Nan.

Ketika tulisan menawarkan diri sebagai simbol nyata yang akan tetap ada.
Ketika tulisan mampu mewakili kata – kata yang kelu dan perasaan yang terpendam.
Dan ketika menulis hadir sebagai satu – satunya jalan untuk menumpahkan perasaan.
Ketika menulis berubah menjadi jelmaan diri yang utuh.
Ketika menulis adalah “teman” terbaik untuk mencurahkan segala rasa.
Hanya mendengar dengan setia.
Tidak menyalahkan dan membenarkan.
Tidak menyanjung apalagi menyudutkan.
Tidak menyela dan memaksa.
Tidak menangisi dan menertawakan.
Hanya mendengar dengan setia.
Tanpa prejudice, judgement dan compliment.

— via The Heartbook

It was a mistake to love you too much, a mistake to love you too much.
Because of you, because of what I love, I suffer from waiting. To love you more was a mistake, a mistake to desire you so much.. nangis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s