Buku Untukmu.

Assalamuaalaikum aabi.
Hari ini menulis lagi..🙂

Ga kerasa ya, beberapa hari lagi hampir lima bulan kenal aabi🙂

Sering terbersit rasa syukur yang banyak karena didekatkan dengan namja yang menjaga ulun dari jauh. Menjaga dengan kemampuannya, menjaga dengan komunikasi juga.

Bii.. Hal yang terjadi di antara dua orang manusia, kadang tidak bisa dijelaskan dengan penalaran biasa. Sampai sekarang juga belum begitu percaya aabi dan ulun sudah sedekat ini. Waktu sesingkat ini Sudah berencana melangkah ke jenjang yang lebih sakral, menikah, sejak 4 Juni lalu, cukup membuat ulun lebih dari sekedar tersipu dan bahagia. Tanggal ketika aabi menulis ingin menjadikanku ibu dari anak-anak aabi. Istri aabi.

Sebelum hari itu, sudah bertanya pada Tuhan tentangmu. Sudah bertanya padaNya, apakah kamu. Dan ketika niat itu aabi utarakan, entah mengapa seolah tidak begitu terkejut. Rasa terkejut berlebihan tidak muncul. Entah. Juga tidak tahu mengapa begitu Mulai hari itu, banyak doa yang dipanjatkan untuk hubungan ini. Doa untukmu. Doa untuk kita. Hanya terus ingin melindungimu walaupun hanya dengan permohonanku kepada Tuhan. Karena jarak, karena keterbatasan waktu.

Dari lebih dari satu-dua kejadian, tidak dipungkiri bahwa apapun yang aabi lakukan, ulun selalu percaya. Dan menjaga kepercayaan itu sampai sekarang. Apa yang pernah terjadi di masa lalu dan menjadi langkah kita yang salah, sudah ulun terima dengan penerimaan yang baik. Dengan keikhlasan yang utuh. Walau kadang masih teringat kesalahan-kesalahan itu. Karena kesalahan tidak hanya aabi aja yang pernah melakukan. Ulun juga punya banyak salah. Punya masa lalu yang nggak sepantasnya dilakukan. Itu juga salah satu dasar mengapa terus percaya pada aabi. Sangat percaya.

Ketika aabi datang, terkadang ulun menatap aabi dengan hati yang bahagia, dengan perasaan yang meluap-luap walau dengan ekspresi yang nampak biasa saja. Kadang mungikin terlihat menatapmu dengan terkejut. Walaupun jantung berdegup karena sedikit demi sedikit dapat melihat dirimu yang mengelupasi siapa dirimu dihadapanku dengan kata dan tata laku yang kadang mengejutkan.

Tapi bii..sepertinya ada yang salah antara kita. Ada kesalahan besar yang telah kulakukan. Denganmu.

Ulun menghabiskan waktu pagi dengan menatap diri ulun sendiri. Melakukan itu hampir satu jam di waktu subuh. Terbersit fikiran bahwa rupanya sebagian diri ulun beberapa waktu ini telah menjelma seperti ulun yang ada di masa lalu. Dan bahkan lebih parah. Ulun tidak mendengungkan hal yang tak pernah ada buktinya seperti ini dalam fikiran. Ini bahkan ulun lakukan. Denganmu. Dengan aabi. Lelaki yang ulun percaya akan menemani ulun sampai akhir dengan saling melengkapi.

Ini bukan picisan bii. Ini kesalahan. Perlu nafas panjang berkali-kali untuk berdamai dengan fikiran dan diriku sendiri.

Entah dari mana ini berasal, entah bagaimana ini terjadi, entah seperti apa ini akan berjalan, yang harus kukhawatirkan adalah diriku sendiri.

Sejak membenahi diri beberapa waktu lalu, berusaha terus menjaga dan memelihara diri untuk hidup lebih baik. Tanpa memperdulikan segala yang tertuang dalam segala laku di masa lalu. Karena waktu akan selalu melaju, dengan segala baik atau buruk dari laku.

Namun, untuk memuaskan kasih yang berubah menjadi keegoisan dan tanpa sadar menjadi beban yang sangat besar untukmu dan aku, aku melakukan lagi kesalahanku di masa lalu.

Ada rasa takut yang sangat besar di fikiran ulun ketika sadar. Ada rasa takut yang sangat besar ketika ingat. Dan ada kesadaran yang hilang ketika bersamamu.

Ulun mau jadi ibu yang baik. Ulun mau jadi perempuan yang baik. Yang walaupun pernah melakukan kesalahan, tapi terus melakukan perbaikan. Tapi bii..ga pengen terus-terusan salah begini.

Ulun mohon bantu ulun..

Ulun nggak menyalahkan aabi. Karena yang salah ulun. Karena tidak bisa menjaga aabi dari hal yang seperti itu. Ulun mau jadi istri aabi yang baik. Di masa sebelum menikah. Dan menjadi istri yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu setelah menikah.

Simpan.

Hingga suatu saat datang waktu yang tepat.

Mencengkerammu hidupmu terlalu kuat, maafkanlah. Dengan sengaja menyebabkan masalah demi masalah dalam setiap deret harimu, maafkan ulun. Membuat aabi berfikir keras, maafkan.

Tak ada penjelasan yang dapat ulun berikan secara detil untuk mengungkapkan apa yang terjadi dan tak ada perkataan apapun yang mampu ulun ungkapkan untuk bicara padamu tentang apa yang telah dilakukan sebelumnya. Semoga proses belajar berkomunikasi ulun dalam hal menyelesaikan masalah bisa lebih baik.

Intinya hanya satu, bii.

I try to write everything in my life and from something easy to write.

Akan segera menemuimu. Di rumah kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s