Free, Prior, Inform, and Consent / FPIC (Part 1)

Free, Prior, Inform, and Concern (FPIC) ini adalah persetujuan bebas tanpa paksaan. Persetujuan yang bisa berupa pernyataan ya atau tidak kepada perusahaan atau industri yang masuk. Ini adalah hak masyarakat adat untuk mendapatkan informasi sebelum sebuah program atau sebuah proyek investasi dari pihak perusahaan atau pemerintah yang akan dilaksanakan dalam wilayah masyarakat itu. Dan berdasarkan informasi tersebut, masyarakat dapat menentukan pilihan mereka baik menerima maupun menolak pihak-pihak luar atau bahkan pemerintah yang ingin masuk ke wilayah mereka.

FPIC ini, ketika ada pihak luar, investor, atau pembangunan pemerintah yang akan masuk ke wilayah masyarakat adat, mereka harus memberikan informasi yang benar-benar jelas pada masyarakat itu yang melibatkan seluruh masyarakat yang akan menjadi tempat mereka masuk. Terkait tujuannya, maksudnya, bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh masyarakat. Mereka harus memberikan waktu yang luas pada masyarakat itu untuk menentukan pilihan menerima. Berfikir untuk menyetujui atau menolak. Waktu tersebut diberikan agar masyarakat dapat berkomunikasi antar masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain untuk memproses informasi dari infestor atau masyarakat yang masuk tadi. Mereka berkomunikasi untuk memikirkan dampaknya atau bahkan hal positif yang akan di dapat ketika proyek tersebut masuk ke wilayah  mereka.

World Bank sebagai bank para investor perusahaan yang bekerja di wilayah kita, hanya menyarankan Consultation. Maksudnya ya hanya konsultasi. Misalnya ada yang mau masuk ke wilayah Tenggarong. “Pak, mau masuk nih,” sudah, begitu saja. Yang penting masyarakat tahu. Padahal masyarakat harus diberikan waktu luang yang banyak untuk berfikir, menelaah apa dampaknya, baik itu positif atau bahkan hal yang negatif. Mereka berhak untuk mengatakan tidak setuju adanya pembangunan di wilayah tersebut.Tapi kendalanya adalah masyarakat basis itu tidak mengetahui apa itu FPIC. Pun CO yang mendampingi masyarakat basis belum banyak mengetahui tentang FPIC ini. Mereka tidak tahu bahwa masyarakat berhak berkata iya atau tidak.

Mengenai proses masuknya sawit, kebanyakan, dalam banyak kasus di masyarakat, sawit masuk dengan cara memecah belah. Contohnya, investor asing yang masuk ke suatu wilayah, misalnya Muara Tae dan Mancong. Dua wilayah ini dulunya satu lamina tau satu rumah, satu keluarga, dan jika di tarik keturunan itu satu kakek. Kemudian, sawit masuk dengan memecah belah

*BERSAMBUNG*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s