Nyanyian Adinda Untuk Saijah – WS Rendra

(1) Di Kalijodo aku menyanyi di dalam hati.

Kawih asih seperti pohon tanpa daun.
Mengandung duka seperti pohon tanpa akar.
Saat adalah malam menanti pagi.

(2) Saijah, akang!

Tanpa petunjuk dan jejak yang nyata
tembang cintaku yang berdebu
mencari kamu.

(3) Sebelum sepuluh tahun yang lalu

cintaku tabah lagunya menderu.
Tapi kini ia jengah.
Merayap dengan penuh rasa malu.

(4) Akang, aku telah berdosa,

Tanpa daya aku nodai cinta.

(5) Tak lama setelah akang berangkat ke Sumatra,

aku gelisah dalam jaring rindu asmara.
Setiap menjelang masa datang bulan
wajahmu selalu membayang.
Rasanya seperti menjadi gila.

(6) Setiap kali memuncak rasa rindu

rasa gatal menjalar ke puting-puting susu.
Rasa geli yang lembut di seluruh kulit perut.
Sungai darah di tubuhku bergolak.
Aku terengah-engah
dan bernafas lewat mulut.
Akang, alangkah berat rasanya
bila jantungku berdetak
jauh dari jantungmu.

(7) Pada suatu hari

di masa aku linglung oleh rindu kepadamu
aku kenal lalaki seperti seorang bapa
di balai desa.
Ia mandor proyek jalan raya.
Di desa yang dirundung kemiskinan
ia menjadi harapan dan hiburan.
Suka berbagi rokok
mampu memberi pekerjaan.
Royal dalam pergaulan
dan kata-katanya mengandung keramahan.
Waktu itu aku berjualan kue ketan,
pisang rebus dan nasi dengan sayuran.
Ia selalu memborong sisa dagangan.
Kepada buruhnya dibagi-bagikan.
Aku terpesona kepada kemampuan uangnya
dan sikapnya yang seperti bapa.
Kepadaku ia selalu berkata
jangan ragu nyusul akang ke Sumatra.
Dan bila di balik rumpun pisang
ia memeluk pundakku
tangannya terasa hangat dan nikmat
membuat hidupku jadi sentosa.

(8) Lalu datang surat akang dari Menggala.

Akang bilang mau membuka ladang di Karta.
Aku kembali linglung dan gila.
Dada menjadi tungku dan rindu menjadi bara.
Kepada Pak Mandor aku bercerita semuanya.
Kembali pundakku merasakan pelukannya.
Dalam kedamaian yang hangat ia berkata:
“Siapkan dirimu.
Seminggu lagi kuantar kamu
menyusul Saijah ke Sumatra.”

(9) Ya Allah, seumur hidup belum pernah keluar desa.

Kini gerbang kurungan tiba-tiba terbuka.
Keluasan dunia menjadi goda yang mempesona.

(10) Seluruh warga desa memberi restu

waktu kami pamit berangkat ke Sumatra.
Di dalam bis ia genggam tanganku.
Rasanya sirna hidup yang miskin dan sengsara.
Kami melaju ke arah surya.

(11) Apa tahuku tentang jalan ke Sumatra!

Tapi toh aku ada pandu, ada bapa.
Ia mengajak nginap di Karawaci.

(12) Di waktu malam ia mengetuk pintu.

Ia memberiku kain, selendang dan baju baru.
Ketika aku meluap oleh rasa gembira
ia memelukku dengan tiba-tiba.
Tubuhnya rapat ke seluruh tubuhku.
Susuku yang kenyal tertekan ke dadanya
menyebabkan darahku bergelora.
Tak bisa bilang tidak.
Kepalaku hilang di dalam kemabukan
ketika ia bertubi-tubi
menciumi wajah dan leherku.

(13) Malam itu ia mabil perawanku.

Keperkasaannya menindih kesadaranku.

(14) Akang, sejak malam itu di Karawaci

aku telah menodai cinta kita.
Aku telah menjamah dosa
dan melengkapkannya ke dadaku.
Ya, akang, aku telah menikmati candu dunia.

(15) Malam itu

sambil terlentang dengan lunglai
dan mendengar ia mendengkur di sampingku
aku telah bertekad
untuk menyerahkan jiwa dan ragaku
kepada lelaki itu.

(16) Aku pikir aku akan jadi istrinya.

Ternyata ia hanya ingin menjadi tuan.
Dan menikmati diriku selama sebulan.
Tetapi aku ikhlas mengabdi
tanpa melawan.

(17) Selanjutnya pada suatu hari

ia bawa aku ke Cikupa.
Di mana semua orang mengenalnya.
Memang benar ia mandor
tetapi rupanya
ia juga majikan pelacuran.

(18) Bagaikan tertenung

aku menikmati cinta dan derita
aku selalu mematuhinya.
Aku menjadi pelacur kesayangan.
Di antara para sopir truck menjadi rebutan.

(19) Aku menjadi dagangan yang menguntungkan.

Diedarkan ke Karawaci,
Cimone, Cikupa, dan Balaraja.
Di Cilegon aku diantri.

(20) Di Karawaci sampai ke Merak

di sepanjang jalur jalan pembangunan,
dari desa-desa yang porak poranda
muncullah gadis-gadis remaja
mejandi bunga di warung-warung pelacuran.

(21) Pabrik dan pelacuran

adalah satu pasangan.
Orang Korea, Jepang, dan Jerman,
semua sudah aku rasakan.
Adalah di Cilegon
aku pertama kali terkena rajasinga.

(22) Dengn tabah aku lawan penyakitku.

Di jagat raya tidak kurang obat-obatan.
Dan ketika kembali seperti sedia kala
majikan membawa aku ke Ancol, Jakarta.

(23) Jakarta, oh, Jakarta!

Pohon lampu-lampu neon.
Sungai raya dengan arus mobil dan bis kota.
Langganan yang bersih dan kaya.
Setiap subuh sarapan di restoran
Bangun siang terus ke toko berbelanja.

(24) Hidup rasanya seperti mimpi.

Tanpa bumi.
Banyak yang terjadi.
Tanpa ada yang masuk ke hati.
Aku hanyut di dalam aneka pengalaman
di mana selalu bukan aku yang berkuasa.

(25) Segala ingatan kepadamu, akang

segera aku singkirkan.
Rasa malu kepadamu
aku benamkan ke dalam batin kebal rasa.

(26) Rajasinga demi rajasinga aku kalahkan.

Sampai pada suatu hari
aku merasa demam tinggi
dan tubuhku serasa tanpa tulang.
Sejak saat itu
aku dirundung sakit tak tersembuhkan.
Sakit kepala sering datang tiba-tiba.
Rasa lemas tanpa daya.
Kanker rahim.
Berulang kali keputihan.

(27) Bagaikan barang rongsokan

nilaiku merosot
menjadi pelacur ketengan.
Mengembara ke Kalideres,
Muara Angke, Tanah Abang Bongkaran,
dan Jati Petamburan.

(28)Sebagai mahluk setengah bangkai

aku terlindung di tempat-tempat ini.
Yang sudah sah
menjadi gua-gua sampah.
Aku bercampur dengan mereka.
Cendawaan-cendawan kehidupan.
Menghibur para lalaki kumuh
yang pura-pura lupa kemiskinan.

(29) Akhirnya, akang

aku tersingkir ke Kalijodo.
Tanpa rumah.
Tanpa kesehatan.
Tanpa perlindungan.

(30) Kini, di malam hari

teronggok di tepi jalan raya ini,
sambil menghadap kiblat arah desa kita,
aku merasa mengambang
di udara yang gelap-gulita.
Seakan aku mabuk dan mati rasa,
jasadku tak berdaya.
Dunia lenyap.
Segala macam peristiwa berlalu.
Namun tanpa aku duga,
di dalam senyap muncul wajahmu.

(31) Ada kehangatan terasa di jidatku.

Kepada bayangan wajahmu
aku tembangkan kawih asih yang berdebu
dengan mulutku yang bisu, biru, ternganga, dan kaku.

(32) Akang, kamu seperti dewa.

Sangat jauh dan mulia.
Maafkan aku sudah berdosa.
Tembangku ini, akang
ingin bergayut di puncak bambu.
Sia-sia
Ia disambar truck gandeng yang lewat menderu.

(33) Bila tembangku ini selesai, akang,

aku mati.

Depok, 14 Januari 1991

2 responses to “Nyanyian Adinda Untuk Saijah – WS Rendra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s