan yang terbaik. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Taklukan dan tantang apa yang ingin kau tantang. Aturlah semuanya dengan cerdas,” ujarku. Aku terdiam sejenak.

“Tapi, Nak… Jangan pernah mengoyahkan kepercayaan yang sudah tertanam dalam ruh dan jasadmu”. Putriku yang hampir genap satu tahun itu menggeliat perlahan.

Sekretariat Kompas “Borneo” Unlam

 02.34am; 20 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s