Ini, Kekasih, Tersisih

Mengharapmu tidak tak terbatas
Seolah waktu menemani bumi berputar dalam kardus bekas
Sedikit demi sedikit mengabdikan jiwaku
membasuhmu
Adakah sama seperti jalannya reproduksi aku mengejamu

Dunia mengenalku sebagai karang di pepantai biru kaku membatu
Darah juga ini nanah mendobrak batas apa?
Tuhan juga kasih baca itu namanya cerita
Di akhir jalannya rupa pun berbeda
Gegaris tak selalu nampak lurus
Kadang juga yang berkelok nampak pilu
Saat bermula aku fikir jalan yang telah dinyana
Ternyata kuas hanya gambarkan yang tak nyata

Ini kekasih merintih dirundung pedih
Berteman taman dan segelas air putih
Ini jemari terikat nafsu dan pula sedikit janji
Tak dapat melangkah apalagi berlari
Melamun tentang derita yang nampak seolah lanun
Khayalan tak sanggup mendekte remah-remah tangisku
Menatap batu yang beranak banyu di sepanjang jalan hidup mengejarmu

Nampakkah rasa tak setiaku dalam seok rantaimu?
Kau baca apa jenjang kepatuhanku?
Keburaman nafasmu yang tak mempercayai adanya kepastianku

Membatasi
Menjauh-jajari
Mencerca-jalani

Dalam tegap tadarusku aku meminta
Kau tak pernah menelan segala
Tanpa aku yang pernah kau beri luka

Capricorn, 6.14pm, 1.1.14
Shinta Ayu Pratiwi
*edisi lebay picisan awal tahun kemaren hha

Posted from WordPress for Blackberry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s