Tauhid

Catatan Singkat buku Ust. Yusuf Mansur Kuliah Umum: Kuliah Tauhid

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan ridhonya dalam segala aktivitas kita, memberikan ijabah dalam setiap doa, dan memberikan segala kemudahan dalam urusan kita menuju kebaikan..aamiin

Ini hanya catatan kecil saya tentang buku beliau yang saya baca tentang tauhid yang juga selain dari buku bisa juga diikuti dengan kuliah online http://www.wisatahati.com. Saya tidak (atau mungkin belum) mengikuti sesi kuliah online. Yah..insyaallah nanti ikut kuliah onlinenya juga..aamiin. Catatan ini saya tulis sesudah beberapa jam usai membaca bukunya karena tidak bisa tidur. Singkat saja karena kalau mau yang lebih panjang, beli dan baca bukunya..hhe atau kalau mau pinjam sama saya, email dan hubungi via komentar. sayangnya saya jarang sekali membaca komentar di wordpress karena lola minta ampun..wkwkwk

Ok fokus.

Tauhid adalah percaya. Sebagai umat muslim, perlu kita renungkan, apakah kita sudah benar yakin dan percaya bahwa Tuhan kita adalah Allah? Terkadang kita sering menuhankan hal lain tanpa kita sadari. Merasa tak berdaya ketika banyak hal tak terjadi sesuai rencana. Putus asa di tengah kesabaran. Dan masih banyak lagi yang lainnya terkait dengan urusan dunia. Yang pada dasarnya, sebenarnya, ada Allah.

Kita punya Allah kan? Namun, apa kita sudah sepenuhnya percaya dan meyakini bahwa Allah memberikan banyak makna dan jalan terbaik untuk kita. Kita tidak, atau belum percaya sepenuhnya pada Allah.

Belajar tauhid adalah belajar keyakinan. Hidup dengan cara Allah, selalu melibatkan Allah, meminta bantuan Allah, dan memohon ridhonya Allah dalam setiap hal yang kita lakukan. BUku yang menggerakkan saya khususnya sebagai pembaca yang belum begitu dalam mengenal Islam, dalam menggerakkan hati menuju Allah. Saya tidak terlahir dalam keluarga religius, kumpulan keturunan santri, keluarga ustadzah, atau keluarga besar yang kental kehidupannya dengan dakwah. No. Founding Islam is doing by my self. Ya. Saya dilahirkan dari dua orang tua muslim, sebagai salah satu keturunan di keluarga besar muslim dari pihak ibu dan keturunan campuran dari pihak keluarga besar bapak. Kakek dan anak pertama dari pihak ayah masih non muslim. Momen akbar bagi saya adalah founding Islam yang sejatinya semua berjalan dengan ridho Allah di umur saya yang sudah kepala dua ini. Real founding Islam. So, saya sangat menghormati guru saya, Ust. Yusuf Mansur, untuk sekali lagi menguatkan saya dengan pelajaran tauhid yang beliau bagi pada kita semua tentang pembenahan keyakinan sebenar-benar keyakinan, pembenahan baik sangka sebenar-benar baik sangka, menuju Allah, kepada Allah. Membenahi sikap dan kelakuan saya. Bukanlah suatu kebetulan semua ini terjadi. Dan Lauhul Mahfuz punya rekaman dan catatan yang tak pernah rusak tentang kehidupan kita semua.

Beragam nikmat yang Allah berikan pada saya dan kita semua, sementara saya rasa ibadah saya tiada bertambah, justru semakin terasa parah. Bahkan kalau tidak ada kasih sayangNya, niscaya tiada pernah berimbang dosa dan amal saya. Saya belum mementingkan Allah dari sipapun dan dari apapun. Masih takut akan permasalahan dunia seperti jodoh, rezeki, umur, masalah, keinginan, keselamatan, dan hakikat dunia lainnya. Atau bahkan belum mengenali hakikat kebahagiann itu sebenarnya, hakikat kesenangan itu sebanarnya, atau bahkan lebih jauhnya hakikat hidup itu sendiri yang kemudian menyebabkan iman menjadi naik dan turun masa ke masa. Itulah mengapa pentingnya tauhid terus harus terang cahayanya dalam hati. Saya niatkan untuk benar-benar belajar dan menyalakan lagi lilin saya yang redup lebih anyak lagi dalam hati saya agar terang cahaya tauhid dalam langkah saya menuju kubur. Kurangnya ibadah, mudahnya maksiat atau bahkan maksiat di tengah ibadah, semua jawabannya adalah tauhid. Persoalan kehidupan manusia tiada akan pernah ada habisnya. Persoalan hidup dan hajat hidup. Di tangan Allah, dengan ridho Allah, semua, InsyaAllah berbuah manis. Tidaka da yang namanya “Inilah hidup”, atau bahkan “Inilah perjuangan”. Karena semuanya adalah keringanan. Membela Allah, melaksanakan perintah Allah adalah kewajiban. Bukan perjuangan. Hanya saja, dalam masa sekarang, menyeru kepada agama Allah adalah dengan urat. Tapi urat syaraf. Otak. Islam adalah agama yang sempurna dan menjaga betul yang namanya kedamaian. So no word for perjuangan. WAR? No more. Itu sudah terjadi di masa Umar bin Khatab. Kekerasan fisik berupa perang sudah terjadi di masa lalu. Bertarung dengan hati dan fikiran dengan kebaikan dan kebenaran.

Sekali lagi saya insyafkan diri sebab tiada banyak ilmu tauhid memenuhi hidup saya. Manusia yang mengenal jalannya sendiri yang lama dan berat tanpa melibatkan Allah. Padahal pertolongan Allah sungguh sebenarnya mudah di dapat. Hanya Allah, Iman, dan Tauhid yang kita butuhkan. Bukan yang lain. Hanya Allah. Hanya Allah. Di awal, dalam perjalanan, dan akhir kehidupan dan setiap kegiatan yang kita usahakan dalam hidup.

Tauhid, meng-ESA-kan Allah, menjadikan Allah segalanya, itulah jawaban untuk saya dan kita semua. Yang segala cara akan persoalan dan hajat hidup Allah akan pilihkan yang terbaik bagi saya dan kita semua.

*Man ahyaa sunnatii faqod ahabbanii, wa man ahabbanii kaana ma’ii filjannah.

Sekarang sudah tiada ada yang saya takutkan kecuali diri ini mati dengan keadaan tidak bisa mengatakan *Laa-ilaaha illallaah wa-asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah. Wisuda, kerja, jodoh, dan sebagainya sudah jauh tertinggal dalam fikiran saya. Every single day before, lu tanya maksiat apa yang pernah saya lakukan, mungkin begitu banyaknya. Benteng dari Founding Islam yang pertama saya belum sungguh kuatnya karena syaitan modern yang intelektual pun rupanya sangat kuat. Tauhid pun meredup dalam jalan menuju penguatannya.

Tidak ada yang bisa mengajarkan sebaik Allah yang mengajarkan. Tiada stupun ilmu yang kita dapat kecuali Allah yang mengijinkan menjadi ilmu yang bermanfaat buat saya, buat kita. Kehancuran terbesar yang akan dihadapi sesungguhnya adalah ketika kematian datang, saya tidak siap. Kita tidak siap. Belum di ampuni Allah, belum dapat ridhonya Allah, belum dapat maafNya. *Naudzubillahi min dzalik, Yaa Rabb..

Yaa Rabb..ridhoi kami semua untuk mendapatkan Islam-Mu khaffah. Tauhid yang tak pernah padam. Agar tiada sombong hidup kami dalam dunia yang sungguh tiada lama. Berikanlah ridhoMu untuk kami menuntut banyak ilmu tentang Islam, Iman, dan Ilmu Pengetahuan lainnya. Mudahkan perjalanan kami dalam interaksi dan menghidupkan tauhid dalam segala kenikmatan hidup kami, Yaa Rabb. Karena Engkau tak pernah luput menyayangi kami setiap detik dengan nafas yang sungguh sangat berharga ini. Kembalikan kami kehadiratMu dengan keadaan diri yang sudah terampuni..Yaa Rabb..

Jadikan proses kami mencari ilmu kami sebagai sedekah sebagaimana Engkau menganggap sedekah kepada sesiapa yang mengeluarkan biaya dan menuntut ilmu dan berlari menuju Engkau. Tuhan kami, Tuhan saya, bukan uang, bukan manusia yang dapat sesegera mungkin memberikan bantuan, bukan motor yang selalu membantu beraktivitas, bukan makanan, dan bukan dunia. Engkau, Yaa Rabb.. Jadikanlah kehidupan kami kehidupan yang berpola tauhid yang sebenarnya sungguh sangat sederhana. Hanya dengan melibatknMu dalam segala perkara hidup kami.

Kepada Allah, dengan Tauhid, kita meminta agar Allah bukakan pemahaman yang hanief, yang lurus, yang lempeng, yang bagus tentang diriNya. Tiada yang bisa mengenal diriMu kecuali Engkau sendiri yang mengenalkan dan mengajarkan dengan ridhoMu. Mengisi hidup dengan Syariat, Ibadah, dan Akhlak. Kami tidak ingin sampai Engkau tak menolong kami karena kami karena kami tidak melibatkanmu dalam setiap perkara. Jadikan semua ibadah, Yaa Rabb. Dengan segala pendampinganMu. Perilakuku Yaa Rabb, sudah saya fikir, rasakan, dan fikirkan begitu berpengaruh ketika tidak melibatkanMu dan tidak mengingatMu ketika syaitan merasuk dalam fikiranku. Tidak mengingat kewajibanku kepadaMu.

MelibatkanMu, melibatkanMu, melibatkanMu. MencariMu, mencariMu, mencariMu. MengandalkanMu, mengandalkanMu, mengandalkanMu. Dalam tauhid yang terus mendampingi hidup kami. Karena guru kami, Ust. Yusuf Mansur mengajarkan bahwa, tauhid yang bagus juga memiliki arti dan makna: Bergerak menuju Engkau, Yaa Allah. Bimbing kami untuk menerapkan ini. Beri petunjuk dan ridhoMu dalam usaha kami. Jangan samapai kami menjadi umat yang hanya mendekat padaMu hanya ketika ada ‘momen’. Jadikan kami umat yang memiliki hati yang bersyukur, sellau bersyukur dalam segala nikmat dan kesusahan. Karena kami tahu, keputusanMu adalah keputusan terbaik although bukan selalu happy ending story seperti dalam cerita pada buku-buku pada umumnya. Untuk tauhidku yang masih parah ini, laa-ilaa-ha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadz-dzalimiin, mudahkanlah untuk menerangkannya. Engkau yang binnaasi la-ro-uufur rohiim, begitu penyayang dan sungguh begitu baik pada kami, manusia-manusia ini.

Kita nggak pernah tahu kapan saat Allah menukar ni’mat menjadi keadaan yang sangat kita perlu Allah atau sebaliknya. Sebab ada izin dan ridhoMu, keputusanMu, dan perlindunganMu, kami, terutama saya, bisa smpai sejauh ini. Lindungi kami dari perasaan putus asa, hilang kesabaran, kecewa, nafsu, dari segala keputusanMu. Karena kami yakin bahwa susah dan senang juga Engkau pergilirkan sebagaimana mesti dan jalannya.

Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat. Engkau masih memberikan nafas bagi kami, bagi saya, itu sudah tanda besar untuk kami dan saya untuk bisa kembali padaMu.

Manusia sejatinya akan dipergilirkan kesusahan dan kesenangan sebagai ujian dalam hidup. Semoga saya dan kita semua dapat lulus dalam ujian ini. Bimbing kami untuk selalu bisa belajar dalam hal baik sangka, yakin, ikhlas, sabar, konsisten, syukur, hanya kepadaMu. Kuatkan iman islam kami, iman islam saya, kami semua..hingga Engkau ridho kepada kami. semoga apa-apa yang kami baca menjadi ilmu pengetahuan yang dapat mengantarkan kmai kepada doa dan kebaikan dengan kehendakMu..aamiin~

Ah..sudah adzan subuh.. Nggak bisa merem lagi..

Posted from WordPress for Blackberry

2 responses to “Tauhid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s