Tuhan, Terima Kasih. Saya Ikhlas.

Pagi yang berat.. Ini mata susah bener di ajak ngebuka. Dari jam 2.48 gliyengan aja pengen merem terus..hmmm

Searching tulisan jaman kapan yang hilang gara-gara dulu ceritanya mau di pindah kw alamat wordpress yang lain. Di ekspor impor bisa. Katanya.. -_- *malah ilang kabehh tulisanku hemm

Tulisan yang nanti ada di bawah yang di cetak miring adalah tulisan dari judul yang sama seperti titel post ini. Cuman aku tambahkan saja ceritanya sama kejadian yang sekarang..

Tuhan, terima kasih. Dia tidak sempurna, tapi membuatku merasa berharga. Aku juga bukan seseorang yang sempurna. Namun aku ingin membuatnya merasa menjadi lelaki berharga. Dia sudah menjadi temanku, kakak bagiku, guru untukku. Kemudian di akhir keinginan ini, aku berharap dia menjadi bagian dari hidupku~

Naega yegiseoyo, geunyang, hanya karena ingin menguatkan rasa ikhlasku, keingintahuanku, kasih sayangku, penasaranku, kekagumanku, kepercayanku, kesetiaanku, dan kebesaran hatiku.. Aku menyadari benar bahwa aku yang menulis tulisan ini bukanlah seseorang yang sempurna yang bisa sangat Ia banggakan. Hanya perempuan yang selalu ingin tahu, ingin belajar, dan terus harus terlihat tegar dihadapan banyak orang. Ada kendali yang tidak bisa selalu aku kendalikan. Tuhan yang merajut benang merah untuk setiap nafas di bumi ini, termasuk aku, tidak akan pernah salah menentukan satu dan lainnya. Namun, ketika dalam proses menata hati ini dan proses pada hubungan kami berdua ini tidak berakhir pada akhir seperti yang banyak orang lain simpulkan, yaitu menikah, aku, InsyaAllah ikhlas..

Bukan karena aku tidak menyayanginya, bukan karena aku tidak mempercayainya, bukan karena ada lelaki lain yang masih aku cintai, bukan karena ada seseorang yang baru mengisi hatiku, bukan. Bukan karena itu semua.. Bukan..

Aku menyukainya sejak pertengahan tahun 2010. Hanya karena aku merasa nyaman berada di dekatnya, itu saja. Berkomunikasi tidak ada ujungnya melalui pesan singkat tidak karuan. Bertemu juga sangat jarang. Amat sangat jarang. Hanya saja, rasa nyaman itu yang membuatku benar-benar melepas aktivitas pacaranku yang ngalor ngidul nggak karuan. Kesana kemari blingsatan ga ketulungan.. Sejak itu hubunganku dengan lawan jenis bisa dikatakan jarang dan hanya sebatas kenal dan akrab.

Sudah. Itu saja. Ini di luaran menjadi gosip yang aku takutkan. Kami tidak mempunyai hubungan khusus. Namun, banyak yang mengira bahwa ada sesuatu di antara kami berdua. Aku senang dengan apa yang mereka bicarakan walapun itu tidak benar. Aku hanya tersenyum simpul kadang-kadang. Dan ternyata yang kulakukan itu fatal karena orang-orang mengira memang ada sesuatu yang terjadi di antara kami. Kemudian, di awal tahun 2012, aku mulai belajar menghilangkannya dari fikiranku. Berhasil!! Rupanya berhasil.. ^^ 3 Maret 2012, aku melengkapkan diri dengan menutup aurat..

Yah, meskipun terkadang masih kepikiran sama dia sih karena kami masih sering sekali smsan. Dan pada saat aku satu malam duduk dengannya, aku yang setengah tidur itu, tahu kalau dia menjagaku. Di situ juga aku mulai ada sesuatu lagi di fikiranku. Saat dia memindahkan kepalaku di bahunya, saat tanganku berada di tangannya, saat ia membenarkan posisi tidurku, saat dia..hmmmpp menjagaku..

Kemudian, saat perjalannya ke Medan, saat kami berkomunikasi intens lewat pesan singkat, ada sesuatu yang membuatku harus mengatakan bahwa aku pernah menyukainya di malam hari saat ia menelfonku. Yang tentunya sudah tidak lagi demikian. Sudah tidak terlalu menginginkannya lagi untuk menjadi kekasih atau apapun itu. Setelah kejadian itu Ia juga menuliskan pesan padaku bahwa jika aku mengatakannya saja sejak awal, mungkin sekarang sudah menjajaki pelaminan. Aku tidak pernah tahu ada atau tidaknya keseriusan dalam kalimatnya itu. Kemudian, Ia mengajakku untuk pergi berdua ziarah. Dalam perjalanan perasaanku muncul lagi. Saat di pantai, saat di jalan, saat tidur berdua, saat dia mencium keningku, dan saat menghabiskan waktu-waktu bersama.. Di perjalanan itu entah mengapa aku menginginkannya lagi. Hanya saja kemudian, aku bisa menguasai diri lagi setelah beberapa waktu terpisah darinya setelah perjalanan itu.

Begitu panjang kisah yang ingin aku bagi. Cerita mengapa aku bisa sampai menjadi begini..

Pun hubungan kami yang sangat dekat sekarang ini satupun belum pernah aku dokumentasikan di sini. Bahkan kebahagiaan di sepanjang akhir Desember dan Januari ini, membuatku tidak mampu menulis. Karena terlalu banyak yang ingin aku bagi, juga karena kesibukan yang begitu menyita waktuku ini.. Sungguh disayangkan. Semoga nanti aku bisa perlahan bisa mendokumentasikan semuanya.. Dengan baik.

Sekarang, dia yang memintaku untuk mempertimbangkannya. Dia ingin aku kembali menjadikanya orang penting dihidupku. Namun, dua kali pula ia pernah berkata bahwa dia juga takut bahwa kami tidak berjodoh. Itu Ia ucapkan langsung secara lisan saat kami makan di dekat Bandara sambil memegang tanganku. Dan dengan bodoh dan santainya aku menanggapi, “Iya..tahu ae ulun.” Yang kalau dibahasa Indonesiakan, Iya..saya juga tahu itu.. Bodohnya..hhehe sepertinya bukan aku yang bicara. Allah yang menggerakkan bibirku. Karena mungkin jika aku yang merespon, tidak akan begitu. Aku pasti akan bingung, dan kemudian melihatnya, menatapnya lama. Ucapannya yang kedua melalui pesan singkat. Dia menulis, Aku khawatir kamu bukan untuk aku, dan aku juga khawatir aku bukan untukmu. Lagi-lagi aku meresponnya dengan jawaban yang mirip. Kira-kira mungkin dalam bahasa Indonesia begini:
Iya..aku faham kok..bla bla blaa bla (karena dia banyak tanya kenapa kenapa kenapa hhehe)

Aku berada di dekatnya sangat bahagia. Begitu bahagia.. Juga, sedang menata hati. Mengikhlaskan semua kasih sayangku jika memang bukan aku yang menjadi jodohnya. Aku, benar-benar bisa ikhlas. Yang aku tahu, aku sangat menyayanginya. Dan sudah ikhlas jika Allah tidak menggariskan kami berdua untuk bersama..

Karena dulu, sebelumnya, aku memang sangat menginginkannya menjadi bagian dari hidupku. Itu terjadi saat aku belum berhijab. Dan rupanya aku belajar. Belajar mengerti, belajar memahami. Memahami diriku sendiri, memahami orang lain juga.. Hingga sekarang aku bisa mengikhlaskan semuanya. Memang, dalam doaku, aku selalu dan terus menyelipkan namanya. Hanya saja, perasaan ikhlas itu aku latih agar nanti saat berhubungan badan dengan suamiku, jika bukan dia, tidak akan terbayang lelaki yang pernah dan masih terus aku sayangi. Naudzubillah.. Itu. Itu yang sangat aku takutkan saat aku tidak bisa melepasnya di fikiran, sedang kami tidak dalam ikatan pernikahan.. Karena itu, aku begini. Karena itu, aku seperti ini.. 

Hanya, jangan ragukan besarnya rasa sayangku yang engkau tumbuhkan lagi ini.. Kau hanya harus tahu dan percaya. Terlepas nantinya kita akan atau tidak berjodoh. Itu saja.. 09.11pm. Banjarbaru, 30 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s