Yang Pernah Kupahat Dalam Pandanganku

Hal yang terjadi di antara dua orang manusia, bagaimana itu bisa dijelaskan dengan penalaran biasa. Mulai hari ini, tidak bisa membantu melindungimu lagi dengan segala permohonanku kepada Tuhan, maafkan.

Tidak bisa berpegang pada kepercayaan dariku untukmu seperti sebelumnya, apa yang pernah terlintas dan menjadi langkah kita yang salah, maafkanlah.

Apa yang pernah kutulis sejak bertahun lalu, mimpi yang kubangun untuk kebahagiaanku sendiri, selalu menjadi Sirius dalam jajaran galaksinya yang selalu terang di antara yang lain.

Tapi.. Menjadi patah karena terlalu terang. Memiliki umur yang singkat karena terlalu bersinar. Tertelan oleh gesekan atmosfir angkasa karena terlalu benderang. Patahan demi patahan jatuh dan tidak kesemuanya dapat kembali tersambung dan menjadi utuh. Terasa sakit seperti seseorang merasa sungguh benar sakit.

Mundur dari langkah yang pernah kutapaki melalui tinta dan kertas dalam rentetan mimpi dan keinginanku, sudah dapat kuterima dengan mengorbankan waktu yang begitu panjang. Kemudian berhenti menatapmu. Berhenti menatap dengan perasaan bahagia yang meluap-luap walau dengan jarak yang sedemikian jauh. Berhenti menatap dengan terkejut dan berdegup karena sedikit demi sedikit dapat melihat dirimu yang mengelupasi siapa dirimu dihadapanku dengan kata dan tata laku. Dan..berhenti menatap diriku sendiri yang rupanya sebagian telah menjelma seperti wanita muda di masa lalumu. Kau melihatnya sedikit dari dalam diriku. Mendengungkan hal yang bahkan tak pernah ada buktinya seperti ini dalam fikiran dan terpahat dalam rumah mayaku, maafkanlah. Hanya begitu kuat mencekik fikiran dan nyawaku tanpa keluhan yang nyata. Ini..picisan yang seperti ini tetap tidak bisa mendamaikanku dengan fikiran dan diriku sendiri.

Entah dari mana ini berasal, entah bagaimana ini akan ditutupi, entah sepwrti apa ini akan berjalan, yang haus kukhawatirkan adalah diriku sendiri. Memelihara diri yang terlantar karena terlalu banyak memikirkanmu. Hanya memikirkanmu. Tanpa memperdulikan segala yang tertuang dalam segala laku dalam hariku untuk memuaskan segala kasih yang berubah menjadi keegoisan dan tanpa sadar menjadi beban yang sangat besar untukmu. Karena sejak awal bahkan niatku pun telah salah untuk memutuskan ada di sisimu. Sirius, terlalu egois menjadikan dirinya yang telah dilahirkan terang, mengerahkan segala kemampuannya untuk bersinar terang lebih dan lebih lagi walau konsekuensinya adalah nyawanya sendiri.

Bahkan pengemis yang meminta-minta tak aka  merasa semenderita yang sekarang kurasakan. Bukankah ini kejam? Bukankah pikiranku yang seperti ini begitu kejam dan keerlaluan? Menimbulkan banyak kesedihan. Untuk orang lain yang bahkan tak mengerti apapun bahkan diriku sendiri yang harusnya dapat lebih banyak lagi memahami karena  megetahui banyak hal dasar. Dalam cermin besar di sudut kamar kutatap dalam dengan waktu yang lama, mataku sendiri untuk waktu yang lama. Secara tidak sadar bahkan kulihat tubuhku seperti pedang Yang Myeong Gun yang telah lama tak digunakan setelah perjalanan panjangnya untuk melawan Won dalam era Jeoson. Egois untuk melawan tangan kanan Putra Mahkota dan kemudian terpental oleh pedang Won yang juga sahabatnya sendiri.

Mencengkeram hidupmu terlalu kuat, maafkan aku. Dengan sengaja menyebabkan masalah demi masalah dalam setiap deret harimu, maafkan aku. Tak ada penjelasan yang dapat kuberikan secara detil untuk mengungkapkan apa yang terjadi dan tak ada perkataan apapun yang mampu kuungkapkan untuk bicara padamu walau hanya basa-basi di kemudian hari. Kau harus hidup dengan baik. Hidup dengan sehat. Aku tetap melihatmu dengan jarak pandang yang tidak normal. Semua itu kufikir akan mengobati sedikit kesalahanku dan membuat hatiku sedikit nyaman untuk melangkah.

Bertemu denganmu, ada di sampingmu,  adalah takdir. Takdir dari Tuhan, dan takdir dari mimpi yang sejak dulu sangat kuusahakan. Untuk tiga bulan waktu murni dalam mengawali langkah kita di sini, sunggguh aku berterima kasih. Memberiku segala perhatian dan  mengabulkan banyak keinginan, sungguh kuletakkan terima kasihku di halaman depan yang walaupun tak di tempat terdepan. Sudah sampai sejauh ini, sungguh terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s