Sang Rasa

Wanita paruh baya itu menatapku. Senyumnya begitu manis. Radith, sahabat karibku, pernah berkata padaku bahwa senyum manisku itu adalah warisan dari Ibuku. Tapi tak semanis Ibuku memang. Fotokopi memang tak pernah sebagus aslinya. Begitu kata Radith yanjg langsung kujawab dengan sebuah bantal yang mendarat di wajahnya. Ibuku yang selalu ceria itu kini terbaring lemah di sini. Di hadapanku. Seorang remaja –yang liar, gila, tak bertanggung jawab, sok keren, nggak punya otak, nggak tahu tata krama, nggak tahu diri dan apa lah sebutan jelek untuk keparat itu– menabrak Ibu sewaktu beliau menyebereng di zebra cross. Padahal sudah jelas-jelas waktu itu rambu lalu lintasnya menunjukkan warna merah. Buta warna atau tidak pernah sekolah aku juga tidak tahu. Yang kuingat pada saat kejadian itu hanya plat nomor polisinya saja. DA …66 PP. Ada dua nomor yang aku tidak ingat. Sial. Harusnya aku bisa mengingatnya. Harusnya….

“Inta.. In..?”

“Eh.. Hah? Apa Mah..?” kataku gagap. Aku tadi pasti hanyut oleh lamunanku.

“Kamu kenapa Sayang? Mukanya tegang gitu. Hayo.. kenapa?”

“Hah..? Ah.. Nggak kok Mah.. Cuma.. Um.. Cuma tegang aja. Kan beberapa hari lagi mau Ujian Semester. Inta kan nggak tahu gimana format Ujian Semesterannya anak kuliahan Mah.. Doain ya Mah.. Biar Inta dapat nilai bagus. Biar bisa bikin Amah sama Ayah bangga. Amah juga harus cepet sembuh! Biar nanti bisa seneng-seneng bareng. Ya Mah..?”

“Iya.. Apa sih yang nggak buat kamu Sayang? Tapi kalu nilainya jelek gimana..?” kata Ibuku sambil

mengubah parasnya menjadi lebih lucu dari sebelumnya.

“Ah.. Amah. Jangan gitu dong…..,”

Ibu masih bisa tersenyum. Aku bangga memiliki sosok seperti Dia. Senyum itu tak jua luntur meski telah ada keputusan bahwa minggu depan kakinya harus diamputasi. Pun dokter juga mengingatkanku bahwa sirosis Ibu sudah bertambah parah. Aku tahu Ibu  masih bisa tersenyum karena aku. Ia tidak ingin aku juga merasa terbebani. Padahal hal itu tak pernah sekalipun terbesit dalam fikiranku. Aku menyayanginya setulus hati. Bagaimanapun keadaannya. Karena yang harus disalahkan adalah pengendara kurang ajar itu. Bukan Ibuku. Ia hanya menambah penderitaan Ibuku.

 

Sang Rasa

 

21 Desember 2007

 

Radith. Sosok itu begitu berarti di mataku. Dia adalah sahabatku yang paling setia. Segalanya untukku. Dia temani aku. Hibur aku. Sayangi aku. Dengarkan aku. Bantu aku. Menjaga aku. Menerangi aku. Dirinya juga yang mengubahku hingga seperti ini. Ia telah merubah fikiranku untuk menjadi seseorang yang terbuka. Mulai bisa menerima orang lain di hidupku. Ia juga mengajari aku bagaimana caranya gembira, marah, tersenyum, main tinju, berkumpul dengan orang lain, tertawa lepas, dan… menangis. Aku tidak pernah menyangkal bahwa dulu aku begitu tertutup dan prndiam. Itu hanya kulakukan saat aku tidak berada di samping kedua orang tuaku. Di rumah aku begitu riang. Dan itulah yang diketahui orang tuaku. Mereka tak pernah tahu bahwa anaknya ini adalah seseorang yang tak pernah membuka hatinya untuk orang lain. Radith-lah yang bisa mengubahku hingga sejauh ini. Hanya dia. Dan ini sudah berjalan selama tiga tahun.

 

Sang Rasa

 

“Ta.. Dengerin dulu…! Ini nggak seperti yang kamu kira. Denger dulu apa yang pengen Ayah bilang!” Ayah mencekal lenganku. Sakit. Aku rasa ini memang bukan Ayah. Tapi tak mungkin. Ini memang benar-benar Ayahku.

“Apa?! Apa yang pengen Ayah bilang?! Ayah cuma ngabisin waktu aku kalau cuma buat bilang kalau kampret di kamar ayah itu nggak bersalah! Tai! Persetan sama semua alasan Ayah! Ayah tega!! Dasar perek sial! Lepas!!” aku mencoba melepaskan tangan Ayah yang sedari tadi mencekal lenganku. Tapi nggak bisa.

“Inta!! Berani kamu neriakin Ayah!” Ayah berteriak tepat di telingaku. Teriakannya mulai membuatku gentar. Membuatku mulai merasa takut. Tapi aku harus tegar. Aku nggak akan cengeng dihadapan orang yang telah menyakiti hati Ibuku dan aku sendiri.

“Kenapa? Ayah baru tahu kalau aku ini juga bisa kasar sama orang. Aku udah besar Yah! Aku udah besar!! Aku bisa ngelakuin apapun yang aku mau! Mikir Yah!! Mikir..!!! Ayah punya otak nggak sih!” kataku pada seseorang yang kusebut Ayah itu. Aku memang sudah keterlaluan. Aku memang sudah melewati ambang batas kesopanan dan norma-norma kesantunan pada orangtuaku. Tapi apakah pada saat seperti ini aku masih harus tunduk dan patuh menerima penjelasannya sebagai pemimpin rumah tangga dan panutan anak-anaknya? Apakah aku hanya akan mendengarkan secara seksama apa yang dia katakan untuk berkelit bahwa perbuatannya membawa perempuan –mungki          n aku tak akan menyisipkan kata maaf– tai itu ke rumah dan membiarkannya menginjak harga diri Ibuku sebagai istri sah dari Tuan Hermawan itu adalah ketidaksengajaan? Apakah akau harus patuh? Nggak akan!!!

“Inta!” Ayah mencengkram tanganku lebih kuat.

“Apa?!! Ayah mau nampar aku? Tampar, Yah.. Tampar!!! Bunuh aja aku sekalian. Biar Ayah puas! Biar Ayah bisa bebas sama cewek tai yang ada di kamar Ayah itu. Biar Inta mati. Bunuh juga Ibu sekalian! Biar Inta sama Ibu nggak akan pernah lagi inget Ayah yang selama ini Inta banggain. Biar kami bebas dari rasa sakit yang sudah Ayah buat! Biar Ayah puas. Biar Ayah puaaas!!”

“Ngomong apa kamu tadi? Apa pernah Ayah ngajarin kamu ngomong kayak gitu? Dasar anak nggak tahu diri! Kamu kira Ayah apaan, heh!”

“Iya! Inta emang nggak tahu diri! Inta memang anak jalang! Inta emang liar! Inta emang nggak bakal pernah tahu siapa Ayah! Inta nggak akan pernah ngerti kelakuan Ayah! Sifat Ayah! Inta emang bejat! Sama kaya kelakuan Ayahnya yang bawa perempuan lain ke rumah dan tidur di kamar istri sahnya yang sekarang masih koma di rumah sakit! Gitu kan jawaban yang Ayah pengen! Puas udah nyakitin kami, Yah..! Puas!!!?” mataku menjadi lebih merah dari sebelumnya.

“Kamu……?”

“Kenapa? Kaget? Ayah nggak pernah nyangka anaknya jadi kayak gini kan? Aku juga Yah.. Aku juga nggak pernah nyangka Ayah bisa jadi kaya gini. Ayah emang nggak tahu malu. Ngaca dong Yah.. Inget umur!!? Mentang-mentang ibu lagi nggak ada di rumah, Ayah bisa gitu aja bawa perempuan lain ke rumah tanpa sepengetahuan Ibu. Gitu??!” Ucapku menggebu-gebu. Aku sudah tak terkendali. Dan aku menyadarinya. Aku tak pernah merasa bersalah telah melakukannya. Walaupun ada suara-suara yang mencoba mengingatkan perbuatanku kini.

“Inta, cukup..!!”

“Cukup? Cukup kata Ayah? Inta tau kalau Ayah nggak pernah bisa jawab! Inta juga tau kenapa Ayah bisa ngelakuin itu semua. Inta tahu, Yah.. Inta tahu! Ayah nggak cinta kan sama Ibu?? Jawab, Yah!!”

“Inta! Diam!!”

“Diam?? Nggak! Aku nggak akan bisa diam! Itu kan alasannya Yah.. Cinta Ayah untuk Ibu nggak tulus kan? Ayah tahu kalau seminggu lagi kaki Ibu bakal di amputasi. Ayah juga tahu bahwa sirosis Ibu juga semakin parah. Itu juga kan yang bikin Ayah kayak gini?! Ayah jahat!” kantong mataku mulai berair. Ayah menghela nafas panjang. Aku diam sesaat.

“Udah selesai ngomongnya? Ayah tahu Ayah salah. Ayah tahu. Ayah sadar. Ayah ngerti.. Tapi kamu harus tahu kalau…”

“Kalau apa? Perbuatan Ayah itu nggak akan terbantahkan oleh alasan apapun. Sebanyak apapun alasan yang ayah berikan buat Inta, semua itu nggak bakal bisa Inta terima. Apapun itu, Yah..! Ayah seharusnya ngerti gimana perasaan Inta.. Harusnya…”

Perlahan Ayah melepaskan genggaman tanganku. Aku menatap wajahnya. Ia bernafas tak teratur. Aku bisa merasakannya. Hembusan hawa panas nafas beratnya itu tertuju langsung di wajahku. Jarak kami begitu dekat. Aku masih bisa menahan air mata yang menggantung berat di mataku. Aku tidak akan menghabiskan air mataku hanya karena seorang Ayah bejat dan perempuan tai yang kini sudah babak belur karena ulahku tadi. Aku rasa Ia tak akan pernah sadar lagi. Semoga saja dia memang benar-benar mati. Aku akan berterimakasih pada Radith jika perempuan itu benar-benar mati. Karena dialah yang telah mengajariku jurus mematikan itu.

PLAKK!

Sebongkah tangan kekar mendarat tepat di pipi kiriku. Pertahananku roboh. Air mata yang terbendung sejak kapan lalu itu mengalir. Aku  menangis. AKU MEMANG MENANGIS. Aku menangis bukan karena kalah. Aku menangis bukan karena cengeng. Aku menangis bukan karena rasa sakit yang kini menjalar di sebagian pipi kiriku. Aku menangis karena aku telah kehilangan Ayahku. Ayah yang begitu aku cintai. Ayah yang begitu aku banggakan sesaat sebelum Ia menamparku dengan sekuat tenaga. Sesaat sebelum aku tahu Ia juga bisa selingkuh dan tidur dengan wanita lain. Aku merasa kehilangannya. Aku merasa menjadi orang yang paling menderita. Aku merasa bahwa hanya akulah yang menanggung beban dunia di pundakku. Aku benci semua ini. Air mataku masih terus mengalir. Tapi tak ada sedikitpun isak tangis yang terdengar. Mataku menatap tajam pada Ayah. Ayah balas menatapku. Aku seperti menatap sebongkah karang terjal yang menjulang tinggi menatapku. Aku berlari ke luar rumah. Meninggalkan Ayah, Amah, Mas Bagas, Bi Endang dan semuanya. Termasuk Radith. Sahabat yang sudah seperti kakak sendiri bagiku. Ia kebingungan mengejarku. Hampir saja Ia berhasil mencekal lenganku saat aku akan masuk ke dalam taksi. Aku berjanji tidak akan pernah menginjak rumah itu lagi. Di dalam taksi, air mataku bercucuran

 

Sang Rasa

 

Yo, Dith..! Pa kabar? Udah sarapan belom? Ke kantin yuk! Ibu gimana? Udah kelar tesisnya? Punya permen nggak? Mulutku asem ni..! Temenin ngumpul tugas yuk! Ada pulsa? Minta dunk! HPku batrainya mau abis nih. Dith! Senin ini kita nonton Ayat-Ayat Cinta yuk? Kamu nggak ada jadwal kan? Kita nonton yang jam 4 aja. Jadi sebelum berangkat kita bisa sholat dulu di rumahmu. Gimana? Mau ya… Ngapain kamu? Masih ngerjakan tugas bu Sastro ya? Kecian deh.. Makanya kalo malam tu belajar! Jangan SMSan terus. Udah kuliah juga, masih getol aja SMSan! Udah nggak jaman kali. Telpon dong.. Telpon! Rambutmu kenapa? Kok maju gitu jambulnya? Gel-nya kebanyakan tuh! Raditya Bimantara Aji.. Ternyata mati lampu tadi malam tidak menyurutkan semangatmu untuk mengisi batrai HPmu yang habis itu di kampus, yah! Waktu sholat Jumat kemaren, ada nemu cowok ganteng yang cocok buat Inta nggak? Inta ngerasa kosong abis putus sama Dika. Gimana nih kabar anak-anak didikmu? Udah pada pinter nabuh drum ya? Aku suka sama si Irfan. Anaknya keren banget! Umur 9 tahun gitu udah pinter banget gebuk sana-sini. Emaknya juga keren! Tahu ajah kalo anaknya ada bakat musik! Mukamu kenapa? Kusut banget? Ada masalah? Cerita aja.. Jangan sok bikin jarak gitu deh..! Risih jadinya tau nggak?! Makalah Fisika Dasar punya kelompok kita udah selesai belum? Aku nggak mau tanggung jawab lho kalo tugasnya belom selesai! Dith.. Nebeng pulang dong! Aku tadi berangkat kuliah juga nebeng sana si Jepri. Abisnya kalo jalan lewat jalan tembusan yang di samping kampus tu becek banget! Nebeng, ya? Ehm.. Bagi jawaban dong.. Tadi malam Ibu kumat lagi. Jadi nggak sempet ngerjakan tugas deh! Tadi malem di rumahmu mati lampu yah? Kusut banget bajunya. Heh..! Kamu tu pernah mikir nggak sih Dith… Selama ini tu kamu udah ngabisin pulsa aja. Gimana nggak coba? Kamu tu SMSan terus ma si Bertha. Cewek sok cantikmu itu. Padahal kan dia jelas-jelas ada di sebelah ruangan kita! Dasar! Mau aja diperalat cewek jaim temennya adiknya Jepri. Lagian rumahnya sama rumahmu deket gitu!? Rumah deket pake SMSan! Ngabisin devisa negara tau nggak?! Minta program mentahnya Nero dong! Hard Disk punyaku udah dateng tuh.. Bisa di lepas nggak sih HPnya? Bentaaaaar.. aja! Risih tau! Nggak waktu kuliah lagi di kantin, di perpus, lagi jalan ma anak2, lagi ke toilet, lagi nyuap mie ayam dibawaaa terus tu HP. Jangan-jangan kalau kamu boker dibawa juga? Hih.. Amit-amit! Dasar maniak! Radith maniaaak!!!!!

 

Radith terngiang-ngiang oleh kata-kata yang sering di ucapkan Inta.

“Inta.. Aku kangen. Kamu kemana sih.. Sudah seminggu kamu nggak kuliah. Waktu aku telpon Hpmu nggak aktif. Di datengin ke rumah juga nggak ada. Kalau aku ke rumah sakit, Ibu bilangnya kamu lagi ada persiapan Ujian Semester. Jadi baru bisa jenguk kalau lagi ada waktu luang atau setelah pulang kuliah. Aku nggak mungkin bilang ke Ibu kalau kamu sudah tiga hari nggak nongol di kampus kan? Ntar kalau Ibumu tambah parah malah aku yang dikira ngapa-ngapain. Kamu kemana sih In..?” kata Radith sambil memandangi fotonya bersama Inta yang di ambil sewaktu kami lulus Ujian Nasional tahun lalu. Inta mengamit lengannya dan bergaya seolah-olah kami tidak sengaja di foto. Inta menatapnya dan begitu pula sebaliknya.

 

Sang Rasa

 

Aku berlari-lari kecil menghampiri Radith yang sedang mencoba memasukkan bola ke dalam ring. Wajahnya sudah penuh dengan keringat. Keren.

“Dith.. Hari ini Inta nggak latihan ya! Aku mau ke rumah sakit. Kasihan Amah sendirian di sana. Ayah siang ini nggak bisa ngejagain Amah. Soalnya baru bisa pulang kantor jam 9 nanti. Ada Rapat Dewan Direksi katanya. Nggak tau deh rapat apaan..?! Nggak apa-apa kan kalau kamu latihan basket sendirian? Bertha juga bentar lagi pulang. SMS dia aja.. Kalian bareng. Sekalian dia liat kamu latihan. Inta bener-bener nggak bisa ikut latihan. Aku balik duluan ya! Nggak kamu kasih izin juga aku bakal tetep balik. He,” ucapku sambil nyengir.

“Hah? Balik duluan? Enak aja! Kan kita udah sepakat kalau mau latihan hari ini?! Kamu gimana sih..?” katanya serius.

“Aduh, Maas.. Kamu itu kayak nggak ngerti aku aja. Aku kan paling sayang sama Amah. Kalau dibandingin sama kamu, aku pikiiir…kamu tu nggak pentiiing! Heheheheh!”

“Sialan..! Kalau gituu.. Gimana kalau diriku ini hendak ikut dirimu ke rumah sakit yang merawat Ibu dari dirimu itu. Boleh ya Dirimu? Dirimu itu nggak boleh pelit sama Diriku yang sudah begitu setia sama Dirimu. OK Dirimu? Mr. Nggak penting ini kan juga khawatir sama calon mertuanya. Eheheheheh..” katanya sambil menyenggolku dan mulai tertawa-tawa sendiri dengan jayus dan tidak jelas. Hih.. Kenapa aku bisa temenan sama orang sejenis Radith ini? Amit-amit!

“Hallo.. Amah? Gimana? Udah ngerasa baikan belum? Inta masih di kampus nih! Bentar lagi Inta ke sana Tapi ada yang mau di omongain dulu sama Radith.. Biasa,  anak muda. He..” ujarku pada Amah di kejauhan sana.

“Udah.. Jangan maksain diri ke rumah sakit kalo nggak bisa. Jangan sampe kuliahmu keteteran cuma

gara-gara bolak-balik ngejagain Amah..”

“Ya nggak lah Amahku sayang….  Lagian hari ini ujuga sudah nggak ada kuliah..”

“Beneran?”

“Iya… Amah mau nitip apa? Inta mau balik ke rumah dulu ngambil kaos. Biar nanti Inta ambilin..”

“Umn.. Apa ya? Bentar.. Amah mikir dulu. Umn… Oiya.. Ambilin baju tidur Amah yang di lemari hitam

di kamar mamah. Di laci paling bawah. Sekalian sama dompetnya juga.”

“OK deh Amah… Abis sholat Zhuhur Inta berangkat dari rumah. Dah.. Amah…”

“Aku yang anterin ya?” Radith langsung berkomentar setelah aku mengakhiri pembicaraan dengan Ibu.

“Beneran nih? Nggak ngerepotin kamu kan? Eheheheh Kalu gitu.. anterin ke rumah sakit sekalian yah?” Radith hanya tersenyum

 

Sang Rasa

 

“Beneran nggak ikut masuk?” ujarku pada Radith. Ia hanya mengangguk dan tersenyum padaku. Aku meninggalkannya di teras rumah. Kenapa rumah sepi sekali? Mungkin Bi Endang lagi ke pasar. Aku harus sesegera mungkin mengantar keperluanku untuk kupergunakan di rumah sakit. Kasihan Amah kalau terlalu lama ditinggal sendirian. Radith juga..

“Tinggal ngambil dompet sama bajunya Amah..” kataku sambil berjalah ke kamar Ibu. Tapi ternyata…

“Anjiiingg!!! Heh! Ngapain kamu di sini! Bangsat lu!” aku langsung naik ke ranjang dan menghantam pipi seorang wanita yang sekarang sedang tidur bersama Ayahku. Perempuan sialan itu hanya bisa berteriak-teriak saat aku menghajarnya. Ayah kesulitan melepaskan tanganku dari rambut perempuan itu. Entah sudah yang keberapa kali pukulan dan tinju ku arahkan padanya. Fikiranku sudah kacau. Aku ingin perempuan itu mati. Saat ini juga. Setelah puas –mungkin juga belum– menjambak dan mengahajarnya, aku mengincar lehernya. Aku teringat kata-kata Radith. Tanganku cukup besar dan kekar untuk mencekik leher orang. Dan ini adalah saat untuk membuktikannya. Perempuan yang berada dihadapanku itu kondisinya memang sudah begitu mengenaskan. Tapi aku tidak peduli. Aku langsung menghabisinya.

“Ta.. Lepasin! Kamu mau di penjara gara-gara bunuh orang,” kata ayahku sambil berusaha melepaskan cengkraman tanganku di leher perempuan simpanannya itu.

“Aku nggak peduli!”

Wanita paruh baya yang kutaksir masih berusia sekitar 34 tahun itu bernafas naik turun. Lidahnya menjulur-julur mencari udar. Dan setelah beberapa saat hal itu terus berlanjut. Ia langsung tak bergerak. Entah mati atau tidak. Segera saja aku pergi dari temapat itu. Dan kata-kata terakhir yang aku ucapkan pada Ayahku… “Tega Ayah ngelakuin itu!”

 

Sang Rasa

 

[Ditz.. Int mw ktmu km. Ad yg mw Aq kasih k kamu. PENTING! Inta mohoon bgt! Bsk jam 4, Q tunggu d dpn Masjid Sabilal yah? Key]

SMS dari Inta itu membuat Radith sumringah. Akhirnya Ia bisa tahu dimana Inta saat ini. Segera saja Ia mengirim pesan untuk Bertha. Kekasihnya.

[De.. Mas bsk kyX ga bs menuhin janji Mas yg kmrn bwt ngantr Ade k RS deh.. Mas hrs ktmu Inta dl. Ad sesuatu yg pnting yg hrs dbcrkn. Key?]

[Knp Mas? Yayank Mas yg 1 it ad mslh lg? BknX janji Mas sm Ade udh dari Senin kmrn? Mas ko gt………..?]

[De.. Dy tu satu2X sahabat Mas yg plg bs ngrtiin Mas. & Mas jg satu2X sahabatX yg plg bs ngrtiin dy. De bs ngrtiin Mas kn?]

[Jd mksd Mas yang bs ngrtiin Mas tu cm DIA? Gt kn mksd Mas? Jd bwt ap Ade slm in? BAN SEREP?]

[Ya ampun Ta.. Bkn gt.. Km g tw mslhX… & km BUKAN ban serep. Ade mank bnr2 bs ngrtiin Mas. Tp dr si2 lain. & si2 yg lain it Inta yang bisa ngrtiin Mas. Klo Ade bnr2 bs ngrtiin ap yg Mas pengen, pst mslh in g bakal ngambang ky gn. De ngrti posi2 Mas kn?]

[De ngrti ko.. Tp in dh kelewatan Mas.. Mas trll sering ngacuhin Ade. Inta lg, Inta lg! & Mas sndr g mw blng knp&ap sih mslh si Inta it.. De cape Mas…!!]

[Cape…? Ade SMSan ama Mas sambil nyuci yah? He]

[Mas! Serius dong! Jayus tau..!]

[Iyah.. Maap.. BisX dr td marah2 mulu. Kaya rmh tangga yang lagi berantakan gt de.. Pisah ranjang kale.. He]

[Mas! Jangan kumat deh jayusX.. De lg ga mood becanda ni…]

[Iya… Maap… Maap…]

[De… Ko ga d bls….?]

[Tha?… Marah y?]

[De’…. Mas tw hpX dh De matiin. Ntar klo SMS Mas msk cpt d bls yah..? Mas mnt maap bgt… G bs nepatin janji Mas yg kmrn. Key]

 

Sang Rasa

 

Dari pinggir trotoar aku bisa melihat Radith melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya. Ia langsung menyeberang tanpa melihat ke arah kanan terlebih dahulu. Ia lengah dan tidak menyadari bahwa ada sebuah mobil besar dan hitam keluaran Ford melesat ke arahnya.

“Radiiiith…!! Awaaaass!!” aku pun refleks berlari ke arahnya. Ada sebuah naluri untuk menyelamatkan nyawa anak manusia itu. Namun naas, aku juga lengah. Tepat di samping kananku meluncur sangat cepat sebuah mobil Carry yang entah keluaran tahun berapa itu. Dan aku juga sempat melihat sekelebat bayangan Radith tergeletak di tengah jalan yang berlumuran darah. Dia…

 

Sang Rasa

 

31 Desember 2007

Dith.. Inta minta maaf udah ninggalin kamu waktu ngantar Inta ke rumah kapan lalu itu. Sekarang Inta lagi kabur. Inta juga sehat. Udah bawa kartu kredit juga kok.. Maaf banget. Inta belum bisa cerita. Inta bingung mau cerita dari mana. Suatu saat nanti kalau Inta sudah siap pasti Inta bakal cerita. Aku janji. Nitip surat buat Amah ya… Trus tolong telponin Mas bagas dong..! Suruh dia balik ke Kalimantan dulu. Bilangkan kalu Ibu sakit. Nomornya: 081953823488. Jadi hutang amu yang 30 ribu itu aku anggap lunas. Maaf yah kalo aku nggak bisa ngomong banyak tadi. Inta sayang kamu, Dith.. Sama kayak sayang Inta buat Mas Bagas. Kamu udah kayak Kakakku sendiri. Makasih ya Dith… Makasih..

Adikmu..

Inta

 

Sang Rasa

 

31 Desember 2007

Amah… Maaf ya.. Inta udah bikin Amah cemas. Inta nggak bisa jenguk Amah. Maafin Inta ya Mah.. Inta sayaaang banget sama Amah. Mamah juga sayang kan sama Inta? Cepet sembuh ya Mah..Amah harus kuat. Inta tau Amah bisa. Amah harus tegar. Inta sayang Amah..

Anandamu..

Inta

 

Sang Rasa

 

2 November 2012

Inta… Aku sekarang sudah lulus. Aku kangeen banget sama kamu. Tau nggak? Aku sudah menikah sekarang. Tapi bukan sama Bertha. Tapi sama Shinta. Namanya mirip kamu kan? Inta. Shinta. Dia anak keluarga baik-baik. Dia sayang sama aku. Kemarin kami nikah di Masjid Sabilal. Aku suka tempat itu. Amah juga sudah sembuh dari sirosisnya. Ayahmu, Ta. Dia ngedonorin hatinya buat Ibu. Pas kita kecelakaan dulu. Dan… Ayah juga nggak tahu kenapa tiba-tiba hilang setelah sembuh dari operasi. Mas bagas juga sudah lulus. Sekarang sudah buka praktek di rumah. Sambilan katanya. Soalnya di nggak mau jadi dokter nganggur di Rumah Sakit Ulin. Dasar maruk ya kakakmu itu. Padahal kan dokter bedah gajinya sudah besar. Tapi dia memang benar-benar seorang Dokter yang hebat. Nggak sia-sia Ayahmu ngirim dia ke Jawa buat nerusin sekolahnya. Kamu baik-baik ya di sana.. Aku akan tetap sayang sama kamu, Ta.. Sayang kamu. Sama halnya seperti Mas Bagas sayang sama kamu..

Kakakmu..

Radith

 

Setelah selesai menulisnya, Radith memasukkannya dalam amplop dan berjanji akan meletakkannya di atas makam Inta. Pagi ini juga.

 

___ End ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s