Skema Penduduk dan Sebatang Rokok

Sebatang rokok, disulut, dihisap, terus masuk ke tenggorokoan, masuk ke paru-paru, dan kemudian di hembuskan melalui hidung. Asap tipis yang menyembul malu-malu segera terdepak oleh semilir bayu saat matari merangsek naik. Kopi pekat di atas meja jati di villa berbusana abad 18. Kecoklatan, mewah, dan menawan. Sebatang rokok, dihisap hingga tenggorok merasa panas. Nasi kebuli, koran, dan istri cantik menanti di meja makan. Cuaca hari itu, cerah.

Sebuah cangkul, sebotol kopi, dan sehelai handuk. Bercengkrama menanti si empunya yang sedang membakar tembikar di belakang kandang dekat jendela dimana uap nasi masih bisa mengebul. Terkadang terbatuk, terkadang nafasnya tersengal, si bapak tadi. Kadang terdengar bicara sederhana pada si istri yang menumbuk jagung. Rokok di sulutnya perlahan. Asap tipis yang menyembul malu-malu segera terdepak oleh semilir bayu saat matari merangsek naik. Rokoknya tergerus bara agni. Lamat-lamat terdengar pintu diketuk dari depan. Mungkin rentenir kemarin lusa. Entah apa yang bakal terjadi di beberapa jam kemudian. Buih nasi jagung yang hampir matang menggedor-gedor tutup panci. Bu Tani tak semangat lagi. Cuaca hari itu, sedikit mendung di luar sana.

Sepatu yang terikat dan celana abu-abu tipe borju. Ponsel itu sudah sejak tadi ada dalam saku bajunya. Sesekali irama pendek dari benda ajaib itu terdengar. Korek si anak masih di dalam tas. Ia melangkah menuju lemari rias dan membenarkan letak dasi dan menyiramkan aroma duniawi ke seluruh tubuh. Bersiul-siul dan berdendang sembari menarik sebatang rokok di saku baju putihnya. Selembar uang sepuluh ribuan hanya bisa mendongak karena tertindih kumparan. Sedikit bernafas lega karena kotak rokok terangkat dan berkurang isinya. Ia masih bisa mendengar bunyi cresh perlahan beberapa kali sebelum pemantik itu dapat menyala. Asap tipis yang menyembul malu-malu segera terdepak oleh semilir bayu saat matari merangsek naik. Kamar kost itu kemudian di kuncinya. Ia tak makan pagi itu. Rokok sudah cukup. Cuaca hari ini, cukup cerah.

Ada punting rokok di sepanjang jalan, seberang sana, di atas, di semak, di tong sampah, di meja, terseret arus air, dan tertindih tanah dan sampah
Mereka berteriak, hendak menguraikan kisah dan nestapanya
Kertasku sudah penuh, kubilang
Mereka hanya bisa merintih dan menghela nafas panjang
Sesekali disekatnya air mata yang terbungkus segumpal cerita

Ada yang datang dan pergi silih berganti
Ada yang pulang dan pergi tak ada kendali
Ada yang tertawa dan menangis di berbagai masa
Ada lapar dan dahaga yang memburu, menerkam, meninjak, dan mencekik melilit usus dua belas jari
Terkadang hanya doa yang mempu terucap
Terkadang hanya lampu pijar yang menemani syair Al Qur’an di senja hari
Terkadang hanya beberapa bulir beras dan tomat-tomat bekas berguguran untuk makan hari ini
Kebahagian itu
Tawa dan tangis itu
Berada dalam barometer yang berbeda
Masih banyak puntung rokok yang berserakan di antara reruntuhan atap
Dengan berbagai peluh dan keluh di ambang pintu kecemasan
Mengurai penat pada ragam kisah di penghujung zaman

*Daebak aniji, na neun? Geurooo~m ^^ Jinjja daebak-iya naega..hhoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s