Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Resensi Buku

Judul Buku      : Bumi Manusia

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Editor              : Astuti Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Cetakan           : Cetakan 2, Juni 2006

Tebal               : 535 halaman

Bumi Manusia

Roman yang lahir dari tangan Pramoedya Ananta Toer ini adalah roman yang mampu mengisi kekosongan pilihan baca yang berkualitas di Indonesia, dengan mengambil setting naskah tahun 1898 dimana pada saat itu Indonesia masih menggunakan sebutan Hindia. Roman ini adalah seri pertama dari tetralogi Buru yang seri selanjutnya adalah Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Menceritakan Minke, laki-laki berpendidikan yang tidak mau mempertahankan budayanya –Jawa– yang menurutnya kurang pantas untuk terus dijaga khususnya dalam prosesi sembah pengagungan dimana hal itu –menurut Minke– adalah perendahan dan penghinaan diri. Bumi manusia ini menyediakan konflik tanpa akhir dan luar biasa rumit yang diawali dari permintaan Robert Surhoof, teman sekelas Minke, untuk berkenalan dengan Annelies, bidadari rupawan anak gadis dari Nyai Ontosoroh.

Penyemaian kegelisahan dan permasalahan tak adak henti-hentinya usai. Ini membuat Minke, si pria berdarah priyayi, dipusingkan sedemikian rupa dengan perbandingan umurnya yang saat itu masih remaja belia. Ia berusaha sedemikian rupa agar dapat keluar dari tirani kejawen dan menuju manusia bebas dan merdeka yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan peradaban yang menjadi simbol kebesaran Eropa.

Mahasiswa, yang identik dengan pergerakan, pembangkangan, dan perlawanan, mestinya menjadikan buku ini –dan tiga lainnya– sebagai acuan tindakan tersebut. Namun, di sini Pramoedya Ananta Toer memberikan jalan perlawanan tersebut dengan tulisan yang bermuatan dan mutu tinggi yang nantinya dimuat di media massa dan menggerakkan –banyak sekali– fikiran dari tiap-tiap orang yang membacanya sebagai penyelaras kejadian yang sedang hangat dibicarakan.

Buku ini dapat memenuhi keinginan pembaca untuk menambah wawasan dan semangat perjuangan di bidang jurnalis. Memperkenalkan tokoh-tokoh yang tahan gempur mengahadapi deraan seperti Minke, Annelis, Nyai Ontosoroh, Jean Marais, dan Darsam, membuat kita tidak akan membiarkan buku ini lepas dari tangan kita dan terlepas begitu saja di sembarang tempat karena buku ini menyeret kita menuju suasana sejarah dan aktivitasnya yang membuat kita terpesona akan itu. Deskripsi mendetai tentang kejadian, konflik, latar suasana, tempat dan waktu kejadian perkara sudah tidak perlu diragukan lagi keluarbiasaan naskah tersebut dituturkan. Nilai-nilai historis dan nilai sosial akan banyak kita serap sebagai penambah kecerdasan dari kita dalam sisi pembaca.

Dari sekian banyak roman maupun novel Indonesia, Bumi Manusia adalah salah satu novel yang mendapat banyak penghargaan dari negara lain. Diterjemahkan ke dalam lebih dari 13 negara, meninggalkan bukti yang sedemikian rupa bahwa buku ini memang pantas dan layak untuk dijadikan bahan –yang bukan hanya sekedar– bacaan.

Roman yang lebih layak dibaca personal yang berusia di atas 14 tahun ini sama seperti buku-buku yang lain yang juga memiliki kekurangan. Satu yang membuat novel ini kurang greget adalah pemaparan bagian awal dari pengenalan tokoh Minke dan Robert Surhoof. Lepas daripada itu semua, Roman yang dibidani oleh penulis Indonesia bertangan dingin Pramoedya Ananta Toer, sudah begitu luar biasa pengaruhnya bagi dunia sastra Indonesia. Bumi Manusia, lahan kita menggarap konsep dalam fikiran sebagai referensi untuk kita semua bahwa betapa pentingnya kita ”menulis” untuk perubahan dan pemetaan sejarah. Selamat membaca.

Sungguh benar perkataan Minke dalam tetralogi Bumi Manusia, bahwa guru yang baik masih bisa melahirkan bandit yang sejahat-jahatnya, apalgi kalau guru-guru itu sudah bandit pula pada dasarnya.”

2 responses to “Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s