Apakah Dia?

Semua berawal dari sebuah organisasi sederhana yang sangat luar biasa. Dia adalah seorang mapala di sebuah Universitas ternama di Kalimantan Selatan yang juga merupakan tempatku menimba ilmu. Saat itu, sebuah kelompok pecinta alam di mana dia juga salah satu anggotanya,  mengadakan perekrutan anggota baru. Mereka dengan apik mengatur administrasi pendaftaran agar setiap mahasiswa baru yang ingin masuk kelompok pecinta alam itu mudah mendaftar. Aku yang merupakan Sispala (Siswa Pecinta Alam) di sekolahku, ingin meneruskan kembali pengalamanku menjelajahi alam di Universitas itu. Itu sudah menjadi keinginannku sejak awal, aku berkata pada diriku sendiri, bahwa kelak jika aku meneruskan pendidikanku di sebuah perguruan tinggi, aku ingin meneruskan hobiku itu. Yah, saat pertama kali aku memasuki Universitas itu, aku langsung jatuh cinta pada dinding panjat yang berdiri tegak dihadapanku.
Setelah kuliah, aku pulang bersama Lina, teman kosku. Di sekretariat pecinta alam, tertera sebuah tulisan “ TEMPAT PENDAFTARAN MAPALA”, wah, ini yang aku tunggu.

“Lina, kita daftar mapala, yuk?” kataku pada Lina.
“Aku takut, Peh. Ekstrim ah ikutan mapala.” Kata Lina menolak ajakanku.
“Yah, dicoba dulu tho. Aku dulu juga takut. Tapi, coba dulu dong, Lin. Ya?” Kataku membujuk Lina. Aku sangat berharap dia mau. Supaya nanti ada temanku di sana.
“Aku nggak berani. Beneran.” Lina tetap saja tidak mau. Yah, Lina tetap kekeh tidak mau menuruti ajakanku. Ya sudahlah. Aku daftar sendiri.
“Ya udah, kalau begitu, antar aku daftar ya, Lin?” kataku lagi.
“Iya.” Kata Lina pendek.


Sesampainya di depan sekretariat, aku langsung mengetuk meja yang menghalangi pintu. Meja itu sengaja di taruh di tengah-tengah pintu untuk dijadikan tempat pendaftaran. Lima menit kemudian muncul seseorang yang begitu terlihat aneh dimataku. Bertubuh tegap layaknya pria-pria lain. Rambutnya gimbal seperti Bob Marley. Dagunya ditumbuhi rambut-rambut  tipis. Dia tersenyum melihatku. Aku balik membalas senyumannya, walaupun ada sedikit rasa segan dan takut.

“Ada yang bisa saya bantu, Dik?” dia menyapaku.
“Mau daftar, Bang.” Sahutku pendek. Tiba-tiba muncul seseorang lagi yang dapat membuatku lega. Tadinya aku sangat gugup berhadapan dengan pria gimbal itu.
“Siapa, Nggut?”, tegurnya pada pria gimbal itu. Pikirku dalam hati. Siapa namanya? Kok dipanggil ‘Nggut’.
“Ini ada yang mau daftar”. Katanya menjawab.
“Oo, beri mereka formulirnya.” Ujar abang itu lagi.

Kemudian pria gimbal itu memberikan secarik kertas yang bertuliskan ‘Formulir Pendaftaran’. Aku segera menerimanya, dan mengisi formulir itu. Kemudian kukembalikan lagi padanya. Kuucapkan terima kasih dan aku lantas buru-buru pergi dari tempat itu.

Entah apa yang sedang kurasakan, aku begitu aneh melihat pria gimbal itu. Matanya tajam, sangat tajam saat menatapku. Hal itu mengusikku hingga beberapa hari. Membuat tidurku tidak nyenyak. Aku jadi gugup saat melewati sekretariat itu.


Suatu hari, ada sms masuk di handphoneku. Ternyata sms dari kelompok pecinta alam itu. Mereka memberitahukan bahwa dua hari ke depan akan diadakan pertemuan antara anggota baru dan anggota senior. Aku datang pada acara itu. Jantungku berdegup kencang kala melihat pria gimbal itu. Dia mendekatiku.

“Boleh kenalan?” ujarnya memulai pembicaraan.
“Boleh. Indah” kataku, seraya memperkenalkan diri.
“Anggut.” Jawabnya pendek.

Anggut? Tanyaku dalam hati. Nama yang aneh.

“Pungkas Hermawan, itu namaku. Tapi teman-teman lebih sering memanggilku Anggut.” Jelasnya tiba-tiba.

Oo, ternyata namanya Pungkas Hermawan. Nama yang bagus, hehehe.

Obrolan kami terhenti saat seorang Abang memulai acara. Mereka memperkenalkan organisasi mereka. Memperkenalkan anggota-anggotanya. Kemudian membagi kelompok-kelompok kecil untuk kami. Setiap kelompok dibimbing oleh abang senior. Dan kebetulan bang Anggut yang menjadi pembimbing kami. Kami diberi penjelasan lebih luas tentang organisasi mereka. Kami juga diberi arahan dalam memilih bidang-bidang kepecintaalaman yang ingin kami dalami. Bang Anggut member penjelasan dengan sangat menarik, membuat kami ingin tahu lebih banyak lagi. Beliau member penjelasan dengan bercanda. Jadi kami tidak tegang, kami seperti sudah kenal lama dengan beliau. Setelah pengarahan, kami dikumpulkan kembali menjadi satu. Acara selesai. Tetapi kami tidak langsung dibubarkan. Kami diberi kebebasan untuk berdiskusi dengan siapa saja.

Tetapi aku segera berpamitan pulang. Karena hari sudah menjelang maghrib, temanku dari Kotabaru akan datang ke kosku. Kasihan dia kalau sesampainya di kos aku tidak ada. Aku berpamitan pada abang-abang, juga pada teman-teman. Kemudian aku segera pergi. Aku akan mempersiapkan sambutan kecil-kecillan untuk temanku, walaupun hanya sekedar roti kering dan teh manis yang bisa ku siapkan.

Saat aku berjalan keluar kampus, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang berkendaraan yang tiba-tiba berhenti disampingku. Ternyata bang Anggut. Wah, ada apa? Pikirku. Bukannya aku sudah berpamitan tadi.

“Ada apa, Bang?” tanyaku padanya.
“Ayo, aku antar pulang. Sudah sore, nanti kamu diculik orang kalau pulang sendirian.” Candanya padaku.
“Makasih, Bang. Saya jalan kaki saja.” Tolakku dengan halus.
“Kamu ini. Ayolah. Tidak akan aku suruh bayar juga. Kos kamu dimana?” dia tetap saja membujukku.
“Ya udah, Bang. Monggo. Kos saya di Cemara II A.” Kataku akhirnya.
“Gitu dong. Ayo naik.”  Ujarnya menyuruhku.


Sejak kejadian itu, aku merasakan sesuatu yang tidak wajar dalam hatiku. Sepertinya aku menyukainya. Pria berambut gimbal yang tak aku tahu asal-usulnya. Pria gimbal tetapi mempunyai pemikiran-pemikiran yang cerdas. Dia benar-benar telah mencuri hatiku.

“Peh, ada yang cari kamu, tuh.” Kata Dessy memanggilku.
“Siapa?” kataku.
“Nggak tahu siapa. Coba kamu keluar aja.” Katanya sinis.

Aku berjalan menuju pintu. Ternyata yang datang mencariku bang Anggut. Jantungku berdetak kencang, ada apa ini. Seperti tidak biasanya. Kenapa perasaanku berkecamuk seperti ini.

“Ada apa, Bang?” tegurku. Rupanya dia terkejut juga melihatku.
“Tidak ada apa-apa. Hanya saja tadi kebetulan aku lewat depan kos kamu, sekalian saja aku mampir. Bolehkan aku main ke sini?” katanya panjang. Wah, orang ini mau ngapain ke kosku? Pikirku dalam hati.
“Boleh, Bang.” Jawabku gugup.

Kupersilahkan dia duduk. Kami ngobrol di teras kosku. Kami ngobrol panjang lebar. Ternyata dia orangnya asik. Nyaman di ajak ngobrol. Nyambung. Dia banyak bercerita tentang Bob Marley. Aneh, kok malah ngomongin Bob Marley. Pikirku lagi. Tapi seru juga, jadi tahu sejarah tentang Bob Marley. Dia juga banyak bercerita tentang keluarganya. Tetapi, kemudian dia diam. Aku tidak tahu apa yang membuatnya diam. Karena aku juga tidak tahu harus berbicara apa, jadi aku juga diam.

“Sebenarnya, kedatanganku kemari tadi, ada yang ingin kubicarakan padamu.” Katanya mulai berbicara lagi. Aku semakin bingung saat dia berkata begitu. Ada apa ini?
“Dari tadi aku ingin langsung berbicara padamu, tapi aku bingung akan memulainya dari mana. Jadi, aku mengalihkan pembicaraan kemana-mana tadi. Begini, aku menyukaimu.” Katanya tiba-tiba.
Gugup, salah tingkah, aku jadi bingung. Tidak tahu harus berbicara apa mendengar dia berkata begitu.
“Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat. Tapi, inilah yang sebenarnya aku rasakan. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku ingin mendengar jawabanmu malam ini juga.” Sambungnya lagi. Tuhan, apa yang harus aku  katakan. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
“Kita baru kenal, Bang. Kita belum tahu lebih jauh tentang diri kita masing-masing. Apa Abang yakin dengan kata-kata Abang tadi?” aku mencoba bicara.
“Yakin. Aku sangat yakin dengan kata-kataku.” Ujarnya lagi.
“Baiklah, kita coba jalani bersama. Semoga ada kecocokan diantara kita.” Kataku lagi, seperti tidak sadar mengucapkannya. Tersirat dipikirku: Sepertinya ini terlalu cepat. Mengapa aku tidak berfikir lebih panjang lagi?
“Benarkah? Kau mau mencobanya? Maksudku, kau mau mencoba menjalaninya bersamaku?” Tanyanya lagi. Seperti tidak yakin dengan jawabanku.
“Iya.” Jawabku pendek. Aku jadi tersipu malu.
“Tuhan, terimakasih.” Katanya bahagia.

“Aku pulang, ya? Malam sudah semakin larut. Terimakasih telah menerimaku apa adanya.” Katanya lagi.
“Iya.” Aku benar-benar tidak mampu berkata-kata lagi.


Beberapa hari kemudian, dia datang menemuiku di kampus. Kami ngobrol bersama, makan, dan kemudian dia mengantarku pulang ke kos. Saat itu, dia memberiku secarik puisi.

Saat Kau Tanya Seberapa Dalam Cintaku Padamu
Aku hanya diam dan tersenyum
saat Kau Tanya Kenapa tersenyum
Aku lalu terdiam dan membisu

Lalu kau kembali menyanyakan Kepadaku
Apakah Benar Kamu Mencintaiku
lagi-lagi mulut ini membatu
Sedikit aura murka tersirat pada mukamu yang ayu

Lalu kau kembali bertanya kepadaku
Maukah kau mencintai ku seperti matahari kepada bumi
seperti sebelumnya aku hanya diam dan membisu
Dan Kau Mulai Marah dengan Apa yang Terjadi

Tapi tetap kau tanyakan lagi kepadaku
Apakah kau bisa mencintaiku seperti bulan kepada malam
Lagi-lagi aku kembali terdiam seperti yang lalu
kali ini Kau mulai mensuarakan kekesalan mu.

Lalu aku menjawab, Aku akan mencintaimu seperti angin
Tidak seperti matahari yang mencintaimu hanya pada siang hari
Tidak Seperti Bulan yang mencintaimu hanya pada malam hari
Cintaku ada seperti Angin yang kau butuhkan untuk Hidup mu

Angin Itu ada tidak hanya siang, Tidak Juga pada Malam
Angin selalu ada disaat kau masih bernyawa tidak peduli siang atau malam
Angin bisa menghiburmu disaat kau gundah
Angin juga ada saat kau sedang tertawa bahagia

Aku ada tuk menerbangkan sayap-sayap indahmu tuk gapai impianmu
aku Angin yang selalu kau butuhkan tetapi tak kasat dalam matamu
cintaku kepada mu, seperti angin akan ada disetiap detik waktumu
Begitulah aku mencintaimu, karena Aku adalah angin untuk bidadari hatiku

Kamis 29 Mei 2008 pukul : 00.30 WITa
Di baca ya bu!!!

Itulah secarik puisi yang dia berikan kepadaku. Tersenyum aku membaca puisi itu. Tidak pernah menyangka jika dia mempunyai perasaan sedalam itu kepadaku. Tuhan, apakah dia yang kau percayakan untuk membimbingku?


Tteteh kasih cerpen ini. Kali ini bukan nasihat yang panjang. Hanya email yang berisi ceritanya.. peluk Tteteh.. :

Yang ngasih surat sudah jadi suaminya. Suaminya itu seniorku di Mapala..hhaha bininya itu temen deketku..aihhh syedapp ^^ Barakallah tteh….😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s