Sepucuk Surat di Pembuka Malam

Asslm…

Semoga saat surat ini diterima, kita masih diberikan umur untuk menikmati dunia yang begitu indah dan rumit ini.

Hai! Sudah hampir Ramadhan ya.. ? Sepertinya sudah sangat lama kita tidak melakukan komunikasi. Mungkin, itu memang lebih baik (untukku). Maaf kalau pake ‘kau’ ataupun ‘aku’. Mungkin memang nggak sopan. Tapi, kalau nggak pake itu, tulisan ini juga nggak bakal ‘jadi’.. Akan lebih bisa ditolelir mungkin ketika menyebut kau atau kamu daripada ‘Anda’. Pendapat pribadi, memang.. ?

Kak, ternyata yang namanya perjalanan itu harus di tempuh dengan banyak rintangan dan pertimbangan ya. Aku baru-baru saja tahu itu. Mungkin, kau sudah banyak tahu tentang itu. Dan, rasanya juga sangat bingung harus memulai darimana. Ahh..aku sudah tidak peduli lagi tetang apa yang akan kau fikirkan tentang apa dan bagaimana aku. Dalam fikiranmu mungkin aku ini adalah perempuan yang dipenuhi unsur negatif. Aku sendiri juga nggak akan peduli atas hal-hal buruk atas predikat yang kau stempelkan di wajahku itu. Aku menghormati presepsimu tentang aku. Seburuk apapun prasangkamu.

Kak.. Menjadi suatu kebanggaan sebenarnya menjadi seseorang yang lebih bijak untuk mengatur bagaimana kita bisa berubah ke arah yang lebih baik, ke arah yang lebih terang. Dan sekarang, aku dalam proses belajar melakukannya. Aku tahu.. Tuhan selalu nunjukin jalan yang lebar untuk kita semua agar kembali pada jalan yang benar. Bukankah demikian?

Beberapa saat lagi Ramadhan datang. Aku mau memulainya dengan baik. Aku mau meminta maaf kepada semua orang atas semua kesalahan yang kuperbuat. Begitu juga kau. Untuk semua yang terjadi antara kamu dan aku. Aku memohon kelapangan hatimu untuk memberikan maaf yang besar dan merelakan dunia-akhirat atas semua kesalahan dan kekhilafanku selama kita masih bersama. Ini hanya permohonan. Yang memberikan maaf itu ya kamu, Kak. Aku hanya bisa meminta dengan memohon. Nggak akan jadi masalah bagiku kalau kamu nggak ngasih maafmu. Kewajibanku sudah selesai sampai di sini. Ya apalagi kalau bukan meminta maaf. Aku terlalu blak-blakan ya Kak? Maaf.. Beberapa waktu terakhir karakterku memang di asah jadi seperti ini. Kak, setulus hati aku mohon maaf atas semua hal yang sudah terjadi di antara kita. Semuanya..

Kak, seingatku, sampai saat ini mungkin belum ada yang bilang ‘selesai’. Baik kamu, ataupun aku. Untuk hubungan lawan jenis ini, aku..mau kita selesai sampai di sini saja. Rasanya aku sudah memikirkanya sejak lama. Hanya saja, saat keputusan itu kubuat setelah beberapa hari aku berfikir untuk tidak lagi berkomunikasi denganmu, aku jadi lupa banyak hal. Termasuk menulis sesuatu untuk menjelaskan semuanya tentang hubungan ini dari hasil yang aku fikirkan tadi. Dan, ketika beberapa waktu terakhir aku mulai dihantui yang namanya karma, aku langsung teringat dengan kesalahan-kesalahanku. Termasuk kesalahan yang sudah aku perbuat terhadapmu. Membiarkanmu begitu saja tanpa mengerti harus melakukan apa dan bagaimana. Ya..walaupun hubungan kita yang sebelumnya itu juga nggak jelas juga seperti apa.

Kak.. mungkin ini karma buat aku atas kesalahan yang sudah aku perbuat. Aku yang jahat ini sudah menerima balasannya atas kelakuan yang tidak sepatutnya dilakukan. Kak.. aku minta maaf.. Minta ridho untuk semuanya. Dan..terimakasih juga untuk hal-hal yang sudah kau lakukan untuk aku. Aku sangat berterimakasih. Maafin aku yang sudah membuat keputusan seperti ini secara sepihak tanpa melihat bagaimana kamu terluka pada waktu itu. Keputusan ini dibuat dengan pertimbangan banyak hal yang kesemuanya menyangkut keegoisanku. Terlalu jauh sepertinya mimpi yang sudah dibuat beberapa waktu yang lalu. Juga, perasaan tidak percaya yang kadang timbul dari diriku, atau mungkin dari dirimu, akan membuatku terseyum kecut. Aku nggak sanggup, Kak..kalau hubungan kita di masa lalu itu diteruskan. Karena itu, sejak itu pula aku memutuskan untuk berhenti berusaha terus bersamamu. Aku berterimakasih atas perhatian dan hal-hal yang kau lakukan beberapa saat lalu. Rupanya memang begini adanya. Aku yang egois ini, nggak sanggup berada di sisimu. Itu semua..benar-benar sudah berlalu.

Kak.. aku nggak pernah menyangka dan berusaha menyalahkanmu atas semua yang pernah terjadi. Mungkin memang kau menjadi salah satu bagian dari perjalanku mencari yang terbaik. Umm..mungkin perlu diralat. Bukan mencari yang terbaik. Tetapi mencari yang tepat. Karena nggak ada yang terbaik di dunia ini. Termasuk aku. Maaf jika sudah banyak memberikanmu rasa sakit dan kekecewaan..

Kak.. Maaf. Aku minta maaf karena nggak bisa terus bertahan dengan kondisi kita yang seperti itu. Aku benar-benar minta maaf. Hal-hal positif yang kau ajarkan padaku, aku sangat berterimakasih. Kau mengajarkan beberapa nilai akan kebaikan. Aku –pernah– menyayangimu. Juga, sangat menghormatimu. Tetapi keputusanku akan pertimbangan yang didapat atas semuanya ini lebih besar daripada itu. Jujur, aku sudah berubah menjadi seseorang yang mengerikan setelah bersamamu. Aku..tidak menyalahkanmu atas perubahanku itu. Karena sudah seharusnya aku yang punya filter atas semua tindakan yang aku lakukan. Kurasa..aku sudah tidak bisa mentolelirnya lagi. Juga, aku yang salah. Aku merasa menjadi seseorang yang menakutkan dengan kelakuanku saat bersamamu. Setelah aku banyak berfikir, nama-nama yang mengisi waktuku saat aku beranjak menemui yang namanya dewasa di masa-masa kuliah ini, aku tidak menemukan seorangpun yang sepertimu. Kau tahu, Kak.. Aku harus menarik diri. Dan..aku sangat menyesali itu.

Dulu..aku sangat dijaga saat masih bersama Bayu (padahal bentuk fisikku ini menurutku begitu mengerikan..hahaaha). Menyentuh ujung rambutku pun Ia tidak berani. Hanya sebatas mampu memegang tanganku..yang menjadikan kedua telapak tangannya dingin. Saat hubunganku diteruskan dengan orang lain lagi, Nto si Ketum Mapala yang imut tapi gagah, yang sama sepertimu itu, aku juga belum melakukan hal –yang menurutku– melampaui batas. Mungkin, aku hanya meng-iyakan saat Ia memintaku berjanji padanya bahwa Ia boleh memelukku di puncak dan mengecup keningku jika kami berdua naik ke Meratus. Itu hanya janji yang akan dikabulkan kalau kami berdua naik ke Meratus bersama. Namun, itu juga tidak terjadi karena kami tidak bertahan lama karena kesibukan masing-masing. Janji itu, tak mungkin dilaksanakan, dan otomatis aku tidak melakukan hal-hal ‘aneh’ bersamanya. Kemudian, waktu masih bersama Febri juga demikian. Sentuhan terjauh yang Ia lakukan padaku adalah merengkuh bahuku dengan lengan kirinya setelah memakaikan jaketnya padaku. Itupun karena memang malam tahun baru saat itu sangat dingin. Kak..terakhir, adalah kamu. Yang memberikan banyak perubahan pada caraku berhubungan dengan lawan jenis. Satu lagi..setelah aku perhatikan, aku takut dengan caramu mengumpat. Aku selalu bersama lelaki yang menjaga cara bicara dan tulisannya. Kau..benar-benar berbeda dengan apa yang aku fikirkan. Yah..mungkin kau bisa tertawa terbahak-bahak dengan membaca suratku ini. Namun, aku tidak peduli dengan respon yang akan kau keluarkan. Entah apa itu. Tertawa, mengeluarkan sumpah serapah, atau apapun. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku sudah tidak peduli lagi tetang apa yang akan kau fikirkan tentang apa dan bagaimana aku. Itu semua..benar-benar sudah berlalu. Aku hanya ingin memperbaiki sifatku burukku yang mudah terjerumus ini. Hanya bisa berdoa dan berusaha dengan didampingi oleh izin Tuhan.

Mungkin, karena trauma denganmu, aku tidak bisa membalas lagi chat, message atau apapun bentuk komunikasi maya yang kau tujukan padaku. Dan mungkin, karena trauma ini juga aku nggak mau pacaran lagi. Jujur, selama berpisah darimu, aku tidak ingin menyentuh hubungan lawan jenis dengan ikatan. Aku hanya berusaha memilah dan menjalin hubungan yang bisa menuju ke jenjang yang lebih tinggi untuk menyempurnakan separuh agamaku. Dan aku bersyukur, Tuhan mendekatkan seseorang padaku untuk mimpi yang kujaga ini. Aku akan terus menjaganya sampai akhir. Orang yang sekarang bersamaku saat ini, mungkin sekarang kau mengenalnya. Usianya sedikit di bawahmu. Kau juga pernah bertanya tentangnya padaku di pertengahan hubungan kita dulu. Aku tidak tahu kau sudah pernah bertemu atau belum dengannya. Hanya saja, kesamaan orang aneh yang sekarang bersama denganku itu dengan masa laluku adalah kesalahan yang dilakukan saat berada di naungan yang bernama hubungan. Kami sama-sama merasakan kesakitan yang ‘aneh’ dan hubungan yang juga ‘aneh’. Latar belakang hubungan dengan lawan jenis antara dia dan aku  membuat kami merasa, yah, sama. Ummm..mungkin memang berbeda jauh ‘kesamaan’ yang kumaksud itu antara presepsimu dan presepsiku. Orang itu, walaupun berada di jalan environmentalis seperti kita, mungkin tidak seidealis kau dalam bersikap dan memandang hidup. Tapi, Ia memiliki kharisma sendiri saat memperlakukanku. Sikapnya saat berhadapan denganku yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat cuek dan menjengkelkan itu malah membuatku lebih aman dibanding proteksi dan sentuhan di sana-sini. Ia ingin aku berdiri sendiri dengan kemampuanku. Ia tidak berusaha untuk selalu di dekatku dan memagariku dengan keluhan ini itu. Aku begitu menghormatinya. Untuk dukungannya, kepercayaannya, kejujurannya, keterbukaannya, juga kepolosannya. Ya. Mungkin setiap pria memang berbeda. Antara kau dan dia. Dia dan orang lain. Ia belum pernah membuatku menangis –sampai saat ini. Dan, Ia juga tidak mewajibkanku membayangkan mimpi-mimpi bersamanya. Orang aneh itu hanya menyuruhku untuk selalu mendukungnya dan berusaha sekuat tenaga bersabar dengan sifat dan sikapnya agar kami bisa terus bersama di antara jadwal kerjanya yang padat. Hanya mimpi kecil itu yang terus kami pupuk. Ia sangat mempercayai bahwa aku mempercayainya. Dan untuk sentuhan, aku hanya melakukannya sebatas mencium punggung tangannya saat Ia akan pergi. Dan sambil tertawa, Ia mengacak-acak rambutku.

Aku sangat bersyukur. Aku sangat bersyukur karena telah kembali ke kehidupanku yang semula. Dengan norma yang aku atur dan jaga sendiri untuk kebaikanku.

Kak.. Maafkan atas semua yang tertumpah dalam tulisan ini. Tapi, itulah yang aku rasakan saat bersamamu. Ada banyak ketakutan yang muncul saat aku bersamamu. Aku tidak bisa ‘santai’. Aku…benar-benar minta maaf. Atas tingkah dan ucapanku yang tidak membuatmu berkenan. Aku tidak bisa membayangkan apa reaksimu. Cemoohan, cacian, umpatan, tangisan, terbahak, atau apapun itu, sekali lagi kukatakan, aku sudah tidak memasukkannya ke dalam hati. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku hanya bisa menyelipkan doa dan kesungguhan terimakasih atas mimpi, janji, perubahan, keinginan, dan bulir rasa hormat kepadamu yang mengajarkan beberapa ilmu di batang usiaku yang mulai meninggi. Setelah kubuka lagi arsip-arsip di laptop, bagiku, terlalu indah mimpi yang pernah kita bangun. Target-terget yang kutulis jika aku bersamamu di masa yang akan datang terlihat begitu nyata. Namun, juga terlihat begitu samar. Meyakini segala yang telah dibentangkan kalbu kepadaku. Aku..akan kembali merapat setelah meregang sejenak atas sikapku yang tidak sopan karena menuruti nafsu duniawiku. Izinkan..aku mendapat doa darimu untuk memupuk nyawa baruku ini. Membiarkan orang lain masuk dan mengganti posisimu di hatiku.

Aku juga berdoa kau bisa mendapatkan yang berkali-kali-kali-kali-kali-kali-kali-kali-kali lipat lebih baik daripada aku. Baik berkenaan dengan fisik, sifat, sikap, agama, kecerdasan, tutur kata, tulisan, latar belakang, dan semuanya. Semoga tali silaturahmi masih akan terjalin di antara kita..dan selalu diberikan kesehatan agar kita semua masih bisa melakukan hal baik untuk diri sendiri dan orang lain..

Kak.. Aku juga minta maaf..kalau kau mungkin merasa terganggu karena kau sudah melupakan semua tentangku sebelum surat ini datang dan aku sendiri dengan sombongnya pula berani menuliskan hal yang mungkin dimatamu semuanya salah. Maaf..

     Aku merasa sangat lega saat aku kirimkan surat ini. Serasa beban yang ada di pundakku berjatuhan ke bumi.. Aku memimpikan mendapat maafmu sebelum aku melangkah menuju Ramadhan. Semoga.

Wassalam..

Teriring doa dan kasih,
Shinta..

Ruang Hijau, 7 Juli 2011
09.06 pm

Ini tulisan ditulis waktu mau putusan sama yang namanya Ipank, si Ketum Mapala. Lu tau, lahh..cerdasnya dia ini..wkwk tapi, yah..hmmm oke dah masa lalu. Masa lalu biarlah masa laluuuu… *lagu Inul hhaha

Catatan:

Ini sudah pernah saya posting sebelumnya. But, just because sebuah kejadian, aku save hampir semua tulisan-tulisaku di sini ke ms. word. Dan di simpan sendiri. Belum faham yang namanya migrasi wordpress. Ada juga yang kubikinkan wp baru. Trus dimasukkan ke sana. Tapi kemaren juga henk gara-gara coba-coba main ekspor impor tulisan..hhaha yowes nda papa. Semua yang di beri lis note ini berarti ya begitu ceritanya. Oke. Itu saja. Nanti akan sangat banyak sekali yang begini. Soalnya, aku nggak mau kebanyakan rumah tapi nggak keurus. Biar dah. Fokus di sini aja satu..hhaha sebagai rumah saya, tempat share saya, tempat nyampah saya, isi hati saya, cerita hidup saya, tempat main saya, pekerjaan saya, terjemahan saya, beberapa ilmu saya, isi pemikiran saya, dan sebagainya. Salah satu yang menguatkan saya di wordpress adalah seorang blogger yang juga twitterdengan akun @kutudjangkrik. Thanks yaaa!!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s