Derap Hujan Ketakutan

Aku ingin menari bersamamu di hujan ketakutanku
Meruntuhkan sulur kesedihan manusia
Berbagi dengan Kau, si Adam pias pilihan

Aku ingin menari bersamamu di hujan ketakutanku
Menyambut gerombol pilu di sampan ungu
Melihat Engkau tabuh langit gegap genderang
Bersama, menyambut sampan ke tepian
Yang datang bersama bisik air dan logam butut para pelaut
Bersama Saudari
Saudara bersama

Aku ingin menari bersamamu di hujan ketakutanku
Derap irama nuansa bunga
Menjemput bahagia bertahta sastra
Membiarkanmu menenggak habis nyawa hidupku di ladang ganja
Berpora gerak semarak
Membuka rongga, geledah tawa berlatar senja

Aku tak tahu kalau aku sedang rindu
Yang ada hanya debar dan detak yang berkoar samar
Mengecup mata duka

Aku tak tahu kalau rindu sedang menjagaku
Menanti nahkodaku, pemimpin laskar nuansa mega. Kamu.
Tertimbun remah falset nada jingga menantang kepastian
Melepas bumi mencarimu dengan sampan ungu

Aku menunggu bumi
Menanti angin menyeret kabar nahkodaku datang
Memastikan butir debu menerbangkan sekotak hadiah nyawa cadangan
Dan kupakai berdendang ikuti sang syahdu
Menunggu si papa, juru mudi nurani
Yang meninggalkanku penuh pilu

Sapardi Djoko Damono berseloroh, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”
Dan senandung itu ku ikuti dengan sedikit remah kata, “Sesederhana penghargaan hati kepada cermin rupa”

Aku akan terus menunggumu untuk menari bersama di hujan ketakutanku

Nb. Puisiku ini bisa dilihat di buku Antologi Pusisi Sepasang Mata Sehelai Kanvas. Kalo ga salah si gitu judulnya..hhehe lupaaa judulnyaa ^^

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s