Surat Untuk Mantan Kekasihmu :)

Sebelumnya, ulun mau minta maaf karena terbesit niat untuk marah. Tapi itu sebelumnya. Wallahi sebelumnya.

Dan mungkin juga bisa dikatakan mengambil resiko karena telah menghubungimu terlebih dahulu. Ulun nggak akan pernah tau apa tindakan yang akan pian lakukan setelah menerima pesan ini, membaca tulisan ini. Hanya saja, setidaknya semua yang ulun fikirkan sudah ulun tuang di sini. Mohon maaf karena redaksinya terlihat agak resmi. Karena beberapa tahun terakhir lebih banyak menulis non-fiksi daripada fiksi. Jadi mungkin bahasanya sedikit kaku🙂

Ulun nggak punya indra ke enam untuk tahu masa depan. Apakah pian akan bicara sana sini tentang ulun dan pesan ini atau bahkan diam sama sekali, ulun nggak pernah tau. Hanya saja ulun percaya. Percaya bahwa pian juga perempuan, sudah menjadi ibu, menjadi istri, dan menginginkan yang terbaik bagi keluarganya. Andai akhirnya pian akhirnya ‘memuntahkan’ semua uneg-uneg ini pada orang lain, apa boleh buat. Itu resiko ulun. Setidaknya, ulun sudah percaya dengan pian sebelumnya.

Ulun sudah tahu siapa pian. Sebagian masa lalu pian, terkait masa lalu pian dengan suami ulun. Secara personal mungkin belum pernah bertemu. Namun, semua cerita sudah di bagi suami ulun untuk langkah kami terbuka satu sama lain akan masa lalu sebelum menanjak ke hubungan yang lebih tinggi. Sebelum kami menikah.

Setiap orang memiliki masa lalu. Dan memiliki hak atas masa lalunya. Hanya saja, setiap rang juga memiliki porsi yang sama atas masa depannya, juga hal baik yang harus dilakukannya. Dan untuk menuju destinasi ulun yang berupa masa depan, ulun ingin mencoba tenang. Dan selalu back to Allah. Tapi sekarang ulun sedang hamil. Anak pertama kami, masa depan kami. Mungkin pian bingung. Namun, mungkin juga bisa sedikit mengerti tentang apa tulisan ini akan bermuara.

Sebagai istri yang mengetahui masa lalu suaminya, dan menginginkan kesehatan fikiran saat mengandung putranya, ulun memberanikan menulis ini. Ulun juga punya masa lalu. Ulun juga sudah membuka semua cerita di masa lalu ulun ke suami ulun. Kami sudah melakukan hal yang sama. Di masa lalu, mungkin pian sudah menghabiskan banyak waktu dan tahun bersama suami saya. Tapi itu masa lalu. Itu masa lalu. Ya. ulun tau pian juga banyak berkorban. Tapi ulun yakin pian juga sudah punya masa depan. Langkah ulun bersama suami mungkin belum sampai separuh waktu pian dengan sidin dulu. Namun, masa depan ulun dengan beliau akan berkali-kali lipat waktu yang pernah pian habiskan dengan sidin di masa lalu. Sampai kami tutup usia, sampai kami bertemu lagi di akhirat kelak.

Oke. Mungkin selanjutnya ulun akan menulis sedikit serius.

Lucu memang. Terlihat seperti istri yang pencemburu. Ya. Tentu cemburu. Tapi mungkin tidak akan berlebihan. Karena itu, saya tidak langsung marah dan bertindak nekat saat mengetahui kalian berdua masih terhubung di chat room messenger. Mungkin memang awalnya marah. Sangat marah. Namun, saya hanya berfikir positif bahwa terhubungnya kalian di aplikasi chatting itu, mungkin karena ingin menyambung tali silaturrahmi saja. Fine. Sampai titik itu saya bisa tersenyum. Tapi saya tidak tenang. Masih tidak tenang. Karena Allah, saya mencintai suami saya, menyayangi suami saya, dan percaya penuh pada suami saya. Hanya saja saya mengembalikan semua ke Allah. Mengembalikan semua penjagaan atas diri dan tingkah lakunya hanya pada Allah. Berdoa dan bertanya apa yang terbaik bagi hidup dan kehidupan saya, hanya pada Allah. Sampai pada suatu saat ia bicara ingin membeli batu yang entah apa itu darimu, yang pertama saya khawatirkan adalah kesehatan janin saya. Bukan diri saya pribadi. Karena kesehatan fikiran saya, akan sangat mempengaruhi kecerdasan emosional dan intelektual putra saya ke depannya. Dan saya sedikit tergelitik saat suami Anda bertanya siapa yang ingin membeli barang yang Anda jual, Anda diam. Anda malas meladeni pertanyaan itu. Bukan malah terbuka. Ya. Saya berfikir positif bahwa Anda tidak ingin ada gesekan atau apa lah itu. Sampai di situ saya terus berfikir positif walaupun hati tidak tenang.

Mungkin pemahaman kita tentang memposisikan dan memperlakukan suami berbeda. Bagi saya, suami saya adalah teman seumur hidup saya. Kakak saya, sahabat saya, pembimbing saya, teman bercanda saya, tempat mengadu saya, bla bla blaa.. Orang yang akan sayangi sepenuh jiwa raga. Orang yang akan saya beri dan persembahkan seluruh hidup dan kebahagiaan saya, pengabdian saya. Orang yang ingin selalu saya perhatikan. Orang yang ingin selalu saya rawat dan kasihi di sepanjang waktu saya. Orang yang ingin saya jaga dan perhatikan ketika Ia sakit. Orang yang ingin saya usap peluh dan khawatirnya saat jatuh dan kelelahan. Orang yang ingin saya bantu kesulitannya. Orang yang ingin saya peluk dalam kegundahan hatinya. Orang yang paling ingin saya lihat senyumnya di hidup saya. Orang yang ingin saya berikan seluruh cinta dan pengorbanan saya. Di dunia. Bukan hanya teman tidur saya.. Tetapi juga teman bahagia, sedih, dan marah saya..penenang saya. Lelahku, bahagiaku, tawaku, dan anakku, hanya untuk dia yang akan menjadi salah satu media baktiku.

Saya sudah memaafkan diri saya sendiri dengan segala kekurangan di diri saya. Mencoba menyadari dan mencari celah untuk memperbaiki banyaknya kekurangan itu. Yang pasti akan dibantu oleh suami saya. Saya selalu mencoba memaafkan orang lain sebelum mereka meminta maaf agar saya juga dapat dimaafkan saat berbuat salah. Menikah, bukan hanya dilakukan oleh dua orang yang ingin membangun keluarga kecil yang bahagia. Namun, juga pernikahan semua anggota keluarga kami berdua. Dua keluarga besar. Saya, sudah menerima itu semua sebelum mereka semua meminta. Saya, ingin hidup bahagia. Dengan suami saya, putra kami, dan seluruh keluarga kami.

Ya. Saya juga memiliki masa lalu. Karena itu, setiap saya melangkah, saya selalu memikirkan imam, anak, dan keluarga saya. Saya tidak ingin bersengaja terhubung dengan mantan-mantan kekasih saya yang mungkin akan menyakiti perasaan suami saya. Saya juga tidak secara sukarela untuk menyambung silaturrahmi dengan baik melalui chatroom baik itu lelalui bbm, whatsaap, dan banyak sekali media sosial lainnya walaupun saya mampu melakukan itu.

Ya. mungkin suatu saat jika saya bertemu masa lalu saya di suatu tempat, sedang sendiri atau bersama suami, saya akan berusaha senormal mungkin. Silaturrahmi di ruang terbuka umum, akan saya jalankan. Namun, secara individu, saya tidak ingin terhubung dengan laki-laki yang pernah sangat lama menjadi masa lalu saya. Sama halnya dengan kalian berdua yang memiliki banyak tahun di belakang untuk dihabiskan bersama. Hal yang sama juga saya inginkan untuk saya dapatkan dari suami saya.

Saya tidak sesukarela itu bertanya tentang siapa yang terlebih dahulu mengajukan hubungan pertemanan di messenger. Saya hanya berfikir positif bahwa itu dilakukan untuk tidak memutus hubungan silaturrahmi. That’s it. Itu saja. Hanya, saya merasa terganggu dengan itu. Silaturrahmi masih bisa dilakukan di ruang publik. Tidak harus terhubung dalam ruang bicara berupa aplikasi yang sifatnya pribadi seperti messenger.

Dan jujur, saya nggak pengen jadi perempuan frontal yang ambil ponsel suami dan delcon kontaknya, yang mana dalam kasus ini, pian.

Saya ingin nama Anda baik di hadapan suami saya. Tidak pernah sedikitpun ingin mengungkit tentang masa lalu yang pernah terjadi di antara kalian di hadapannya yang mungkin akan membuatnya tidak tenang. Karena itu saya yang dengan sukarela mencebyrkan diri untuk mengatakan ini.

Saya ingin Anda menghapus Aabi dari kontak messenger. Mungkin sebelumnya Anda bisa membuka pembicaraan terlebih dahulu untuk penghapusan itu. Nama Anda akan jauh lebih baik di mata suami saya. Karena saya memang tidak ingin membuat nama orang tercemar jika masih bisa diselesaikan secara pribadi seperti ini. Anda akan mendapat sedikit simpati ketika mengutarakan alasan penghapusan itu untuk menghargai saya. Karena masih ada ruang publik yang bisa dijadikan tempat bertemu. Tidak sendiri dan secara pribadi seperti pada messenger.

Ini diutarakan karena Anda seorang ibu, Anda seorang istri. Saya sangat menghargai pengorbanan seluruh hidup Anda untuk kebahagiaan keluarga Anda akan masa lalu yang pernah terjadi karena itu saya seperti ini. Tidak pernah terbesit fikiran untuk memandang buruk seseorang. Siapapun. Hanya terus berfikir positif bahwa: semua orang itu: baik. Tidak pernah ingin menyakiti siapapun. Saya menulis bukan karena saya lebih baik. Tapi saya menulis hanya untuk lebih simpatik.

Allah saja tempat saya meminta. Berdoa semoga pian mengerti, semoga pian memahami dan jauh berfikir logis akan keadaan ini.

Well.. Itu saja.

Semoga pian dan keluarga sehat dan dilimpahkan kebahagiaan juga rezeki yang tersedia selalu. Bahaagia dalam pencapaian cita dan mimpi pian. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk keluarga pian. Aamiin.

Mohon maaf kalau ada redaksi yang membuat pian nggak nyaman atau bahkan marah.

Sekali lagi ulun menegaskan bahwa ulun tidak sesukarela itu untuk ingin tahu siapa yang mengawali invitation di media messenger itu. Ulun hanya ingin hubungan silaturrahmi pian berdua tidak terhubung secara pribadi untuk kesehatan kecerdasan dan emosional ulun dan janin yang sedang bertumbuh ini. Semoga pian faham, semoga pian memahami. Juga tidak menjual batu itu ke suami ulun.

Ulun nggak masalah kalau harus terhubung dengan pian. Karena memang ndak punya masalah dengan pian. Namun, untuk suami ulun, ulun fikir kita sama-sama bisa menjaga perasaan satu sama lain🙂

Kesempurnaan hanya milik Allah, dan mungkin sampai sini aja unegunegnya.

Terima kasih yaa Ka. Terima kasih banyak ^_^

Semoga Pian, Rakha, dan keluarga sehat selalu. Semoga batu yang diinginkan Aabi bisa laku. Berlipat harga jualnya, segera terjual, dan tidak harus terbeli di tangan suami ulun. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan ridhonya dalam segala aktivitas kita, memberikan ijabah dalam setiap doa, dan memberikan segala kemudahan dalam urusan kita menuju kebaikan..aamiin

Salah dan khilaf mohon maaf. Ulun menulis seperti ini karena saya sayang Kakak sebagai sesama Muslimah yang punya ikatan sebagai sesama anak Adam. Ulun punya Allah, karena itu ulun berani menulis sampai seperti ini.

Selamat beristirahat, Kak..🙂

10.13pm

 

note: catatan ini real saya kirim melalui surel jejaring sosialnya Mark🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s