Waktu dan Kesempatan Untuk Bicara

Ini perkara gampang bagi banyak orang. Tapi tidak untuk aku. Dibesarkan dari orangtua yang phlegmatis-melankolis, setidaknya, sebagian besar diriku seperti itu. Langsung, atau tidak langsung. Dan itu, terbukti demikian..πŸ™‚

Bicara, adalah sesuatu yang berharga buatku. Bicara, adalah harta. Bicara, adalah kesempatan untuk kehidupanku. Bisu ya, Mbak? hhahahaha asyem :p

Bukan. Bukan bisu. Tapi membisukan diri.. Lebih banyak bagian dari diriku memaksa untuk membiarkan masalah-masalah itu berjingkatan saja di dalam fikiranku. Kadang, terasa nyeri saat masalah yang disimpan itu semakin menjadi-jadi karena tidak diutarakan, tidak dibicarakan. Dalam fikiranku tumbuh kecambah pemikiran bahwa, kita tidak tahu siapa yang benar-benar ingin mendengarkan masalah kita. Bahwa tidak semua orang bisa dengan tulus mendengarkan tanpa menyela dengan permasalahannya pula. Bertahun lamanya, aku bertahan dengan pemikiran itu. Bahkan terkadang hingga sekarang. Yah..jadilah kadang aku yang lebih banyak menjadi tempat sampah banyak pihak. Masalahku sendiri gimana? Yowes biarin aja dia kesimpen di laci lemari..hhihi

Memang, sedikit demi sedikit aku mulai sadar bahwa, tidak semua orang demikian. Ketika kita terbuka, ketika kita ikhlas, kita akan mendapatkan timbal balik yang sama dengan itu. Mungkin selama 20 tahunan aku tidak banyak mengambil kesempatan dari rewardku itu. Timbal balik keikhlasan tadi maksudyaa..hhehe Gapapa.. Ditabung di tabungan Allah..hhehe bisa nggak sih nabung yang begituan? ^^

Someday, kayaknya bisa aku buktiin kalau tabunganku itu bener-bneer bisa di ambil..hhe ^^

Itu pembuka postingan saya kali ini..wkwwkwk*lebayyyy :p

Eh! Tapi serius begitu, tauk! X(

Yah..langsung saja wes..

Jadi begini, ada satu masalah lagi berlompatan di kepalaku selama satu – dua minggu ini. Kemarin aku sudah nggak tahan sama masalah ini. Saat selesai mandi dan bersiap sholat maghrib, rupanya itu adalah saat klimaks fikiranku mampu menahan masalah itu. Dalam sholat maghribku, aku menangis sejadinya. Dengan tertahan tentunya. Keluar dari kamar setelah selesai sholat maghrib, aku mencari-cari salah satu orang dari hanya beberapa yang paling berharga di hidupku. Aku ingin meminta pendapatnya mengenai masalah ini. Sudah tidak sanggup lagi rupanya hati dan fikiranku memenjarakan masalah ini sendiri. Nihil. Ternyata kenyataan kadang tak sesuai dengan keinginan. Ya gini. Yang di cari nggak ada..huks

nanges dan sedih luar biasa
pasang topeng nggak terjadi apa-apa

Mau keluar rasanya ini isi kepala..πŸ˜₯

Dan, setelah habis akal karena ketidaksabaranku, memohonlah aku pada orang lain untuk menjadi pendengar dan memberikan sedikit arahan. Mencerahkan atau tidak, yang penting unek-unekku keluaaaarrr >_<

Saat sedang serius bercerita, rupanya orang yang sangat diinginkan ada, datang. Tapi, aku gak mungkin mutus cerita gitu aja. Yasudah. Aku paksa untuk lanjut. Yah..biasanya kalo sanguinis sama sanguinis pada ngomong, pada gak mau kalah itu cerita. Dan biasanya saat bercerita seperti menceritakan sesuatu yang luar biasa. Apalagi O. Udah deh. Keluar itu berlebihannya.. Lebay, orang kata sekarang..πŸ˜€

Sebenernya dalam hati aku nggak tenang karena dapat sms beliau. Serius bener katanya kalau pake bahasa Indonesia..

Udah, abis itu pikiranku kemana-mana. Ga fokus..

Yah..setelah cerita dan diskusi singkat kami itu usai. Barulah kubalas smsnya..

Eh, tapi menjurusnya kok ke kawin??? Ya Allah..setelah baca itu, kerasa banget aura gak enak. Kenapa aku bilang gitu? Soalnya, sekarang aku bisa nggak sensitif, dan kebalikannya, kadang, malah sangat sensitif. Bahkan merasakan hal yang nggak terbesit sekalipun jika sangat sensififnya sedang On..πŸ˜₯

Hatiku kok sakit tiba-tiba setelah dua kali baca sms yang dikirimnya. Trus tanpa pikir panjang, aku ambil jaket, kunci motor, dan helm. Satu-satunya tempat yang nyaman untuk aku mengadu adalah masjid kampus. Ya di situ. Tempat dimana jika terjadi masalah, tempat dimana aku merasa sedih dan panik, kutuju. Semakin sakit ternyata. Aku langsung ambil motor dan menghalau perasaan tidak karuan ini di sepanjang jalan. Tidak tau lagi kemana tangan ini mengarahkan motor. HIngga akhirnya aku sampai di Bandara. Duduklah aku untuk sementara waktu di sana. Sempat menangis lagi. Namun tidak banyak. Nyeri sekali saat menangis di bandara malam ini. Sendiri, dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kemudian beliau menanyakan diaman aku, dan menyuruh untuk tidak terlalu larut malam kembali ke rumah. Mengetahui aku di Bandara sendirian dan nggak jelas juntrungannya, beliau segera menyuruhku untuk pulang. Seperti biasa, aku selalu mematuhi semua yang beliau katakan. Yah..sepenuh rasa kasih sayang ini ada.

Aku berusaha sekuat mungkin memasang topeng. Sekencang yang bisa aku pasang. Agar, masalah itu tidak terbaca, tidak terduga. Ini pilihanku. Alhamdulillah moodku lebih baik..πŸ™‚

Pagi keesokan harinya..

Moodku sudah sangat bagus karena pagi ini perasaanku sudah sangat nyaman. Masalah kemarin, sudah aku kesampingkan. Hanya saja, aku lupa bahwa ada sosok yang mudah penasaran dengan sesuatu yang ia dengar dan ia tahu. Aku nggak bisa menceritakan itu disaat moodku sedang bagus. Aku sdang tidak ingin hatiku terasa nyeri..

Dan, tanpa di sangka..

Dia tdak menerima itu. Kalau lebih nyaman bicara dengan orang lain ya nggak papa. Ga usah cerita kalau nggak mau cerita. Dan itu disampaikan dengan raut wajah yang lebih menusukku dari hari sebelumnya. Ya. Tadi malam.

Pagi ini lebih sakit. Pagi ini lebih nyeri dan mengerikan di banding sebelumya. Aku tidak bisa menangis sepagi ini. Aku tidak ingin. Yaa Rabb.. Mengapa begitu sakit jika orang yang kita begitu sayangi merasa tidak nyaman dengan sikap kita..

Aku, ingin sekali memeluknya untuk meminta maaf. Semua yang terjadi, kukatakan padanya. Semuanya..

Namun, pagi ini, bisakah kau memahami? Aku harap masih ada maaf dan masih ada rasa sayangnya untuk aku yang susah di atur ini..

Semoga..
Semoga masih ada kesempatan untuk bicara..
Dengan waktu yang cukup, dengan perasaan yang lebih baik..

06.24am – 09.10am, 4 Maret 2013
Meja Kerja, Pagi Bercahaya
Maafkan aku, sayang..
Semoga kau masih mampu memberikan maaf untukku yang tidak sensitif ini..
Jika lebih lama dari ini beliau tidak menggubrisku, rasanya aku ingin menghilang sementara waktu..

*ditulis di blog pagi ini. Dibagi karena cuman pengen pian tau apa yang terjadi. Itu aja.. Mungkin kalau perasaan pian sdh nyaman, dan ingin mendengar apa yang sedang ulun fikirkan, akan ulun ceritakan.. InsyaAllah..
Maafkanlah..

Note: pernah mengirim ini lebih setahun yang lalu. Diposting di wordpress dan langsung di copy untuk dikirim kepada lelaki itu langsung. Dia katakan untuk segera menghapus postinganku itu setelah membacanya melalui inbox jejaring Mark, Facebook. Aku menangis dan menghapusnya segera. Namun, tidak lupa untuk membuat salinannya di notepad komputer untuk suatu saat membaca ulang ceritaku sendiri. Well. Aku tidak takut lagi untuk membuat salinannya di sini. Perempuan yang pernah membuatku penasaran, yang sekarang menjadi calon istrinya, juga sudah tahu tentang kami dulu. Then..why not.. Masa lalu……hanya masa lalu. Fine then.


NB Info:

Saya Konsultan Nutrisi. Ingin melangsing sehat atau naik berat badan? Ingin sehat dengan nutrisi terbaik hanya dengan mengganti sarapan?Β Atau ingin penghasilan tambahan?

Whatsapp: 0857.5113.6163

Telp: 0813.5131.5050

Pin BB: 75.618.b78

πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s