Mandalawangi – Pertaruhan Kewajiban dan Keinginan

“Terimakasih, Pak… Uang pembayaran untuk kotak pos 160 untuk bulan Februari sampai Desember 2009 ini akan saya bayar besok. Mari Pak… Saya permisi dulu,” kataku pada petugas kantor pos yang sudah berbaik hati mau menunggu pembayaran kotak pos milik organisasi kami. Sudah beberapa bulan kotak pos itu tidak dijenguk. Surat yang masuk ke alamat 160 menumpuk. Aku tertatih-tatih membawanya ke dalam angkutan. Kantong plastik besar dari pos itu penuh berisi surat undangan kegiatan, majalah Eiger, majalah lingkungan, dan pernak-pernik lain seperti stiker berjejal berdesakan.

***

            “Tulaki gen Ta ae… Sekalian Kam belajar. Cibodas, cui…” ujar seniorku di organisasi kepecintaalaman yang kerap di sapa dengan sebutan Bang Anggut. Beliau menyuruhku untuk mengikuti pelatihan pertahanan hidup di alam dengan nama Kartini Jungle Survival Basic Course yang diadakan oleh Yayasan Survival Indonesia di Cibodas, Jawa Barat.

            “Ulun kah, Bang? Sorangan? Ulun masih Anggota Muda pulang,kataku pada beliau kemudian.

            “Ai ja… Belajar pang. Kam handak di sini-sini ja kah?” kata beliau lagi.

            “He eh, Ta! Tulaki gen sana. Langsung!” kata seniorku yang satu lagi, Bang Ambo.

            “Wah… Cibodas Bandung. Kapan lagi aku bisa ke tempat itu sendirian? Kalau aku pergi ke tempat itu, apa diizinkan ibu? Kemping ke Mandiangin Banjarbaru saja dilarang. Lalu bagaimana caranya aku meminta izin pada beliau kalau memang aku benar-benar ingin pergi? Pelatihan pertahanan hidup di alam pula. Apa kata beliau nanti?” kataku dalam hati kemudian dengan diikuti pertanyaan spektakuler lainnya yang berhubungan dengan Cibodas. Aku hanya cengengesan menjawab pertanyaan senior-seniorku itu.

            “Inggih Bang… Lun betakun ibu dulu gen lah Bang? Lun bulik dulu… Assalamualaikum…” aku pergi meninggalkan sekretariat. Entah. Aku tidak tahu akan kemana kaki ini akan membawa fikiran yang terus berputar dengan dibarengi denyut kabel dendrit-dendrit yang saling berhubungan di otakku.

***

            “Ibu… Inta mau pergi ke Cibodas boleh? Ada acara lingkungan di sana. Membawa nama Kalimantan Selatan dan mengulas permasalahan lingkungan di sana. Nanti kami juga memperkenalkan budaya Kalsel. Dari Kalsel ada dua orang. Inta dan Kak Vina. Rencananya utusan dari Kaltim juga ngirim dua orang. Kami akan bertemu di Jakarta Pusat, di Universitas Nasional. Setelah itu, kami berangkat bersama-sama ke Cibodas. Soal dana, ibu tidak usah khawatir. Biayanya di tanggung kampus…” aku terdiam

Gimana Bu? Inta boleh ikut?” kataku kemudian. Tidak ada suara yang menyahut dari seberang sana.

“Memang tidak ada orang lain lagi selain kamu to, Nduk? Ngapain to ke sana-sana segala. Lha kuliahmu piye to Nduk… Jawa itu jauh lho. Nyebrangi laut ikuLha trus ibu gimana di sini kalau kamu ke Bandung. Ibu kan bisa kepikiran kamu terus, Nduk…” kata beliau kemudian. Aku perlahan berbicara kepada beliau mengutarakan sedikit demi sedikit mengapa aku harus pergi ke Cibodas. Namun, sama sekali aku tidak menyinggung bahwa aku juga akan pergi ke gunung untuk pelatihan pertahanan hidup. Kalau beliau sampai tahu, tidak akan ada izin. Sebisa mungkin kurayu beliau.

Yo wes lah kalau itu maumu. Minggu ini kamu pulang ke rumah to? Ngomong di rumah saja… Ibu mau masak dulu. Seng bener kuliahe… Assalamualaikum,” dan klik, bunyi sambungan telepon ditutup terdengar. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku berbohong tetapi tidak berbohong. Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Hanya saja, aku tidak menyertakan kata ‘pergi ke gunung’ dalam percakapan antara aku dan ibuku tadi. Ibu, maafkan anakmu yang durhaka ini.

***

            “Kamu ini piye to? Kan ibu sudah bilang nggak boleh. Kalau nggak boleh itu, ya nggak boleh. Ngeyel kamu to Nduk? Mulai berani to sama Ibu. Kamu di sekolain jauh-jauh itu untuk bekal kamu bekerja. Nggak ndenger apa yang sudah ibu bilang kemarin to kamu itu? Jawa itu jauh. Nyebrang laut. Kamu pengen ibumu ini cepet mati kah Nduk gara-gara mikirin kamu… Nggak sayang lagi sama ibu bapak? Pengenmu iku opo to? Kamu pengennya kalau sudah sampai di Jawa baru bilang ibu atau gimana? Kalau mau ke Jawa, nanti. Bareng sama ibu bapak. Lebaran nanti kan kita ke Jawa juga. Ya Allah, Sin… Piye to kamu itu!”

            “Ya Allah, ibu… Nggak gitu.. Nggak Bu… Kan kemarin ibu bilang, Inta boleh berangkat. Bapak juga,” air mataku seketika berjatuhan. Aku tersedu-sedu. Winda dan Aan yang ada di hadapanku kebingungan melihatku menangis.

            “Nggak usah nangis, kowe. Manut ibu opo bapak to kue iku nduk? Terserah kue wae lah. Ibu males ngurusi kamu lagi.”

            Tak terdengar lagi bunyi telepon di seberang sana. Suara ibuku yang sempat terdengar gusar tadi lenyap. Aku memeluk kedua kakiku dan menangis sejadi-jadinya di dalam ruang kerja sekretariat. Tiket penerbangan Banjarmasin-Jakarta hanya bisa diam di pojokan ruangan. 2 hari lagi aku insya allah akan berangkat ke Bandung.

***

            Siang itu kakak sepupuku yang ada di rumah menelpon dan mengatakan bahwa ibu menitipkan koper padaku. Beliau berkata bahwa ibu menitipan koper itu sambil menangis. Beliau bercerita pada kakakku yang kebetulan ingin ke Banjarmasin. Mataku mulai panas dan memerah mendengar apa yang beliau katakan. Seumur hidup, aku tidak perah membuat ibu menangis. Aku membayangkan neraka ada di hadapanku. Ya Allah… semoga perjalanan ini akan baik-baik saja.

            Siang harinya ibu menelpon dan menyuruhku untuk mempersipkan semuanya dengan baik. Beliau menasehatiku dengan berbagai hal dan memintaku untuk pulang ke rumah pagi-pagi sekali sebelum keberangkatan. Keluarga di rumah ingin mengantarku pergi ke Bandara.

            “Inggih, Bu…” kataku kemudian.

            Kesokan harinya, aku menyempatkan diri untuk pergi ke kampus untuk mengikuti Ujian Tengah mata kuliah Semantik. Kemudian aku langsung meninggalkan kampus setelah sesaat berpamitan dengan Winda, Ifah, Wina, dan teman-teman yang lain. Sesampainya di rumah, keperluanku di Cibodas di tanyakan lagi oleh ibu. Beliau tidak mau anak semata wayangnya ini kekurangan sesuatu apa pun di sana. Ibu tidak banyak berbicara seperti biasanya. Ia hanya berbicara sepatah dua patah kata yang penting saja. Aku bisa melihat jelas kedua bola matanya merah. Aku yakin, itu semua gara-gara aku. “Ya allah… anak seperti apa sebenarnya aku ini…” batinku perlahan.

            Kami tiba di bandara sekitar pukul 4 sore. Pesawatku akan lepas landas dari Banjarmasin pada pukul 6 sore. Ibu sepertinya sudah sedikit tenang. Di perjalanan menuju bandara tadi, beliau tidak berkata sepatah kata pun. Ibu memberikan wejangan-wejangan pada putri tunggalnya ini. Aku.

 Aku yakin sekali beliau sangat berat melepasku. Aku yang penurut dan seperti gadis pingitan ini tidak disangka-sangka akan melanglang buana sendiri tanpa ada beliau di sisi. Ayah yang selalu mendukung apa yang aku kerjakan, hanya bisa mengelus dada melihat ibu dan aku. Mataku merah saat aku ingin masuk ke ruang tunggu. Aku mencium tangan ayah dan keluarga yang turut mengantar keberangkatanku. Terakhir, aku mencium dan memeluk ibu sebelum meninggalkan beliau.

“Hati-hati di sana, Nduk.. Jaga diri baik-baik…” kata ibuku. Aku mengangguk. Mataku sembab.

***

            Ibu dan bapak selalu menanyakan keadaan dan aktivitas yang aku lakukan. Aku mulai khawatir apabila nanti telepon genggamku akan di non-aktifkan selama 5 hari kegiatan di Pegunungan Geger Bentang. Aku harus memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuaku. Kuambil telepon genggamku dan kuhubungi beliau segera untuk memberitahukan hal tersebut. Aku akan melakukan aktifitas kepecintaalaman. Mana mungkin aku bisa menelpon beliau. Bisa jadi, telepon genggamku akan di sita oleh panitia kegiatan.

            Selama 5 hari, aku berada di dalam lebatnya Pegunungan Geger Bentang. Banyak materi yang aku dapat pada pelatihan itu. Bagaimana memilih tumbuhan yang dapat dimakan, buah yang bisa di konsumsi langsung, jamur yang beracun, manajemen perbekalan, cara membuat api, membuat jebakan hewan, cara mencari sumber air, memasak dengan bambu, mendirikan bivack alam dan buatan, penyebrangan basah, serta materi tentang ular. Suhunya Geger Bentang lebih tinggi dibandingkan dengan di sekretariat Yayasan Survival karena posisinya ada di antara lembah-lembah pegunungan dimana tempat tersebut adalah tempat bertemunya angin dari puncak gunung. Pada malam terakhir acara KJSBC tersebut, peserta dari luar pulau Jawa sepakat untuk melakukan pendakian ke Gunung Gede-Pangrango-Putri setelah acara ini selesai. Sangat disayangkan apabila peserta yang berasal dari jauh tidak menginjakkan kakinya di puncak itu. Akhirnya, keputusan pun di buat.

***

            Kami, 6 orang peserta dari luar pulau Jawa ditemani 2 ranger yang tidak lain adalah panitia kegiatan sendiri, menempuh perjalanan dari Kandang Badak, Puncak Pangrango, dan menuju Lembah Mandalawangi.

            “Abang… apakah boleh membawa bunga edelweiss ini pulang? Untuk ibu di rumah Bang. Sedikit, saja. Bagaimana?” kemudian kuceritakan panjang lebar bagaimana aku bisa mengikuti acara ini. Bang Daway hanya bisa tersenyum simpul mendengar penjelasanku. Ada peraturan perundangan yang menyebutkan bahwa bunga edelweiss yang ada di Lembah Mandalawangi, Gunung Gede, maupun yang ada di Lembah Surya Kencana tidak boleh di petik atau di bawa pulang. Di pos akhir, akan ada pemeriksaan apakah para pendaki membawa bunga tersebut. Sangsi ringan yang dikenakan adalah mengembalikannya kembali ke tempat semula. Sangsi yang terberat adalah hukuman penjara.

            “Ambil yang kuncup. Supaya nanti sesampainya kamu di sana bunga itu akan mekar perlahan. Nanti biar aku yang sembunyikan di pos,” kata beliau kemudian.

            Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Puncak Gunung Gede. Kami menuju puncak melewati tanjakan setan. Dinamakan demikian karena memang kemiringan menuju puncaknya sangat curam. Hujan deras menguyur kami saat hendak mencapai puncak Gede. Kabut tebal turun dan menyelimuti puncak dengan segera. Aku hanya bisa melihat samar-samar teman-teman yang lain. Kak Vina tertingal di belakang. Jalan yang kami lewati semakin menanjak dan berbatu. Kawah menganga ada di sebelah kiri kami dan jurang gunung Gede berada tepat di samping kanan jalan yang kami lalui. Awan hitam tak tanggung-tanggung mengeluarkan petir dan guntur ke penjuru bumi. Suaranya yang menggelegar terdengar selalu. Yang ada di fikiranku sekarang adalah bagaimana sampai di puncak dengan segera. Bayang-bayang Bang Daway sudah hampir tak terlihat. Tak henti-hentinya aku berdoa. Agar aku selamat. Agar aku bisa bertemu ibuku lagi.

Carrier yang kubawa terasa semakin berat. Ransel besar itu membuatku semakin lemas. Udara dingin semakin menusuk ke sum-sum. Baju yang kupakai basah semua. Aku tidak membawa pakaian ganti. Yang kusimpan di dalam ransel hanya sebuah jaket yang terbuat dari wol. Aku yakin bahwa aku bisa bertahan di kondisi ini. Namun, itu hanya awalnya saja. Sekarang aku begitu takut. Takut kalau tiba-tiba aku mengalami hypothermia. Aku tidak mau.

***

            “Pakai bajuku. Nanti kamu bisa kedinginan…” ujar Mba Rena, yang berasal dari Surabaya padaku. Setelah tadi mendirikan tenda dari flysheet*, kami langsung membagi tugas memasak.

            “Nggak ah Mba… Terimakasih. Kan ada jaket?” kataku.

            “Pake! Aku masih ada baju cadangan di ransel,” katanya sedikit membentak padaku. Aku memang kadang keras kepala. Terpaksa aku harus menurut pada Mba yang satu ini.

            “Behapal Nyawa nih Ndut ae. Tau ja ndak naik maka kada mambawa baju ganti,” Ka Vina menegurku kemudian. Wajahnya menampakkan ekspresi yang lucu. Beliau memarahiku sambil tertawa dan kusimpulkan itu adalah ekspresi rasa sayangnya padaku.

Setelah semua selesai, kami makan bersama. Bang Daway menyuruh kami keluar tenda untuk menyaksikan pemandangan kota Bandung dan Jakarta dari puncak Gunung Gede. Perasaan gembira yang luar biasa itu tak akan pernah ditemukan di kota-kota besar. Kebahagiaan dan kebanggaan tiada tara menyaksikan kerlip ibukota negara dari tempat yang begitu strategis. Di luar udara dingin menyergap kulit kami. Rintik tipis hujan mulai reda. Setelah puas, kami bersiap-siap tidur untuk meyiapkan tenaga untuk pulang esok hari. Kami mengobrol sebelum tidur. Bercanda hingga waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Satu persatu dari kami tertidur dan terbawa ke alam mimpi. Malam itu aku tidak bisa tidur. Bang Budi yang tidur di hammock* bertanya mengapa aku tidak bisa tidur. Aku jawab saja tidak tahu. Memang demikian keadaannya. Perasaanku tidak enak. Kepalaku mendengaungkan sebuah kata. Hypothermia. Hypothermia. Hypothermia. Aku ketakutan setengah mati. Hypothermia adalah saat seseorang tidak tahan berada di suhu yang rendah dan cuaca yang teramat dingin dan mengalami ketidak sadaran sel otak sehingga penderitanya berbicara seperti orang mabuk. Penderitanya pada titik tertinggi dapat mengalami kematian karena tidak tahan pada kondisi suhu rendah tersebut. Penderita Hypothermia tidak boleh tidur, karena nyawanya akan melayang apabila ia tidur. Aku tidak mau tidur. Aku takut. Begitu takut. Tiba-tiba semua menjadi samar dan gelap.

***

            Malam ini sekretariat Yayasan Survival sepi. Dari 13 orang yang mengikuti pelatihan, yang ada hanya kami berempat menyiapkan barang-barang untuk di bawa pulang. Dua orang teman kami yang berasal dari Kalimantan Timur sudah lebih dahulu pulang. Sebenarnya mereka ingin tinggal lebih lama. Namun, tugas lain di pulau Kalimantan sudah menanti. Kami baru akan pulang esok hari. Pukul 14.00 WITA siang tadi kami sampai di sekretariat. Rasa lelah menggelayut sedemikian rupa di pundak kami. Semoga banyak hal yang dapat aku bagi dan manfaatkan setelah kembali ke Banjarmasin. Aku di bingung sendiri di malam terakhir itu. Uang kami tinggal sedikit. Aku mengatur pengeluaran seminim mungkin. Namun, tetap saja persediaan uang di ATM semakin menipis. Sementara ibu di rumah sudah menunggu.

            Keesokan harinya kami berpamitan dengan seluruh teman dan panitia. Kami masih harus mampir ke ITB Bogor dan mencari tiket pesawat untuk kembali ke Banjarmasin. Dengan sedikit bekal daftar rute perjalanan yang dilengkapi jumlah yang harus kami bayar di tiap angkutannya, kami melanjutkan perjalanan. Mba Rona yang berasal dari Padang berangkat bersama kami menuju Stasiun Topi, Bogor. Kami berpisah di tempat itu. Sedih rasanya meninggalkan semuanya. 8 hari menghabiskan waktu bertahan hidup di pegunungan, berbagi perbekalan, lelah, letih, takut, dan perasaan bahagia yang membuncah bersama bukanlah waktu yang singkat. Menyaksikan keagungan Tuhan bersama-sama di ketinggian 3.333 mdpl bukan hal yang mudah untuk dilalui. Tetap saja, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan.

***

 “… If a caver is knocked out by a falling rock while on a rope, or becomes unconscious for some other reason, you need to be able to get them off the rope as fast as possible. A person lying unconscious in their SRT harnesses may start to suffocate due to construction of the chest harness, or possibly due to choking on their tounge…”

Kulepas kacamataku sejenak dan membiarkan mataku bebas mengerjap-ngerjap. Aku merasakan kepalaku mulai berputar-putar. Membaca materi Single Rope Technique* yang menggunakan Bahasa Inggris membuatku pusing. Mataku berkeliling mengamati penumpang Damri jurusan Baranangsiang-Bandara Soekarno Hatta yang melaju dengan mulus di tol. Di pintu Damri sebelah kiri bagian depan, kondektur berbincang-bincang ringan dengan Pak supir. Seragam Batik mereka rapi dan bersih. Sopir bus di Kalimantan jarang yang seperti itu. Atau bahkan mungkin tidak ada. Sementara tepat di depanku, seorang ibu sibuk menenangkan buah hatinya yang sedari tadi merengek-rengek ingin turun dari bus. Kak Vina, seniorku di organisasi pecinta alam, tertidur di bahuku dan meringkuk kedinginan. Mapala yang satu ini lucu. Tidak tahan dengan AC. Aku kembali memusatkan perhatianku pada kertas-kertas materi kepecintaalaman setelah sebelumnya memperhatikan bangunan kumuh yang kontras dengan departemen store dan perusahaan bertaraf internasional yang menjulang tinggi di kiri-kanannya. Biar sajalah. Kupasang kacamataku dan memusatkan fikiran untuk materi vertical rescue*.

“Ibu… Andai penerbangan pesawat kali ini mengalami kegagalan untuk tiba di Banjarmasin dengan berbagai macam alasan, hingga kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, semua itu akan membuatku sangat tidak tenang di alam sana seandainya itu benar-benar terjadi. Apabila pesawat yang akan kutumpangi kali ini mendarat dengan mulus, setibanya di rumah, aku berjanji untuk terbuka terhadap semua hal yang berhubungan dengan organisasiku. Aku tidak ingin pergi tanpa restumu, Bu… Alhamdulillah pendakian ke Gunung Gede-Pangrango-Putri kemarin berjalan lancar. Ibu… doakan aku selamat sampai tujuan…” kepalaku mendengungkan kata-kata itu sementara bis melaju di tengah jalan tol kota ibukota Indonesia. Semakin dekat bus itu menuju Bandara Soekarno Hatta, semakin besar ketakutan dan kebahagiaanku terhadap Ibu. Bunga Edelweiss dari Lembah Mandalawangi itu tersimpan rapat di kotak kecil yang kusisipkan di saku celana. Untuk Ibu.

Keterangan:

Single Rope Techniques:   Teknik Satu Tali atau yang lebih dikenal dengan SRT adalah teknik yang sering digunakan bagi penggiat alam saat akan melakukan eksplorasi flora dan fauna di kawasan karst dari gua vertikal. Namun, seiring berjalanan waktu dan berkembangnya teknik prusiking abseiling dan rafling, dikenal pula istilah Double Rope Techniques (Teknik Dua Tali).

 

Vertical Rescue: Pertolongan dengan cara vertikal yang menggunakan peralatan untuk menolong korban.

Hammock : ayunan yang bisa dijadikan kantong tidur

Flysheet: sejenis terpal tipis yang sering dipakai untuk membuat tenda buatan pada saat pendakian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s