Ngoceh Gak Jelas Soal Tata Ruang

Setiap waktu, jumlah manusia semakin bertambah dan ruang relatif tetap. Karena itu, kemungkinan terbesarnya adalah akan muncul penyalahgunaan tata ruang. Satu konsekuensi fatal pada penyalahgunaan tata ruang tersebut adalah terganggunya banyak aspek pada aktivitas dan kinerja manusia. Perlu dilihat kembali redaksi pada pertanyaan yang sudah disebutkan mengenai penyalahgunaan tata ruang itu sendiri. Maksudnya adalah apakah penyalahgunaan tata ruang yang terdapat pada soal ini adalah penyalahgunaan tata ruang dari pelaksanaan peraturan pemerintahan atau penyalahgunaan tata ruang dari proses pembentukan peraturan pemerintahan itu sendiri. Karena saya fikir, setiap hal yang terjadi di suatu negara dalam lingkup kecil maupun besar, nantinya akan berpengaruh pada aspek kehidupan manusia yang lain. Contoh kecil saja seperti masalah sampah.
Timbulnya tumpukan sampah yang terdapat di berbagai sudut, kita arahkan saja pandangan pada kota Banjarmasin sebagai kota terdekat, baik yang berceceran, menumpuk, dan sebagainya, dimulai dari hal-hal kecil yang terkadang kita anggap remeh. Hal remeh temeh itu seperti bungkus permen, gelas air mineral, plastik makanan ringan, kaleng minuman bersoda, kertas, dan sebagainya. Karena penyebab kecil itulah maka terjadi penumpukan bahkan penimbunan di berbagai sudut karena ada anggapan remeh terhadap proses pembuangan dan pengelolaan dari sampah itu sendiri. Masalah sampah ini merembet pada permasalahan lain seperti pencemaran sungai, mengganggu keindahan kota, dan sebagainya. Padahal, kita dapat mengambil rezeki dari yang namanya samapah itu sendiri. Jika ditangani dengan benar sejak awal. Pun demikian dengan tata ruang.

Kembali ke topik awal yang membahas tentang penyalahgunaan tata ruang. Membahas mengenai penyalahgunaan tata ruang, kita tidak akan lepas dari dua hal penting;
1. Proses penggodokan peraturan pemerintahan, dan
2. Pelaksanaan peraturan pemerintahan (skala nasional maupun lokal).

Pada poin pertama tentang proses penggodokan peraturan pemerintahan, akan terlihat jelas di sana bahwa draft tersebut akan menjadi acuan tata ruang. Sayang sekali sampai sekarang saya sendiri kurang tahu tentang bagaimana proses penyusunan draft Rencana Tata Ruang Wilayah. Apakah kita membuatnya setelah melihat contoh tata kelola wilayah yang apik pada wilayah lain atau kita memiliki konsep lain untuk perkembangan kehidupan masyarakat di negeri seribu pulau ini.

Jika membicarakan tata kelola ruang pada suatu wilayah, fikiran kita akan melayang pada negara-negara maju yang memiliki tata kelola yang bagus. Tengok saja sebentar negara-negara apik seperti Jepang, Jerman, Inggris, dan Belanda. Negara-negara besar itu memiliki konsep tata ruang yang apik. Hal itu berimbas pada banyak hal seperti peningkatan kunjungan wisatawan asing, kebersihan kota, kenyamanan beraktivitas, dan sebagainya. Apakah sejak dulu Rencana Tata Ruang Wilayah yang kita gunakan tersebut mengacu pada contoh tata kelola ruangan yang apik seperti yang disebutkan di atas atau mungkin sekumpulan pengonsep memiliki pandangan dan konsep sendiri untuk kemajuan penataan ruang di pusat dan daerah di Indonesia.

Pendapat saya pribadi adalah, terlepas dari proses tersebut, apakah kita meniru atau mengonsep sendiri tata kelola wilayah, jika hal tersebut memiliki manfaat yang besar untuk kehidupan yang akan datang, maka statement saya, tidak masalah. Beberapa tahun terakhir, kita banyak melihat perjalanan para pembual, orang-orang yang katanya penting di atas sana, untuk belajar tentang sebuah ilmu. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan tersebut tidah hanya pada satu aspek mengenai masalah tata ruang saja. Pada aspek lain pun, orang-orang besar kita banyak belajar ke luar negeri. Proses yang tak kunjung usai itu tidak dibarengi dengan ingatan bahwa populasi penduduk Indonesia semakin hari semakin bertambah.

Sedangkan pada poin dua sendiri, pelaksanaan peraturan pemerintahan (skala nasional maupun lokal) dari RTRW yang yang sudah berupa peraturan tersebut bergantung pada hal penting seperti nasionalisme, ketegasan  bertindak, dan konsistensi.

Sekumpulan pengonsep yang menjadi wakil rakyat untuk mengelola tata kelola wilayah seharusnya tahu betul bagaimana menjalankan konsep yang sudah dibuat sedemikian rupa dan menghasilkan draft seperti Undang-Undang dan Rencana Tata Ruang Wilayah. Karena sebaik apapun konsep yang sudah dibuat tanpa dibarengi dengan aplikasi dari draft tersebut, nihil. Pengonsep seharusnya tahu bagaimana mengarahkan konsepnya tersebut pada orang-orang di bawahnya yang memang kedepannya bertanggung jawab atas pelaksanaan konsep tata kelola wilayah tersebut. Peraturan dibuat untuk dilanggar. Apakah ketidaktegasan penerapan peraturan tata kelola wilayah sesuai dengan jargon kalangan bawah tersebut?

Nasionalisme dan konsistensi juga memiliki peran di dalam pelaksanaan RTRW ini. Untuk penjelasannya, mungkin dapat kita fikirkan dan tanyakan sendiri dalam hati kita. Apakah masyarakat Indonesia sudah memiliki rasa nasionalisme yang tinggi untuk masa depan negaranya. Atau mungkin mereka tidak sempat berfikir hal itu karena memikirkan kemiskinan yang menggerongoti keluarga itu sendiri. Tentang konsistensi, penerapan konsep RTRW tidak mungkin hanya berjalan beberapa bulan saja. Ini akan menjadi pekerjaan sepanjang tahun karena mengingat pertumbuhan penduduk yang semakin padat sementara ruang untuk mereka tinggali relative tetap

~~~


NB Info:

Saya Konsultan Nutrisi. Ingin melangsing sehat atau naik berat badan? Ingin sehat dengan nutrisi terbaik hanya dengan mengganti sarapan? Atau ingin penghasilan tambahan?

Whatsapp: 0857.5113.6163

Telp: 0813.5131.5050

Pin BB: 75.618.b78

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s