Kepada Petani Rumpun Selumur

Gusti..

Tiupkan angin utara pada tinta ini
Agar tersampaikan segala ingin
Kepada si petani, petani rumpun selumur
Kepada baktinya
Kepada segalanya
Yang menanam dandelion-dandelion seumuran rumput teki
Menabung kedelai-kedelai busuk yang dilumuri ragi
Menggali pasir-pasir tanah dengan keadaan pasi
Merajut kawat-kawat hingga menjadi tinggi sebatas mata angin
Mengais-ngais bulir panir di batu bundar tempat sambal
Mengikat apa yang belum terjerat
Membiarkan bulir keringat berjatuhan di ladang kacang
Menyirami bunga melati rambat yang terikat kuat pada pagar kawat
Membeli petak-petak untuk semeter sarangnya
Membiarkan kurap berbunga tunas di segala sisi
Dan nyeri menjalar menemani

Gusti..
Si petani, petani rumpun selumur
Kulihat Dia-nya menghabiskan detik
Si detik yang tak berkutik pada seluruh pelik untuk jabang dan si laki-laki

Oh…
Dia-nya berlari-lari mencari utara, selatan, barat daya, tenggara, dan Timur
Berpayah-payah menampung jabang dalam jambang
Bersakit-sakit menuju ketinggian menderma edelweiss
Berputar-putar menjauhi tandus melanda hati
Bersenda-syahdu melodi istighfar dan nada dzikir
Bersungguh-sungguh dalam munajat dan niat jauhi hujat

Duh Gusti…
Si petani, petani rumpun selumur..
Menunggu padinya menguning sementara rumpun selumurnya terus berkembang
Terus berkembang

Menunggu siluet tertimbun awan hitam
Sementara indung nasib tak lagi menetaskan kebahagiaan
Menunggu darah mengaliri vena dan arteri
Sementara masa depan tak berpihak pada kebahagiaan
Menunggu tulang rapuh yang terus bertumbuh
Sementara nadir perlahan menelan semua kebahagiaan
Menunggu peluh yang tak henti mengalir
Sementara pelita jauhi yang namanya kebahagiaan
Menunggu dangau mengeluarkan syair indah
Yang dihafal dan diserukan lagi pada cuping kecil ananda
Sementara yang namanya kebahagiaan, ragu-ragu untuk muncul ke permukaan
Menunggu kupu-kupu menyanyikan dongeng sepanjang zaman untuk jasad halus
Sementara saudagar Izrail terbayang-bayang di pelupuk mata
Ingin menagih janji sebelum selumur terbentuk dan berputar-putar dalam jambang
Ia mendekat dan untuk selamanya
Membawa nafas dan denyut cinta

*puisi ini kudaftarin ke Lomba Puisi Cinta tk. Mahasiswa se-Kalimantan Selatan. Alhamdulillah juara 1..hhehe yang paling diingat dari puisi ini adalah puisi ini dibuat dengan hati dan fikiran yang tertuju pada ibu. Beberapa waktu belakangan, sering bikin pusing beliau soalnya. Aku ini anak semata wayang, satu-satunya, dan perempuan pula. Dari yang dulunya pendiam, eh malah sekarang bandel..hhe pokoknya waktu bikin, nggak ada kepikiran menang. Hanya memikirkan mamah di rumah, udah gitu aja. Besoknya di serahin sama panitia.. Juara IInya juga si Undul..hhoho hebatnya kami ini. Berdua ya kok kebetulan susul-susulan juaranya..wkwkwk

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s