Das Kapital

Mengingat Karl Marx, mengingat buku ini: Das Kapital. Seseorang yang gigih terus mengajariku, Zan, dengan mulutnya yang tanpa henti mengoceh, berkata dan merumuskan irisan antara orang-orang yang teguh dengan idealismenya, dan berjuang dengan kebaikan dalam genggaman tangannya, akan beririsan dengan pendapatan dan kehidupannya. Aku mungkin tidak dapat dengan jelas menceritakan apa yang Zan ceritakan tentang hidup orang-orang idealis, yang sampai sekarang nama besarnya masih diingat dan dikagumi oleh banyak orang karena aku tak begitu pandai mengingat, menulis, dan menuturkan ulang, tapi aku sungguh sangat faham bagan dan irisan yang ia tuturkan. Seingatku kami menonton film dokumenter sambil membahas itu.

Aku belum menemukan semua bukunya Das Kapitalnya (kesemuanya berjumlah tiga buku). Namun, dengan membaca yang ada di tanganku, membaca karya intelektual yang muncul dari ruang hampa perenungan, aku merasakan seolah-olah makhluk yang bernama Das Kapital ini, hidup bersama kesengsaraan penulisnya. Karya yang menonjol yang bukan semata-mata karena pergulatan Marx, melainkan juga berkat pisau gagasan Marx yang tajam. Layaknya batu pualam, menantang angkuh banjir besar kapitalisme pada masanya. Melawan segala bentuk kezaliman modal. Yang meski untuk itu Marx harus menyaksikan satu per satu kematian orag-orang di dekatnya. Ia hidup dengan keluarga yang getir merajut hidup dengan kemiskinan yang setia menyertai.

Modal atau uang mengambil peran segala sudut kehidupan. Das Kapital menjadi siraman rohani yang menyegarkan. Ketika menyisir halamannya, kita digandeng untuk tahu akan bahaya akibat kepercayaan yang terlalu besar pada sistem kapitalisme. Yang sangat jelas menyingkirkan kaum nuruh, petani, anak jalanan, dan bahkan keluarga Marx sendiri. Das Kapital dituturkan Marx dengan bahasanya (yang menurut saya berattt sangatt…hhaha) yang khas. Marx mengisahkan dengan cara yang menyiksa batin kita, apa itu uang, apa yang beranak pinak darinya, dan bagaimana perannya dalam melahirkan banyak orang miskin. Buku yang menjadi dentuman yang lama disembunyikan. Buku yang mengajari saya banyak hal (walaupun belum semua buku terbaca) termasuk memilih pekerjaan yang juga sungguh membingungkan saya sebagai perempuan yang tidak mudah untuk fokus karena gangguan di sana sini ketika melakukan satu hal, atau memfokuskan diri untuk satu hal.

Marx menunjukkan bahwa tenaga manusia adalah dasar dari harga. Kekayaan masyarakat kapitalis dibuat dari akumulasi komoditas yang membawa kita pada “kehidupan ganda yang aneh”. Hasrat untuk keuntungan yang berlawanan dengan kebutuhan manusia. Benda-benda yang telah salah dipergunakan membuat pasar kapitalis penuh sesak. Keselamatan di tempat kerja di bawah kepentingan penjualan. Kerja abstrak yang diperkenalkan oleh kapitalisme, juga menyebutkan bahwa segala sesuatunya diukur dalam term norma rata-rata kerja. Kerja abstrak tidak material seperti raja, kekuatannya lahir dari keseluruhan cara pandang sosial. Tak ada komoditas secara alamiah. Uang menjadi ukuran standar atas nilai komoditas. Emas menjadi bentuk uang yang paling kuat. Kapitalisme mengambil tanah, bahan mentah, dan mesin dari produsen. Lalu mereka yang menjadi korban, dipaksa menjual tenaganya. Kapitalisme yang dilahirkan di Inggris. Modal merubah manusia pekerja menjadi komoditas. Pembeli, kaum borjuis, penjual, dan kaum proletar, muncul di pasar. Upah menunjukkan keseimbangan kelas penguasa. Imperialisme memecah belah buruh sedunia. God..WTH is this.. X(

Karl Marx, seingat saya, lahir di Trier, sebuah kota di negara yang sangat ingin saya kunjungi, Jerman. Ia juga berkampanye untuk hak-hak petani gurem untuk mengambil kayu di hutan. Hak yang terancam karena dikeluarkannya peraturan-peraturan baru. Marx, lelaki yang dibuang dari Jerman, masuk ke Perancis, dibuang lagi, mendapatkan sedikit angin di Inggris.

Ahh..rasanya pengen punya buku tuanya yang berkolaborasi dengan Frederick Engels. The Holy Family, 1843. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa aku mengambil nama “Edrick” (dari Frederick) untuk di sandingkan dengan Ernest, kakak pertamanya, anak pertama saya..hhehe (aamiin..^^). Frederick juga menuliskan “Manifesto Komunis” (yang sebelumnya dikenal dengan Manifesto of Communist League, kalau tidak salah ingat sih begitu tulisannya..hhe). Dalam menulis karya ini, Marx diminta untuk berkolaborasi dengan Frederick. Tulisan yang akhirnya menghadirkan teori perlawanan kelas Mark dan Engels (Fred/Frederick), ditahunnya revolusi, 1848. Famplet yang terkenal tiada bandingannya ini.. Wow!

Hanya kelas pekerja, dengan aktivitasnya sendiri, yang dapat melahirkan sosialisme. Sebagai kontrol kaum buruh.

Ah..kepalaku jadi sedikit mumet nulis ini.

Semoga Marx dapat ridho atas semua perjuangan dan penderitaannya. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s