Sedikit Tentang Bakti dan Kasih

_menjelang magrib

Selama kurun waktu hampir 22 tahun aku hidup, aku nggak pernah menemukan anak lelaki yang setabah Dia. Kehidupannya yang keras dan penuh perjuangan telah membentuknya menjadi pribadi yang luar biasa. Yang tahu sopan santun. Yang ramah. Yang ulet. Yang bertanggung jawab. Yang baik hati. Yang perhatian. Yang menyenangkan. Yang rela berkorban. Yang bijaksana. Yang tenang. Yang murah senyum. Yang tabah dan mampu menutup kehawatirannya dalam senyumnya. Kesedihannya itu nggak pernah dibiarkannya keluar dari fikirannya. Mungkin Cuma bukti fisik aja yang kadang nggak sengaja bisa kami liat. Ketika matanya merah dan sedikit bengkak, kami bisa memastikan bahwa ia hanya bisa menangis menghadapi masalahnya setelah usahanya yang keras untuk mengatasi masalah tersebut. Aku nggak pernah menemukan anak lelaki yang setegar Dia. Ketika takdir memutuskan untuk mengajak Ibunya berada di sampingNya atasa janji yang sudah di buat sebelumnya, Dia masih bisa tersenyum menyambut kami di rumahnya yang sangat sederhana. Ketika melangkahkan kaki pertama kali di rumahnya, aku ingin sekali menangis. Aku ingin sekali pulang dan memeluk Ibu di rumah. Aku ingin sekali mencium kening Mamah. Mencium kedua pipi ayah dan menggandeng tangannya. Ketika aku ingin memulai membaca surah Yaasin, bulu romaku berdiri. Bukan karena si Fulanah yang sudah menghadap si Empunya Jagad Raya. Bukan. Fikiranku melayang kemana-mana. Mataku sungguh sangat berat. Kantung airnya terasa penuh. Mungkin, jika aku berada di posisinya, aku tak mungkin bisa menahan tangis dan raunganku. Aku mungkin nggak akan sanggup menghadapi orang-orang ketika aku diposisikan di hidupnya sekarang. Aku mungkin nggak bisa setabah Dia. Ahh…memang sangat membanggakan anak lelaki itu. Ia berbakti dan tahu berterimakasih. Jujur dan penuh usaha.

Dulu Aku sempat saja berfikir bahwa aku nggak pernah akan tahu hal-hal seperti ini karena mungkin hanya ada dalam sinetron dan reality show buatan orang-orang kota. Tapi ketika aku dihadapkan langsung dengan banyak kejadian di lapangan tentang kerasnya hidup dan tanggung jawab, aku hanya bisa menunduk. Ini salah satu yang juga diperlihatkan padaku. Ya mungkin postinganku tentang hidupku yang nggak berwarna, memang bener. Aku baru menemukan dunia yang sebenarnya sekarang. Dan detik ini, juga kedepannya, aku berinteraksi langsung dengan orang yang seperti itu. Mungkin, kalau aku laki-laki, sudah kupeluk anak itu dan ku tepuk punggungnya perlahan untuk sedikit menunjukkan padanya bahwa kami akan selalu ada buat Dia. Kami memang menyayangi dia. Saudara kami yang satu itu..

Terkadang memang hidup itu keras dan penuh tanda tanya. Tuntutan akan tanggung jawab atas perut dan hidup orang-orang terkasih menuntut banyak hal yang perlu dilakukan. Dengan atau tanpa idealisme yang terus coba di jaga. Aku banyak memikirkan Ibu akhir-akhir ini. Juga Ayah. Mbah, Bule, dan Ade juga. Terkadang aku merasa sesak dengan tiba-tiba jika memikirkan hal itu. Perjuangan memang tak akan pernah berhenti hingga nadi berakhir. Perjuangan dan tanggung jawab atas kodrat yang sudah ditetapkan, akan selalu menjadi bayang-banyang di fikiran. Yang dapat muncul kapan mau dan tak tentu.

Aku selalu bergidik ketika membaca tulisanku sendiri.. Bukan karena tulisannya yang bagus dengan diksi yang diolah sedemikian rupa. Juga bukan karena bagian dari tiap-tiap barisnya mengandung unsur sastra yang luar biasa. Tulisan yang selalu membuatku berfikir itu hanya tulisan sederhana. Yang kutulis saat menjaga kamar Dheny dan menumpang online di derasnya hujan sore itu. Tulisan yang selalu membuatku menarik nafas panjang itu hanya tulisan biasa. Tetapi aku punya cinta dan kasih di dalamnya. Akan menjaga saudara di dalam sedikit waktu yang diberikan Allah untuk kita bersama. Aku hanya punya sedikit tanggung jawab kepada mereka yang tertumpah pada tulisan tak karuan ini. Tak perlu banyak orang tau apa dan bagaimana perjuangan untuk memberikan kasih sayang ini pada mereka.. Ya. Aku sangat dan benar-benar menyayangi mereka. Saudara-saudaraku..putra dan putriku… Tulisan itu:

Kalian mungkin tak sadar bahwa

Kalian menjadi bagian penting dalam separuh usia

Merajut tawa dan tangis ini

Membuatku membasuh semua ketidakmampuan bertahan

Aku tidak mengajari..

Hanya ingin kalian mendapatkan yang terbaik

Dariku

Dari kami

Karena kepedihan dan kebahagiaan yang tak dibagi

Rasanya sangat jahat dan mengerikan

Mendung di luar tak membuatku cemas

Karena ketika rintik dari cikal bakal badai di hujan deras datang

Kalian pun akan masuk ke rumah dan mendekat padaku untuk saling menghangatkan

Ya.

Mengemban pendidikan kalian begitu menyita waktu

Dan membuahkan kebahagiaan tiada tara

#25Maret2011

Catatan:

Ini sudah pernah saya posting sebelumnya. But, just because sebuah kejadian, aku save hampir semua tulisan-tulisaku di sini ke ms. word. Dan di simpan sendiri. Belum faham yang namanya migrasi wordpress. Ada juga yang kubikinkan wp baru. Trus dimasukkan ke sana. Tapi kemaren juga henk gara-gara coba-coba main ekspor impor tulisan..hhaha yowes nda papa. Semua yang di beri lis note ini berarti ya begitu ceritanya. Oke. Itu saja. Nanti akan sangat banyak sekali yang begini. Soalnya, aku nggak mau kebanyakan rumah tapi nggak keurus. Biar dah. Fokus di sini aja satu..hhaha sebagai rumah saya, tempat share saya, tempat nyampah saya, isi hati saya, cerita hidup saya, tempat main saya, pekerjaan saya, terjemahan saya, beberapa ilmu saya, isi pemikiran saya, dan sebagainya. Salah satu yang menguatkan saya di wordpress adalah seorang blogger yang juga twitterdengan akun @kutudjangkrik. Kalian akan menemukan catatan ini di setiap postingan lama..hhahaha

Thanks yaaa!! :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s