Makan Dengan Kesyukuran

Hari ini hari kedua puasa. Selain menghemat makan siang, lumayan uangnya disisihkan untuk sewa kamar. Punya 600 sampai 700 untuk satu bulan rasanya sudah sangat banyak sekarang. Tapi sudah tidak bisa mengabulkan permintaan anak-anak yang ‘nodong’ traktiran atau bawa dan kasih hadiah macem-macem. Sudah ditelan untuk bensin motor, bayar listrik dan air, beli makan, kebutuhan lain seperti kertas dll, pulsa internet dan telpon, juga untuk kebutuhan tak terduga lainnya.

Dibesarkan dengan banyak kemudahan hidup, membuatku tidak khawatir akan pengeluaran untuk esok hari. Karena kalkulasinya, alhamdulillah, ‘Cukup’. Kadang kalau nggak mau makan sendiri pasti ngajak kroco-kroco. Undul, Andri, Iveh, atau Milah. Atau yang lain juga. Tapi sekarang sudah kerasa betapa beruntungnya aku dengan uang yang diberikan orang tua dan kadang bekerja sambilan untuk menambah uanh jajan.

Sekarang sedang tidak bekerja karena fokus menyelesaikan skripsi. Uang yang ada harus dibagi-bagi. Harus cukup untuk kebutuhan diri sendiri. Kadang bertukar informasi dengan Iveh yang kapan lalu juga mengundurkan diri dari kantor karena ada fitnah. Kami berdua sedang satu nasib. Hidup dengan menghabiskan tabungan..hhaha kami yang hidup dengan menghasilkan uang simpanan di bank ini masih merasa sangat mudah dan nyaman. Ahh..yaa allah..betapa beruntungnya hidupku..

Barusan Iveh datang ke kontrakan dan kami berdua berbincang sebentar. Kondisi keuangan kami sedang tidak begitu baik. Kiranya jika dibandingka dengan beberapa waktu lalu sangat jomplang. Berangan-angan di kalsel ada tempat yang menerima pekerja paruh waktu denhan gaji 4500 W per jam. Tapi kalau dipindah ke rupiah kebanyakan dan nggak mungkin juga ada yang gaji segitu per jam di kalsel..hhehe dapet barusan jaga toko dari jam 4 sampai jam 11. Gajinya 30 ribu. Kami kebayang kalau yang jaga ini tanggungannya banyak. Yaa Allah kasian betul..

Puasa kemarin beli makan di luar untuk makan malam. Saat mengantri, melihat tumpukan ikan, sayur, dan nasi, teringat drama korea dan sinetron. Adegan dimana orang yang lewat menyimpan air liur karena tidak bisa membeli. Uanh di sakunya tidak cukup. Teringat Jang GeunSuk di Baby and Me. Tidak punya uanh untuk membeli susu formula untuk anaknya, perut lapar, dan di tangan hanya tersisa 150 W. Melewati mobil toko kelontong dan makanan ringan, sambil menelan ludah dan bertanya harga untuk susu dan snack. Akhirnya hanya cukup membeli susu untuk dia minum dan dibagi dengan putranya yang berumur 1.2 tahun. Ah..beruntungnya hidupku..

Beberapa kali juga bertemu dengan orang yang pendapatannya jauuuh dibawahku. Seperti beberapa minggu yang lalu. Ceritanya begini. Mamah dan Ayah datang ke kontrakan di akhir pekan mengunjungiku. Minggu siang Ayah pergi memperbaiki mobil Carry jadul kami ke bengkel. Sedangkan kami berdua, mamah dan aku, tetap di rumah. Saat sedang memasak, kami dikagetkan dengan seorang perempuan yang membawa anaknya di depan pintu rumah. Mamah segera mengira perempuan itu adalah peminta-minta. Tapi saat aku keluar,  ternyata beliau menjajakan jagung. Sambil membawa anaknya yang kutaksir umurnya baru sekitar dua tahun. “Beli satu nduk..” kata Mamah dari dalam.

“Liat nduk. Mba itu tadi untuk dapat 4000 rupiah dengan satu jagungnya, harus berjalan mencari orang yang mau membeli jagungnya.” Aku diem.

Akhir-akhir ini baru kerasa nggak kaya sebelum ayah pensiun. Gaji yang lumayan milik ayah, aku kadang masih kena cipratannya. Sekarang mamah kerja sendiri untuk kebutuhan mereka berdua. Belum lagi biaya mengunjugiku, anak semata wayangnya. Belum lagi kalau beliau ngebantu adik-adiknya. Kadang juga membelikan hadiah-hadiah dan ‘todongan’ dari dua ponakan yang seperti anak mereka sendiri. Bana dan Sofi. Keponakan kesayanganku. Melihat beliau begini pikiranku sudah pengen cari uang yang banyak aja. PNS atau apa lah itu. Atau usaha apa saja yang membuat hidupku ‘cukup’ dan juga cukup untuk memberi ayah uang. Untuk bulanan dan modal usaha.

Di depan warung makan tadi aku masih mengantri dan berfikir. Uangku di dompet tersisa 22.000 dan terselip beberapa recehan di antaranya. Uang di ATM masih lumayan banyak. Saat itu aku merasa memiliki uang yang sangat banyak. Aku masih bisa membawa uang sejumlah 14.000 setelah membeli nasi. Dan masih bisa membeli bensin di perjalanan pulang. Bersyukurnya……diberi kemudahan seperti ini.

Di perjalanan saat mengantri bensin, terfikir lagi. Masih banyak orang yang mengeluh tentang makanan yang ada di hadapannya. Aku masih sering tidak bersyukur kalau dihadapanku ini menu yang tersedia adalah belut, daun pepaya, dan makanan yang banyak biji timunnya. Aku nggak bisa maka itu soalnya..hhehe masih sangat bersyukur karena tidak pernah mengeluh tentang makanan. Makanya badanku bulet begini wkwkwk Untung tinggi. Kalo enggak dah kaya bola aja bunder hhaha Organisasi kampus yang kuikuti juga mengajarkan untuk tidak milih-milih makanan untuk ‘survive’. Mapala..hhoho apa aja dah mapala ini. Di kasi makanan apa aja okee😀

Ah..senangnya hidup dengan kesyukuran. Walaupun kesyukuran yang di diriku masih belum begitu tinggi, kurasa sudah mulai bertambah banyak sejak ayah pensiun..hhehe

Yaa Allah..mudah-mudahan kau tingkatkan terusss rasa syukur di dalam diriku ini Yaa Allah..aamiin..

Hari ini bersiap berbuka puasa dengan Shake Nutrisi rasa Vanila dengan buah Sawo metik di depan kontrakan..hhoho malama nanti baru masak.. alhamdulillah yah ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s