Menggadaikan Hidupku, Untukmu.

Saya meyakinkan diri saya untuk mengerti. Saya meyakinkan diri saya sendiri untuk memahami semua hal yang berkaitan tentang kamu. Terkait banyak hal yang di sebut dengan perpisahan. Kita tidak penah tahu siapa yang mendampingi diri kita di masa depan. Kita masih bisa memilih. Dia pun masih bisa memilih. Kamu pun memiliki prioritas untuk memilih. Terkait itu, yang sangat mungkin, bukan aku. Berat sungguh cerita ini ingin aku tulis. Dan harusnya mengharu biru melibatkan perasaan dan emosi. Harusnya ditulis sepanjang yang bisa ditulis karena ini sejarah. Harusnya aku tulis dengan detail peristiwa dan sebagainya. Waktu dan dokumentasi. Aku sungguh sangat bermimpi. Namun, karena ingin menjaga harga dirimu, karena sayangku buat kamu, aku tidak dan membiarkan kisah hidupku yang hanya satu kali ini terdokumentasi detail. Biar saja orang di luar sana bertanya-tanya.

Kamu, laki-laki yang paling dekat dengan saya, sudah berkata bahwa seseorang mengajakmu menikah. Aku tidak tahu hubungan fisik dan batin aku dan kamu, kau anggap apa. Dan sebagai orang awam, aku tidak tahu perasaan jelasmu. Kita hanya terus bertengkar sejak aku lebih banyak tahu tentang masa lalu dan perempuan yang pernah kau ajak untuk menikah. Aku sudah berterima dengan semua. Aku tahu. Aku faham. Aku menerima. Namun mungkin yang salah adalah aku karena menduga takdir besar ada di hadapanku. Menikah. Ah! Tolol! Aku hanya bermimpi selama ini untuk mendampingi hatimu. Aku hanya terus bermimpi hidup berdua denganmu. Mimpi!

Bahkan ketika perempuan itu datang, aku berubah menjadi penjahat dan memasang topeng A. Yang seolah tegar, yang seolah bahagia, yang seolah tak terjadi apa-apa, yang seolah baik-baik saja, yang seolah duniaku penuh tawa dan gembira, yang seolah aku tahu benar kalian berdua akan segera menikah, dan seolah aku ini adikmu, seolah aku ini..hanya mengikuti alur dan menjadi pionmu.

Aku meyakinkan diri sendiri bahwa Agung Prasetya Tri Witjaksana adalah teman hidupku kelak. Lelaki yang mengejar Adzan itu. Ya. Saya terpukau. Hanya kagum, hanya dalam batasan kagum. Kondisi sebenarnya adalah aku membanting setir ke kanan ke arah mobil yang sedang laju-melaju-kejar-mengejar. Meyakinkan diriku sendiri dan membuat diriku seolah-olah bahagia. Membuat senyum-senyum palsu yang kupelajari dari search engine google. Agar aku bisa menyodorkan senyum palsu bagi banyak orang dan seolah tak terjadi apa-apa di antara kita seperti sebelum-sebelumnya. Aku tidak tertarik meladeni lelaki lain selain kamu. Harusnya kau tahu benar itu. Statusku itu pun tak semua benar. Pun tak semua palsu. Aku menipu diriku sendiri. Kejahatan ini aku lakukan pada diriku sendiri. Agar aku bisa menipu diriku sendiri bahwa ketika kau memang benar-benar pergi, aku akan tegar karena diriku yang satu lagi sudah berhasil menipu diriku yang sebagian, tentang tidak adanya lagi kamu di hidupku.

#WAPQualityTime? hhaha bodoh! Waktu yang berkualitas dengan Agung yang kuhabiskan beberapa jam itu, adalah cadangan energi baru untuk aku hidup beberapa tahun kelak. Karena bagiku, dia seolah kakak. Dia seolah teman. Dan rekan kerja di ujung jalan.

Aku menutupi statusku agar tak terbaca bahwa yang kufikirkan sepanjang waktu adalah kamu. Si bodoh ini, memang terlalu bodoh dan gampang dibohongi. Rasa sayangmu yang jauhhh lebih besar pada perempuan yang pernah kau lamar itu, aku faham. Rasa sayangmu yang jauhhh lebih besar pada perempuan yang pernah kau lamar itu, akubisa baca. Rasa sayangmu yang jauhhh lebih besar pada perempuan yang pernah kau lamar itu, aku bisa menerima. Tapi tolong jangan buat aku menderita lagi yang bertambah-tambah dengan redaksimu dan pandangan negatifmu terhadap hubunganku dengan orang. Apakah kau berfikir aku bisa dengan mudah menyalakan perasaan kepada orang lain? Membolak balikkan hati dengan sekali tatapan mata dan pertemuan, atau apalah itu? Ini sungguh berat bagiku, bang. .berat. . .

Aku membuat dunia baruku sendiri dengan meyakinkan diri bahwa aku akan benar-benar bahagia bersama WAP yang aku tahu aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengannya. Aku ingin mengikhlaskanmu. Aku ingin pergi darimu. Aku ingin menjauh dari hidupmu. Aku ingin mendepakmu dari hatiku. Tapi, bantu aku. Tapi jangan sudutkan aku. Tapi tolong dukung aku. Untuk mengusirmu dari fikiranku. Kumohon..

Ketika aku memiliki keperluan, dan aku ingin menutupinya darimu, aku tidak mesti bertemu dengan calon suami atau apalah itu. Kau jangan menyudutkanku dengan itu. Kau jangan ingin menang sendiri dengan bisa memilih dan menentukan.

Kamu jealous jika aku bersama teman-temanmu. Kamu jealous jika aku suatu saat menikah dengan orang-orang di dekatmu. Itu katamu.

Iya. Sudah aku lakukan. Sudah aku laksanakan.

Cari lelaki yang jauh dari lingkupmu. Lingkunganmu.

Iya. Sudah aku lakukan. Sudah aku laksanakan.

Aku menjual hidupku untukmu.

Apa kau masih merasa kurang? Apa kau masih ingin yang laindariku? Apa kau masih ingin lebih jauh mengatur masa dewasaku dan masa tuaku? Teman hidupku nanti bahkan akan aku pilih berdasarkan keinginanmu nanti..

Apa kau kurang puas dengan itu?

Aku memang tidak beruntung untuk hidup bersama-sama denganmu. tapi jangan lakukan yang lebih dari ini padaku. Kumohon. . .

Aku memohon padamu..

Dalam doa di penghujung malamku, tak luput aku sertakan kamu. Tiap perjalananmu, tak luput kusertakan doa untuk keselamatanmu dalam singsingan fajar. Tiap kesulitanmu, tak pernah alpa aku meminta untuk kemudahan urusanmu.

Aku sudah melepasmu sejak lepas lebih setahun lalu. Dan kau yang mendekatiku lagi, membreak down benteng kesadaran itu, tolong. Tolong jangan semena-mena merusak psikologiku yang tidak mudah di atur ini. Kumohon. . .

Dengan oarang lain atau siapapun kau kelak, itu prerogatifmu. Juga keluarga besarmu. Juga hati dan hidupmu. Berikan aku sedikit dunia kecil untuk bernafas, bang.. Melepasmu, itu sama saja melepas dunia baru yang begitu besar aku bangun..

So please help me!

Aku ingin hidup bahagia. . .

Best Regards

Shinta Ayu Pratiwi

KWKS, 06.18pm

6 November 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s