Perjuangan Bersama Untuk Orientasi Yang Lebih Baik

Membicarakan permasalahan lingkungan, ada dua pertanyaan yang selalu muncul dalam pemikiran (personal dari penulis) yaitu yang pertama adalah kapan kita semua sadar dan mau bersama-sama bergerak untuk perbaikan kondisi lingkungan agar menjadi lebih baik? Dan pertanyaan kedua setelah itu adalah, apakah organisasi lingkungan hidup hanyalah sekedar nama dan tak lebih penyelenggara kegiatan seremonial? Mungkin untuk pertanyaan yang kedua ini lebih dikarenakan posisi penulis secara pribadi ada di organisasi yang berorientasi terhadap lingkungan hidup. Kemudian, membicarakan permasalahan lingkungan, tak luput dari poin tentang produksi sampah yang kian meningkat karena sampah adalah salah satu penyumbang persoalan lingkungan terbesar (tanpa kita sadari), terlepas dari beberapa poin besar lain menyangkut kerusakan lingkungan seperti pertambangan, penebangan hutan, polusi, dan sebagainya. Membicarakan sampah itu sendiri, maka kita harus memposisikan diri sebagai masyarakat proletar yang secara secara tidak langsung adalah strata masyarakat yang mendominasi di seluruh dunia. Permasalahan yang akan lebih jauh di bahas di sini adalah salah satu permasalahan populer, yaitu masalah sampah.

Sampah. Satu kata itu dapat menjadi ratusan eksemplar bahan baca (bahkan lebih) dengan pembahasan yang tak kunjung usai di dalamnya. Di manapun, siapapun, dan berada di strata manapun kita, tentunya kongres kecemasan mengenai berubahnya kondisi lingkungan akibat menumpuknya sampah menjadi suatu kekhawatiran yang sudah mulai dirasakan dan disadari oleh banyak pihak. Gelombang fikiran akan adanya keinginan untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih hijau semakin meningkat dan mereka pun terus berusaha agar keinginan itu tercapai yang kelak manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh umat manusia. Tetapi, dibalik kondisi tersebut, ada kondisi dimana masyarakat lebih memprioritaskan hal-hal lain yang bersifat materiil karena adanya tanggung jawab moral dan di dominasinya ‘ketidakbiasaan’ seseorang untuk menanamkan dan merapkan pola fikir tentang betapa pentingnya kita menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Ini berarti berkaitan erat dengan pemberian pendidikan lingkungan dari orang tua yang bersangkutan.

Orang tua mempunyai peran vital terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Orang tua diharapkan menjadi superleader untuk tanggung jawabnya ini. Mereka bertangung jawab tentang bagaimana seluruh proses edukasi bisa sampai dengan matang kepada anak dan diiringi dengan penerapan yang mantap terhadap apa-apa yang telah di ajarkan sebelumnya. Hal ini tidak kemudian hanya pendidikan yang berkisar tentang sopan santun dan bermasyarakat saja. Pun demikian untuk penanaman pola hidup sehat dan bersih di keluarga, karena hal ini dapat memberikan kontribusi nyata di dalam kehidupan bermasyarakat. Orang tua mempunyai dampak penting dalam praktik terhadap edukasi di segala lini kehidupan anak sejak usia dini. Pendidikan yang mengajarkan buah hati mereka untuk memilih. Memilih untuk menjadi salah satu kontributor dalam penyelamatan lingkungan atau malah menjadi salah satu kontributor penumpukan sampah. Jadi, orang tua adalah salah satu pemberi label besar dalam tingkah laku anak selain lingkungan dan pergaulan. Kesemuanya itu tidak hanya berlaku untuk kita saja, tetapi juga untuk semua orang yang berada di posisi tersebut sebagai peletak dasar pendidikan yang baik untuk generasi berikutnya.

Pendidikan lingkungan sejak dini seperti yang sudah di uraikan di atas bukan sebuah kasus yang hanya di tuntaskan dalam forum-forum besar ataupun di kursi petinggi pemerintahan. Kerusakan kondisi lingkungan kita saat ini memaksa kita untuk bertanggungjawab bersama. Kita tidak bisa hanya melemparkan dan membiarkan permasalahan tersebut pada sekelumit golongan yang peduli dan punya tangung jawab moril untuk membenahi dilema yang berkepanjangan ini. Ketika ada pion yang sudah mulai menjadi motor untuk kita berkaca dan berbenah, sudah seharusnya seluruh kalangan turut ambil bagian pada aksi nyata tersebut karena sustainable society kita tidak akan berjalan tanpa adanya sikap bahu membahu mengatasi permasalahan krusial ini. Seluruh kalangan mempunyai tanggung jawab yang sama dan kewajiban atas kelestarian lingkungan andai kita semua mau mengerti dan diperlukan banyak tenaga, waktu, dan fikiran untuk penanggulangan kerusakan lingkungan agar menjadi lebih baik. Tidak hanya dari orang-orang yang duduk di pemerintahan saja, tetapi juga bagaimana masyarakat turut ambil bagian dalam perbaikannya.

Permasalahan sampah ini relatif lebih mudah ditemui di kota-kota besar. Demikian pula untuk kota Banjarmasin. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat akan barang primer dan sekunder yang dapat menghasilkan timbunan sampah, menjadi permasalahan yang seolah tak pernah henti teratasi. Masyarakat yang memiliki persoalan hidup yang beraneka ragam, berkaitan dengan perut dan bagaimana agar terus hidup di kerasnya kota besar, lebih dominan menganggap hal seperti ini (baca: perihal membuang sampah) adalah hal biasa dan bukan sebuah kesalahan. Terlalu banyak orang yang tidak memperhitungkan aktivitas sehari-harinya pada dampak ke depan bagi anak-cucunya. Masih banyak yang menganggap kegiatan seperti membuang sampah ke tong sampah raksasa(sungai), mendirikan bangunan di sepanjang bantaran sungai(dengan memakan badan sungai), aliran limbah pabrik, anak sungai yang mulai hilang akibat laju pertumbuhan penduduk, dan aktivitas lain yang dapat merubah ekosistem sungai, tidak sebanding dengan kerasnya usaha mereka membanting tulang untuk terus hidup, untuk terus memberikan sesuap nasi pada anak istri, untuk terus mencari cara terbaik demi membangun hidup yang lebih mapan dan nyaman. Itu masih tidak sebanding dengan usaha mereka untuk terus hidup melihat bagaimana susahnya mereka mencari orang yang ingin menggunakan becak karena mulai tergantkan oleh kendaraan pribadi atau bahkan begitu susah mencari orang yang mau membeli kacang dan jagung rebus karena mulai tergantikan oleh fast food yang lebih menarik dan praktis. Kesemuanya itu pun tak terlepas dari kewajiban masyarakat yang ada di hulu aliran sungai juga menjaga roda ekosistem. Karena sampah yang mengalir dari hulu, akan bermuara dan menumpuk di hilir aliran sungai. Sangat besar pengaruhnya akibat perbuatan tersebut karena yang merasakan dampak langsungnya adalah masyarakat yang tinggal di hulu aliran sungai seperti di Banjarmasin ini.

Gaung mengenai kerusakan ekosistem sungai yang nyaring terdengar di sela teriakan akan pertambangan, sawit, limbah, dan penebangan liar mungkin sudah mereka ketahui. Namun, teredam oleh nyaringnya isak tangis anak-anak dan kabut asap dapur yang ngos-ngosan. Kondisi seperti inilah yang membuat kita harus bertindak bersama-sama dalam hal pemikiran maupun aksi nyata untuk keberlanjutan kehidupan sosial. Permasalahannya adalah kita akan menghabiskan banyak waktu apabila hanya memikirkan bagaimana kita bisa mengubah paradigma tersebut dalam konteks pemberian pengetahuan di sana sini kepada masyarakat, tetapi selain itu hal yang diperlukan saat ini adalah aksi. Yang diperlukan saat ini adalah bagaimana kita dapat menemukan solusi untuk melakukan pendekatan ekonomi demi kebaikan bersama. Menjadikan sampah sebagai sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Ada simbiosis muatualisme apabila sampah yang laju penumpukannya semakin tak terkendali itu dapat teratasi. Masyarakat akan mendapatkan ilmu tentang bagaimana sampah bisa menjadi alternatif untuk mengurangi sedikit permasalahan keluarga dan orang-orang yang bergerak sebagai mesin pendorongnya dapat merasakan kepuasan batin yang tak terhingga melihat adanya perubahan yang mengarah pada perbaikan kondisi fisis lingkungan sekitarnya. Memang itu semua -lagi-lagi harus disebutkan- diperlukan banyak tenaga, waktu, dan fikiran. Itu semua dilakukan guna meminimalisir kejadian seperti sedimentasi, penurunan baku mutu air, pembuangan sampah non dan organik ke sungai, erosi, pencemaran, pendangkalan sungai, dan akhirnya bermuara pada permasalahan puncak, yaitu munculnya banjir dan hilanglah sungai sebagai tempat bermain kita.

Begitu banyak yang harus dihadapi oleh generasi penerus bangsa akan begitu parahnya kondisi kerusakan lingkungan, khususnya di wilayah perkotaan yang berkaitan langsung dengan permasalahan sampah dan sungai. Sehingga kewajiban kita untuk kita tidak membuang sampah sembarangan harus dimulai saat ini, dan detik ini juga.

Pada akhirnya semua itu bermuara pada jawaban dari pertanyaan awal. Kita semua harus sadar dan bersama-sama bergerak untuk perbaikan kondisi lingkungan agar menjadi lebih baik. Masa depan bumi yang semakin lanjut ini ada di tangan kita semua. Yang ia perlukan adalah tindakan kita, untuk masa depan bersama. Kita melakukan segala aktivitas di satu pijakan yang sama, sehinga apabila pijakan tersebut semakin lama semakin rapuh, maka jelaslah sudah akan menjadi ancaman kejatuhannya. Kita harus berbenah sejak saat ini berkaitan dengan pola pikir, pendidikan terarah sejak dini, gaya hidup, dan perilaku sebelum akhirnya kita akan mengalami kegagalan dan menjadi salah satu penyumbang dampak buruk pemanasan global. Revolusi akan menjadi jalan satu-satunya untuk perubahan besar ini karena bumi ini milik kita semua dan sudah sepatutnya digunakan dengan bijaksana. Karena yang menikmati alam tidak hanya kita yang hidup saat ini, tetapi juga anak cucu kita kelak. Untuk itu, marilah kita bersama-sama menjadi manusia yang arif mengelola sumber daya alam. Bersama-sama bergerak dan berjuang. Karena tidak ada yang lebih baik dari sebuah kerjasama yang solid dalam sebuah orientasi ke arah yang lebih baik. Lestari!

Kompas “Borneo” Unlam
Banjarmasin, Juli 2010
KBU: 09. 383/ A. Ancalatara

2 responses to “Perjuangan Bersama Untuk Orientasi Yang Lebih Baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s