Dalam Sepersekian Detik

Melihat wajahmu hadir di antara kami yang tiba ini
Seakan tiada putus rasa sayangku padamu
Bertambahnya masa kita tertawa dan berkumpul
Tak akan hanya timbul dan berputar bagai riak air

Yang kita tanam adalah pohon Jati
Yang mengakar kuat di bumi Borneo
Dalam darah kita bersama

Mungkin hanya sepersekian detik
Hanya bisa merengkuhmu dalam sepersekian detik
Lenganku mendekat mendekapmu dengan waktu singkat dan tak seberapa
Rasanya cukup
Itu cukup bagiku
Ingin rasanya berada lebih lama dalam pelukmu
Agar aku lebih teguh dan tangguh menghadapi masa depan yang lebih sulit

Malam dalam deretan waktu itu mungkin tak banyak berbintang
Dalam selimut tipis
Tubuh yang saling berdekatan
Mendekap mereka dalam buai kasih mesra
Mendengar mereka bertutur dalam tawa dan geram
Rasanya membuatku ingin menitikkan air mata
Juga tertawa lepas

Mengingat wajahmu di kala mentari telah menepi
Menguras perasaan ini saat mengurus saudara dalam darah yang berbeda
Kadangkala malam yang garang
Menjadi sangat ramah dan hangat saat aku menemukan sisi lainmu dari mereka
Ketika hujan dan gigil menghampiriku di sini
Rasanya tak sebanding dengan perasaan khawatirmu yang menetes di sela keangkuhanmu
Wajah pasimu
Raut lemahmu
Kekhawatiran dan kecemasanmu yang terkumpul dalam nafas yang tertahan
Membuatku juga menjadi pias dan harap-harap cemas akan kebenaran yang terjadi

Hanya doa dan keikhlasan yang aku sembahkan
Kepada Tuhan untuk kita semua
Agar mentari selalu bersinar hangat
Agar nafas selalu terisi udara bersih
Agar gelombang rendah anak sungai masih mengalir
Agar kami dapat terus bahagia di dalam tempat bermain kami
Di lembahan dan di gunung-gunung juga puncak
Di atas batu dan aliran sungai tempat udang dan ikan bersembunyi
Di sela-sela ranting dan dahan tempat jangkrik dan burung mempersiapkan orkestra malam
Sehingga keselarasan untuk dunia nan damai ini dapat terus terjaga
Dalam satu titik dalam orbit Bimasakti yang tak layak untuk berpongah

Di sela-sela itu masih bisa aku mengingat semua kesal dan laraku
Yang berhembus bagai sambutan angin musim gugur
Tapi dengan maaf dan keikhlasan
Juga kesadaran untuk saling membuka diri
Semuanya mampu terkikis dengan berjalannya waktu
Dan dengan berjalannya waktu pula satu hal aku tahu
Aku ternyata merindukanmu
Sangat merindukanmu..
Dalam pekat malam yang mulai turun menemani lelap kami
Di kala lapar dan menderita
Yang jauh dari angkuh dan serakah umat manusia

 

 

 

 

 

*Di dedikasikan untuk Saudaraku dengan aliran darah yang berbeda, aBangku yang kurengkuh dalam mihrab kasih tanpa muhrim, rekan kerjaku..Anhariansyah.
Dan untuk kami semua……..

27 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s